Dvesa

Dvesa
Perjalanan Laksmi (2)


__ADS_3

"Bangunlah, kita sudah sampai" ujar wanita tua itu pada Laksmi.


Laksmi mengucak-ngucak matanya sambil memperhatikan keadaan sekitar.


Hari masih gelap dan semua penumpang masih tertidur. Wanita itu sudah bersiap dengan kendinya dan bawaannya yang lain.


"Ayo" ajak wanita itu pada Laksmi.


"Tidak" ujar Laksmi sambil menggelengkan kepalanya.


Baru dua hari dia berada di dalam kapal ini, masih tersisa dua belas hari lagi untuk sampai ke Dwipajaya.


"Hey, jangan menatapku seperti itu. Bukankah sudah kukatakan bahwa tujuanku ke Nusantara" ujar wanita itu lagi sambil memaksa Laksmi untuk bergegas.


Laksmi menolak dan menjelaskan alasannya.


"Aku tidak akan membiarkan putraku meminum susu yang sudah basi. Bahan pengawet yang ku campur dalam susu ini tidak akan membuatnya bertahan lebih lama" ujar wanita itu lagi.


Suara kapal mulai berbunyi, bertanda sebentar lagi mereka akan bersandar di pelabuhan terdekat.


Wanita tua itu memaksa Laksmi turun sambil menyangga kendinya.


"Biar saya saja" ujar Laksmi pada wanita itu.


"Apa aku setua itu?" ujar wanita itu mengingagkan bahwa kendi itu hanya boleh disentuh olehnya.

__ADS_1


Tidak ada gunanya bertengkar dengan wanita paruh baya. Laksmi memutuskan untuk mengikuti wanita itu.


"Maafkan aku Rishi" batin Laksmi mengingat pesan terakhir Rishi.


Kedua wanita itu turun di pelabuhan dan berjalan kaki sekitar satu kilo dari pelabuhan. Mereka melewati pemukiaman warga dan tiba di depan sebuah rumah yang sudah reot.


"tok...tok..tok" ketuk wanita itu pada jendela rumah itu.


Wanita itu kembali mengetuk jendela tersebut, kali ini lebih berirama.


Jendela itu bergeser sedikit hanya memperlihatkan mata pemiliknya.


"Oh kami sudah siap" ujar suara seorang pria dia keluar dan mengajak kedua wanita itu ke belakang rumahnya. Dari sana mereka berkuda menuju sebuah sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah.


Mereka menaiki perahu kecil yang dijalankan dengan mesin.


Mereka berdua naik di temani oleh dua pria lainnya yang menjalankan perahu tersebut.


"Ini jalan rahasia menuju Nusantara" ujar wanita iti mengedipkan sebelah matanya pada Laksmi.


"Siapa anda dan mengapa anda menolong saya" tanya Laksmi.


Otaknya berpikir cepat. Hanya orang-orang tertentu yang punya akses rahasia seperti ini. Jika mereka bukan bangsawan, mereka pasti orang yang menjalankan bisnis ini.


"Aku wanita tua yang merindukan anakku. Tidak perlu alasan bagi manusia untuk menolong sesamanya" ujar wanita itu sambil mengelap susu yang merembes keluar kendi karena guncangan.

__ADS_1


"Nyonya kita belum berkenlan sejak pertama bertemu saya..."


"Hentikan!" ujar wanita itu menghentikan kalimat Laksmi.


"Kau boleh saja memiliki 1000 nama, namun paras dan sikapmulah yang menjadikan patokan bagiku untuk mengenalmu" ujar wanita itu lagi.


"Terima kasih" ujar Laksmi lagi.


"Aku yang seharusnya berterima kasih. Tanpa kehadiranmu, perjalanan terasa membosankan"


Perjalanan mereka berlangsung kurang dari satu minggu dan tibalah mereka memasuki kawasan Nusantara.


"Ke mana tujuanmu?" tanya wanita itu lagi.


"Saya turun di penginapan terdekat" ujar Laksmi menolak untuk di turunkan dekat pelabuhan Dwipajaya.


"Baiklah. Aku tidak punya sesuatu yang berharga untukmu. Ini minumlah" ujar wanita itu menyerahkan sebuah muk berisi susu dari kendi itu.


Laksmi menolaknya.


"Minumlah. Susu ini baik untuk perkembangan bayimu" ujar wanita itu membuat Laksmi semakin terkejut.


"Kau gadis yang mereka cari di pelabuhan" ujar wanita itu tenang.


Laksmi tergagap, apa ini hukuman karena dia melanggar larangan Rishi?

__ADS_1


"Jangan sampai mereka mengenalimu" ujar wanita itu sebelum meninggalkan Laksmi.


...----------------...


__ADS_2