
"Bukankah tindakanmu keterlaluan?" tanya Jhanvi saat Gayatri pergi.
"Aku memberinya saran terbaik dan dia menolaknya" ujar Siddarth.
"Hahaha putri Gayatri pasti berpikiran yang sama denganku. Astapura tidak kekurangan pelatih pedang yang handal, kenapa kau memilih orang yang baru sehari tinggal di sini?" jelas Jhanvi.
"Semua ilmu pedang adalah sama. Tidak melihat dari mana dia datang tapi pengetahuan, kemampuan dan pengalaman" Siddarth membantah Jhanvi.
"Persaingan antara wanita sudah ada sejak kami dilahirkan. Ku harap kau memahami bagian ini. Datang padanya dan tanya apa kebutuhannya" saran Jhanvi.
Siddarth mengikuti saran Jhanvi. Dia menemui Gayatri yang sedang menyulam di benteng bangsal.
"Sudah lama aku tidak ke tempat ini"
Gayatri tidak mengalihkan pandangan dari sulaman yang sedang dia buat.
"Guru seperti apa yang kau butuhkan, akan aku carikan sesuai dengan keinginanmu"
Gayatri dapat menebak, kedatangan Siddarth pasti saran Jhanvi. Siddarth termasuk pria keras kepala yang teguh pendirian. Gayatri semakin menyadari bahwa sejak kedatangan Jhanvi, sejak melihat senyum dan tatapan penuh kasih pada Jhanvi, Gayatri kalah telak.
Siddarth memilih Jhanvi dengan hatinya, sedangkan Gayatri adalah pilihan untuk berbakti pada ayahnya.
__ADS_1
"Tidak usah. Aku tidak menginginkan guru pedang lagi. Mungkin tidak ada guru yang cocok untukku" ujar Gayatri tenang.
"Aku tidak mengerti dengan persaingan antara wanita. Kalian berdua adalah orang yang kupilih langsung untuk berada di sisiku".
"Gayatri, aku tidak bisa meninggalkan Jhanvi sama seperti aku ingin memilikimu. Katakan apa yang kau inginkan, jangan diam saja. Aku bukan dukun yang bisa membaca maksud perkataanku. Katakan dengan jelas maumu".
"Maafkan aku. Karena sikap kekanak-kanakanku, aku membuat keputusan berdasarkan emosiku. Aku tidak merasa tersaingi dengan siapapun. Lagi pula, kau dan Jhanvi cocok. Kalian saling melengkapi" ujar Gayatri.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Siddarth. Dia merasa kata-kata Gayatri seperti menyiratkan sesuatu.
"Ya, memangnya aku kenapa?" tanya Gayatri.
"Kau cemburu?" selidik Siddarth.
"Sikapmu membingungkan" ujar Siddarth.
"Bicaramu juga berputar-putar. Ini Hindustan, bukan Nusantara. Katakan apa yang ada di kepalamu, tidak usah memikirkan perasaan orang lain"
"Baiklah aku katakan dengan jelas. Aku tidak perlu guru untuk belajar pedang dan aku cemburu. Ada lagi yang ingin kau perjelas" tanya Gayari.
Siddarth tertawa. Sulit sekali menebak wanita dan dunianya.
__ADS_1
"Sekarang aku perjelas. Kau tidak butuh guru. Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak cemburu?" Siddarth terbahak-bahak.
Gayatri menunggu hingga Siddarth selesai dengan tawanya.
"Tidak ada yang perlu kau lakukan. Perasaan ini akan hilang dengan sendirinya, aku hanya tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini"
"Ya, ya, terserah kau saja. Aku ingin bilang besok kami harus keluar dari istana dan tinggal beberapa lama, di dekat pelabuhan agar informasi yang kami terima sampai lebih cepat" ujar Siddarth.
Gayatri mengangguk paham.
"Barang-barangku sudah dipersiapkan Jhanvi dan ibuku. Ah satu lagi, Jhanvi ingin bertemu denganmu ada yang ingin dia katakan. Kalau kau tidak keberatan aku akan menyuruhnya ke sini" ujar Siddarth menunggu persetujuan Gayatri.
"Suruhlah dia ke sini"
Beberapa saat kemudian…
"Salam tuan putri" ujar Jhanvi memberi hormat.
"Salam" jawab Gayatri
Semua pelayan dan prajurit yang ada di sekitar mereka segera meninggalkan tempat itu. Gayatri mempersilahkan Jhanvi duduk di hadapannya.
__ADS_1
...----------------...