
"Kita sudah sampai. Turunlah" perintah Saksenya pada Laksmi.
Kedua orang itu disambut di gerbang istana oleh patih Mahesa.
"Masuklah, raja telah menunggu anda" ujar Patih Mahesa.
"Ah paman ini Laksmi dari Astapura. Dia ingin menyampaikan pesan dari putri Gayatri untuk raja Daneswara" ujar Saksenya pada Mahesa.
"Lewat sini" ajak Mahesa.
Mereka bertiga menuju tempat jamuan di mana keluarga kerajaan berkumpul.
"Lihatlah siapa yang datang" ujar Paramitha istri Raja Daneswara menyambut kedatangan Saksenya.
"Ibu" ujar Saksenya berlari memeluk seorang wanita yang balas memeluknya terharu.
"Akhirnya kita bertemu lagi" ujar Sonarika pada Laksmi.
Laksmi tergagap. Wanita di hadapannya adalah wanita yang menolongnya ke Dwipajaya.
__ADS_1
"Ibu mengenalnya?" tanya Saksenya.
"Tentu saja" ujar Sonarika mengedipkan sebelah mata pada Laksmi.
Mereka duduk bersama menikmati jamuan yang disediakan raja Daneswara.
"Raja saya ingin menyampaikan pesan dari Putri Gayatri" ujar Laksmi menyerahkan sebuah surat yang dilipat sedemikian rupa.
Raja Daneswara menggambil surat itu lalu pergi ke ruang kerjanya. Daneswara mengambil sebuah baskom yang ukurannya lebih besar dari kertas surat. Diisinya baskkm itu dengan air lalu merendam surat yang diberikan Gayatri.
Sebuah pesan, sekaligus peringatan jika waktunya tiba mereka harus segera menyingkir dari Dwipajaya.
Dirobeknya kertas tersebut lalu dihancurkan dalam air hingga kertas itu menjadi seperti bubur agar pesan Gayatri tidak terbaca.
Saksenya memeluk Sonarika melepaskan rasa kangennya. Sayang sekali susu yang di bawa ibunua dari Suballa tidak dapat dicicipinya. Menurut pengakuan ibunya, dia bertemu wanita yang kehausan di jalan dan sisanya sebagai oleh-oleh untuk Raja Daneswara yang telah membantu puteranya menjalankan tugas yang diberikan Sri Narendra.
"Bagaimana menurutmu wanita itu?" tanya Sonarika pada Saksenya sambil menatap Laksmi yang berjalan ke arah mereka.
"Mengapa ibu menanyakan hal itu?" tanya Saksenya curiga dengan raut genit ibunya.
__ADS_1
"Usiamu sudah matang, carilah pendamping yang akan mengurusmu. Aku tidak bisa mati dengan tenang jika belum melihat menantu dan cucuku" ujar Sonarika berpura-pura akan pingsan.
"Hentikan ibu. Masih banyak hal yang harus kulakukan" ujar Saksenya.
Sonarika memutar bola matanya tanpa minat. Kapan putranya tidak sibuk? dia adalah Raja sampai matipun akan selalu berkutat dengan tanggungjawabnya.
"Nyonya ...."
"Sebutan apa itu? sepanjang perjalanan kau memanggilku ibu kenapa sekarang memanggilku dengan sebutan aneh itu" ujar Sonarika memarahi Laksmi.
"Panggil aku ibu dan itu anakku. Kau telah meminum susu yang ku bawa sekarang lamarlah putraku" ujar Sonarika ketus.
"Jangan pikirkan ucapan ibuku!" ujar Saksenya cepat sambil melototi ibunya.
"Tenang saja, itu tidak ada dipikiranku" jawab Laksmi tak kalah cepat.
Ibunya membuang muka, melihat tingkah keduanya yang saling mendukung. Mengapa muda-mudi zaman sekarang susah sekali mencari pendamping. Apakah mereka menetapkan standar yang terlalu tinggi? omong kosong tentang kelas sosial manusia pada dasarnya mereka sama-sama mahluk yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka punya.
Lebih baik putranya menikahi wanita kelas rendah yang bisa menghargai apa yang diberikan putranya dibanding menikahi wanita dari kasta yang sama, yang tidak bisa bersyukur.
__ADS_1
Seperti itulah yang dia pikirkan tentang anaknya. Kehidupan putranya saat kecil sangat sulit. Dia kehilangan ayahnya di usianya yang sangat muda karena Suballa terbunuh dalam perang. Dia naik tahta di usia 15 tahun mengantikan ayahnya. Wajar saja Saksenya menyimpan trauma dan berusaha sebisa mungkin menghindari perang.
...----------------...