
"Hai sahabat, sahabatku apa kabar kalian" ujar Bansheer sore itu. Dia datang ke kerajaan Jayabaya bersama Piyush membawa hadiah untuk raja Jayaswara.
Raja Jayaswara menyambut Bansheer dengan wajah tegang. Ditelannya ludah berkali-kali sambil meyakinkan dirinya bahwa iblis kerja paksa di hadapannya tidak membuat masalah.
"Ah ya, sahabatku sudah lama aku tidak melihat wajahmu" ujar Jayaswara.
"Sepanjang hari aku berada di Jiwang, baru hari ini aku bisa sedikit bersantai"
"Kedatanganku kesini untuk mengundang anda ikut bergabung pada pesta besok di Jiwang. Aku baru saja membeli budak" ujaf Bansheer sambil tersenyum lebar.
"Ada banyak anggur dan kesenangan di sana. Asli Hindustan. Jangan sia-siakan kesempatan ini" bisik Bansheer licik.
Mendengar kata anggur Hindustan membuat Jayaswara bersemangat. Dia membayangkan rasa anggur ranum yang akan memenuhi tenggorokannya.
"Saudaraku, kau memang yang terbaik" ujar Jayaswara memeluk Bansheer.
"Aku akan sampaikan kabar bahagia ini pada Jayamangkala dan Jayakarsa" ujar Jayaswara menyebut nama kedua saudaranya.
Bagus, memang itu yang aku inginkan.
Bansheer tersenyum licik. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Piyush.
"Raja Jayaswara terimalah hadiah ini, jangan melihat ukuran dan harganya tetapi persaudaraan antara kita"
__ADS_1
Hahahahah
Mereka bertiga tertawa.
"Baiklah kami pamit, masih banyak hal yang harus kami selesaikan hari ini" pamut Bansheer.
"Hati-hati saudaraku, persiapkan pesta yang meriah" teriak Jayaswara mengiringi kepergian Bansheer dan Piyush.
"Kau dengar ucapan si bodoh itu? persiapkan pesta yang tidak akab dia lupakan selama hidup" ujar Bansheer. Mata coklatnya membesar memikirkan rencana paling bagus untuk pesta nanti.
Mereka berdua telah tiba di Jiwang tampak budak yang baru dibeli sangat bersemangat bekerja di Jiwang.
"Hey kalian, makanlah! hari ini dan besok kita akan bersuka ria" teriak Bansheer.
Para pekerja mengerumuni bakul-bakul makanan lalu membawa makanan sebanyak mungkin. Mereka saling menginjak dan memukuk satu sama lain.
Piyush mengangguk membenarkan perkataan Bansheer.
"Perintahkan mereka membangun tenda. Kita akan kedatangan tiga raja dari utara, timur, dan barat"
"Lalu bagaimana dengan raja yang di selatan tuan?" tanya Piyush.
"Aku sendiri yang akan datang menghadapnya" Bansheer menatap ke arah lembah Wilisgiri murka.
__ADS_1
Keesokan sorenya ketiga raja yang diundang Bansheer telah duduk di tempat yang telah mereka persiapkan. Bansheer menyuguhkan hidangan lezat.
Bansheer juga membuat pertunjukan khusus dari budak Persia, Lebanon, dan Mesir yang dibelinya. Lima orang lelaki dipilihnya secara acak dan didandani layaknya wanita.
Budak-budak itu mengenakan atasan yang memperlihatkan perut mereka, tudung kepala, rok lebar dan gelang kaki. Kemanapun mereka melangkah gelang kaki itu ikut berbunyi.
"Luar biasa, luar biasa. Anda yang terhebat tuan" ujar Jayaswara memuji Bansheer.
Jayamangkala mengalihkan pandangan dari penari-penari itu. Dia menatap tanaman-tanaman yang siap dipanen. Minggu lalu pertama kalinya hujan di Jiwang. Dari gosip yang Jayamangkala dengar, Bansheer mempersembahkan darah pekerjanya untuk menyenangkan para dewa.
Dewa mana yang Bansheer sembah sampai rela meminum darah pemujanya? Bansheer berbakti kepada iblis, bukan dewa batin Jayamangkala.
"Hey saudara, mana anggur yang kau janjikan" bisik Jayaswara di tengah pesta.
"Ah ya, aku hampir lupa. Piyush bawakan kemari sebuah anggur baru"
Piyush datang membawa tiga botol anggur terbaik dan masih disegel.
"Biar aku saja yang menuangkannya" ujar Jayaswara bersemangat.
Jayaswara membuka tutup botol tersebut dan menuangkannya ke keempat cawan yang ada di meja itu. Dia membagi-bagikan cawan itu kepada masing-masing orang.
"Mari bersulang atas kesuburan Jiwang" ujar Jayaswara.
__ADS_1
Mereka berempat meminum anggur tersebut.
...----------------...