
Kapal yang ditumpangi Bansheer dan para pekerja telah berlayar menuju Dwipajaya. Bansheer memerintahkan para prajurit melepaskan ikat kaki para pekerja. Sebelum
berangkat Siddarth berpesan pada Bansheer, jika mereka telah tiba di tengah
laut para pekerja dibebaskan dan diperintahkan agar menjalankan kapal bersama nahkoda.
Bansheer sanksi mendengar pesan Siddarth. Nyatanya sebagian besar dari mereka adalah pekerja paksa yang diambil dari daerah jajahan. Mereka bisa saja nekat melompat ke tengah laut.
Ikat kaki mereka telah di lepaskan, lalu Bansheer memerintahkan agar penutup mata mereka tidak boleh dilepas dan ikatan tangan mereka terjalin satu dengan yang lain, agar mereka tidak kabur.
Waktu makan tiba, para pekerja diberi aba-aba oleh prajurit agar mereka dapat makan dengan tertib. Setelah makan mereka diperintahkan untuk mengitari ruangan kapal sebanyak seratus kali. Hal itu Bansheer perintahkan agar otot dan sendi-sendi para pekerja tidak kaku saat tiba di Dwipajaya.
Setelah perjalanan panjang akhirnya mereka tiba di Dwipajaya.
Raja Daneswara menawarkan agar rombongan mereka beristirahat sebelum berangkat ke Jiwang, tanah yang disepakati namun Bansheer menolak. Bansheer ingin rombongannya segera menuju Jiwang dan beristirahat di sana.
Tanpa buang-buang waktu, mereka segera menggiring pekerja menuju Jiwang.
__ADS_1
“Kami sudah mendirikan kemah, silahkan anda dan rombongan beristirahat” ujar Raja Daneswara pada Bansheer.
Bansheer membiarkan para pekerja diatur oleh prajurit Astapura, sedangkan dirinya
melihat-lihat lahan yang telah bersih dan digembur tersebut.
Tanah tandus ini berada di dataran
tinggi. Sumber air terdekat letaknya 10 mill dari sini. Dua puluh lima pekerja yang aku bawa, tidak cukup. Aku harus membagi mereka untuk menanam, mengairi,
dan merawat. Membangun bendungan rasanya mustahil. Cuaca di sini panas, musim hujan hanya terjadi pada bulan ke sembilan hingga bulan ke dua belas. Selama musim kemarau jika tidak diari dengan benar, tanaman yang sudah di tanam akan sia-sia batin Bansheer sambil
Bansheer mulai menganalisa sistem pengairan yang cocok untuk lahan tersebut. Letak sumber air berada di dataran yang lebih rendah dari Jiwang. Ide mengairi dengan sambungan bilah bambu segera Bansheer coret dari catatan yang telah dia dan Siddarth susun. Bansheer juga mencoret dua bendungan yang rencananya akan mereka bangun. Bagaimana jika bendungannya di ganti dengan kolam? Bansheer mulai berandai-andai dengan idenya.
Malam itu setelah semua pekerja di beri makan, ikatan tangan dan penutup mata mereka telah di lepas. Mereka menatap sekeliling tempat yang tampak asing.
“Di mana ini?” bisik mereka satu dengan yang lain.
__ADS_1
Mereka melihat wajah-wajah asing berjaga-jaga di tempat tersebut.
“Saat ini kalian sedang berada di Nusantara, tepatnya di Kerajaan Dwipajaya. Raja Dwipajaya telah menikahkan anaknya dengan Pangeran Siddarth dan memberi hadiah sebidang tanah untuk Astapura. Sekarang tugas kalian adalah mengolah lahan ini ini, agar dapat ditanami palawija. Setelah lahan ini menghasilkan uang, kalian akan di bayar. Masing-masing akan mendapatkan seratus keping emas” ujar Bansheer memberi pengumuman.
“Seratus keping emas?? Satu keping saja kita mampu membeli satu hektar tanah dan lima budak”
“Seratus keping kita akan menjadi dewa uang” Bisik sesama
pekerja dengan mata berbinar-binar.
“Tuan bagaimana dengan keluarga kami?” tanya salah seorang pekerja.
“Jangan khawatir, kami menjamin keluarga kalian. Mereka tidak akan kelaparan” ujar
Bansheer lagi.
Para pekerja bersuka ria mereka tidak sabar menanti upah yang akan mereka dapatkan.
__ADS_1
...----------------...