
"Bansheer apa yang telah kau lakukan pada besanku" tanya Sri Narendra murka.
"Tuan, duduklah. Aku akan jelaskan masalahnya" ujar Bansheer tenang.
Bansheer menjamu Sri Narendra di ruang kerja Daneswara. Dia mengenakan mahkota, jubah, dan tongkat Daneswara.
Bansheer meletakkan mahkotanya perlahan dan kubah yang dia kenakan. Dia duduk sambil menuang anggur ke cawan Sri Narendra.
"Berawal dari makan malam di Jiwang aku mengundang ketiga raja Jaya untuk merayakan keberhasilanku mengelola Jiwang. Dua hari kemudian, Jayamangala ditemukan tewas di kamarnya. Adik bungsunya mengecam Jayaswara karena sehari sebelumnya mereka dijamu di rumah Jayaswara membicarakan Hagai Khan. Perang saudara tidak terelakan. Jayaswara membakar dirinya lewat api suci".
Sri Narendra sudah mendengar bagian itu, tidak ada perbedaan antara cerita Bansheer dan informasi yang sampai ke telinga nya.
"Sejak hari itu Jayanegara* dihantui rasa bersalah. Dia menjadi gila dan memanggilku ke istana. Dia menitipkan tiga Jaya padaku karena tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Setelah hari itu, kami mendapat kabar Jayanegara mengakhiri hidupnya".
Sri Narendra meneguk anggurnya sambil menunggu cerita selanjutnya.
__ADS_1
"Hari itu tiga Jaya berduka, kami mendoakan abu kedua saudara itu kuil tiga jaya, karena abu saudara pertama telah ditebarkan di samudra. Daneswara dan kedua patihnya menuduhku membunuh tiga jaya. Bagaimana mungkin aku melakukan perbuatan tercela itu? aku berada di Jiwang sepanjang hari mengawasi persemaian bibit baru. Semakin ku diamkan semakin Daneswara berulah. Dia mengirimkan orang memata-mataiku sambil menghasut warga tiga jaya. Kesabaranku telah habis baginda. Aku menghancurkan Dwipajaya demi membela keadilan dan harga diri Astapura yang telah dilecehkan"
Sri Narendra mengawasi tingkah Bansheer selama pria itu bercerita. Licik dan tidak tahu diri. Dua kata yang pas untuk mendeskripsikan Bansheer.
"Tenang saja Baginda, aku pastikan tidak ada satu saksi pun yang selamat"
Sri Narendra menarik kursinya mendekat ke arah Bansheer. Dia mencondongkan tubuhnya menatap kedua mata hitam Bansheer.
"Jika dimasa depan terjadi pertikaian yang berhubungan dengan peristiwa ini, maka kaulah yang harus bertanggungjawab"
Sri Narendra mengundang Siddarth dan Gayatri ke ruang rahasianya. Dia menceritakan kembali peristiwa yang menimpa Dwipajaya versi Bansheer. Gayatri tahu cerita itu pasti telah diputar balikan agar ayahnya menjadi pihak yang bersalah demi membenarkan keserakahan Bansheer.
Gayatri memejamkan matanya mendengar kata demi kata dari mulut mertuanya. Dia membayangkan ayahnya sedang berjuang menghalau musuh sembari ibunya melakukan ritual api suci.
Semoga Dewa memberi keadilan bagi jiwa yang tak bersalah. Semoga tanah Dwipajaya, tiga jaya, dan seluruh alam yang menyaksikan peristiwa itu menghukum para penjajah di tanah Dwipajaya.
__ADS_1
Doa Gayatri dalam hati. Bahkan air matanya pun sudah tak sanggup untuk keluar yang tersisa di hatinya hanya amarah. Namun dia teringat sumpahnya bahwa dia tidak akan menangis dan akan mengabdi pada Siddarth seumur hidupnya.
"Putri Gayatri, aku telah mendengar berita tentang orang tua anda. Aku turut berduka" ujar Jhanvi yang datang bersama Rishi.
"Terima kasih" ujar Gayatri.
"Siddarth boleh bersama anda selama masa berkabung" ujar Jhanvi.
Gayatri menyipitkan matanya menatap Jhanvi yang sibuk mengelus perutnya.
"Jhanvi, hanya karena kau hamil bukan berarti Siddarth ada di bawah kuasamu. Aku tetaplah istri sahnya. Jaga ucapanmu saat kau berhadapan denganku" sindir Gayatri.
"Kita lihat saja, apa dia masih bisa bersikap sombong setelah ini" bisik Jhanvi
...----------------...
__ADS_1