
Siddarth berlari menghindari terjangan Virbadra. Dia bersembunyi di balik pilar-pilar kuil sambil bernafas sebentar menormalkan irama detak jantungnya.
"Siddarth Putra Sri Narendra! tunjukan wajah pengecutmu!" ujar Virbadra marah.
Dia melemparkan salah satu pedangnya persis di pilar tempat Siddarth bersembunyi.
Siddarth yang meras posisinya terancam, terus melarikan diri hingga masuk ke dalam kuil.
Bagaimana caranya aku menghancurkan raksasa ini batin Siddarth. Tenaganya hampir habis. Siddarth berusaha realistis, perbedaan fisik diantara mereka terlalu jauh. Sekuat apapun Siddarth berusaha menghajarnya, tidak akan mempan untuk Virbadra.
"bugh!" bunyi sebuah benda yang menghantam pilar.
Siddarth berusaha mengintip
"bugh" ayunan gada Virbadra hampir meremukan wajahnya.
"Sial!" umpat Siddarth.
Siddarth terus berlari hingga tiba di dekat patung raksasa Virbadra dalam kuil itu.
Siddarth bersembunyi di balik patung itu. Mungkin saja Virbadra akan merasa sayang menghancurkan patung emasnya.
"bugh" Virbadra kembali mengayunkan gadanya. Dia tidak peduli jika patungnya rubuh yang terpenting adalah penggalan kepala Siddarth yang akan dia kirim untuk Sri Narendra karena berani mengusiknya.
"Mau kemana kau" ujar Virbadra melihat Siddarth terdesak. Tubunya terhimpit diantara patung dan dinding. Tidak ada jalan untuk meloloskan diri.
__ADS_1
Virbadra mengayunkan gadanya ke arah kepala Siddarth. Siddarth berhasil menghindar. Gada itu menghantam dindjng kuil. Siddarth memanfaatkan kedaan tersebut. Dia menahan gada itu dengan kedua tanganya lalu berayun ke depan. Kedua kakinya menghantam tempurung lutut Virbadra.
Virbadra melepaskan cengkraman gadanya dan terdorong mundur.
Dia menatap kedua lututnya yang kotor karena tendangan Siddarth. Pedang yang tadi disarungkannya di cabut dan diayunkan ke arah wajah Siddarth.
Siddarth menghindari serangan itu hingga tiba pedang Virbadra berhasil menggores punggungnya.
"argghhhh" Siddarth tertunduk sambil merintih.
Melihat keadaan menyedihkan Siddarth, Virbadra tertawa terbahak-bahak.
Siddarth memegang luka robeknya, merasakan darah segar yang mengalir dari punggungnya.
Bau amis darah memenuhi indra penciumannya.
Virbadra tersenyum sinis. Dia mengikuti jejek darah Siddarth yang menetes di sepanjang jalan.
Tibalah Virbadra pada jejak darah terakhir. Masih beberapa langkah lagi menuju patungnya namun jejak darah Siddarth menghilang.
Virbadra mengayunkan pedangnya ke segala arah sambil menatap was-was setiap sisi tubuhnya.
"kretek" bunyi halus pilar yang patah mengalihkan perhatian Virbadra. Dia menoleh ke asal suara.
"arghhhhhhhhghhhhh" Virbadra melolong panjang.
__ADS_1
Siddarth menerjangnya dari atas patungnya. Dia menghujamkan senjata terakhir yang dia punya. Belati yang telah diolesi racun ke dalam mata Virbadra. Tidak puas dengan satu mata Siddarth menghujam belati itu berkali-kali ke leher, dada dan perut Virbadra.
Virbadra menggelepar kehabisan darah.
"Tuan hentikan, dia sudah mati!" parjurit baru dari Astapura datang menolongnya. Dia menarik Siddarth dari atas tubuh Virbadra.
Melihat Siddarth yang berlumurab darah mereka segera menolongnya dan membalut lukanya.
Wajah Siddarth dipenuhi darah dan keringat bercampur debu.
"Air" perintah Siddarth.
Prajurit mengeluarkan sebotol kecil air dari pinggangnya dan menyerahkan pada Siddarth.
Dia mengambil air tersebut lalu meminumnya hingga sisa air tersebut membasahi dadanya.
Siddarth berusaha berdiri dia menarik paksa mendera Astapura yang di bawa prajuritnya.
Dia memenggal kepala Virbadra menancapkannya di tempat tertinggi di kuil itu dengan bendera Astapura berkibar di seluruh bentengnya.
"Hidup Mahadewa!" teriak Siddarth diikuti seluruh prajuritnya.
"Hidup Mahadewa, hidup Mahadewa!"
Mereka bersorak atas kemenangan itu.
__ADS_1
...----------------...