
Istana Astapura sedang bergembira, hari ini genap tujuh bulan Jhanvi mengandung. Tabib Istana mengumumkan bahwa 80% kemungkinan bayi yang dikandung Jhanvi adalah seorang anak laki-laki. Lengkaplah sudah kebahagiaan Siddarth dan Jhanvi. Ibu Suri, Laksita, dan Gayatri bergantian memberi berkat kepada rahim Jhanvi. Tangan Gayatri bergetar, wajahnya kaku, dia berusaha tersenyum menyaksikan kilasan puas di mata Jhanvi.
“Apa kau baik-baik saja” tanya Saksenya.
Saksenya datang bersama ibunya Sonarika yang memaksa turun dari Kashmir. Wanita paruh baya itu terus menceramahi Saksenya sepanjang perjalanan menuju Astapura dan sepanjang upacara tujuh bulan itu.
“Tidak” jawab Gayatri tegas.
“Biarkan aku membantumu balas dendam” tawar Saksenya langsung.
“Tuan, aku menghargai bantuanmu beberapa waktu lalu bukan berarti aku membiarkanmu ikut campur urusan pribadiku. Aku harap kau paham bahwa aku adalah istri Siddarth, putra mahkota Astapura. Jaga sikapmu, aku tidak ingin terlibat skandal”
Lidah Saksenya kelu. Dia tidak dapat berujar satu katapun. Kalimat Gayatri telah meruntuhkan usahanya untuk mendekati wanita yang sejak lama mencuri perhatiannya.
__ADS_1
Bodoh! umpat Saksenya pada dirinya sendiri. Dia menatap wajah memelas Gayatri yang mendambakan perhatian Siddarth sedangkan Siddarth sibuk bercengkrama dengan calon bayinya di perut Jhanvi. Apa menyukai seseorang harus sesakit ini? perih mengelitik hatinya tanpa bisa Saksenya cegah. Rasanya menyakitkan namun Saksenya suka sensasi menyakitkan dalam dadanya.
“Ayo pulang, dramanya sudah selesai” ujar Sonarika pada putranya yang tampak benggong.
“Ibu harap kau sadar bahwa kesetiaan seseorang tidak dapat diukur, tanpa batas, dan hanya dia sendiri yang bisa memutuskan. Wanita itu cocok dengan sifatmu namum kau harus tahu, dia wanita bersuami. Hilangkan pikiran konyolmu pada Gayatri” ketika nama Gayatri disebut, Saksenya tersentak. Ibunya menyadari sikapnya pada Gayatri padahal kedua wanita itu baru saja bertemu di acara ini.
“Wah aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat ini” Sanjana dan pelayan lainnya mulai berkumpul sambil menyaksikan tamu-tamu yang ada di acara itu.
“Aku tidak begitu menyukai Putri Gayatri, namun melihat sikapnya selama ini membuatku salut. Aku mengakui ketegaran hatinya” ujar Sanjana.
Rupika diam-diam membenarkan ucapan Sanjana. Meskipun tampak dingin dan kaku, belum pernah sekalipun Gayatri bergosip atau merendahkan orang lain. Gayatri tidak pernah melakukan cara yang kotor untuk menyingkirkan Jhanvi sekalipun Jhanvi mengusiknya.
“Oh Dewa berilah Putri Gayatri kekuatan untuk melewati semua ini” doa Rupika dalam hati.
__ADS_1
“Nyonya, kudapanmu sudah datang” ujar Rupika menghidangkan kudapan malam untuk Gayatri.
“Kalian berdua duduk dan makanlah” perintah Gayatri pada Rupika dan Gunjana.
Gayatri mulai bercerita.
“Dahulu kala di negeri entah berantah, hiduplah raja yang adil beserta keempat putrinya. Satu persatu putri raja telah dinikahkan dengan pangeran dari berbagai negeri. Tibalah saatnya bagi sang raja menikahkan putri bungsunya. Dalam doanya si bungsu selalu meminta pada Dewa agar dinikahkan dengan pangeran tampan, berwibawa, kuat, dan mencintai keluarganya. Dewa mengabulkan doanya, suaminya adalah pria paling tampan yang pernah dia temui, dan memiliki semua kriterianya namun si bungsu lupa meminta satu hal. Dia lupa meminta agar Dewa memberikan pria yang hanya mencintainya.
“kenapa si bungsu lupa? bukankah orang yang mencintai kita adalah hal yang paling pertama kita minta?” potong Rupika cepat.
“Si bungsu bodoh dan naif. Ketiga saudaranya jatuh cinta pada pandangan pertama dalam perjodohan keluarga, dia pikir hal yang sama berlaku padanya”
“Kemudian apa yang dilakukan si bungsu?” tanya Rupika.
__ADS_1
“Entahlah…” ujar Gayatri menghela nafas.