
Bansheer melihat undangan penobatan yang dikirim kepadanya. Undangan itu dihiasi tinta emas, diukir di atas kertas terbaik. Pembungkusnya terbuat dari sutra dan yang disulami ruby - ruby kecil di sisinya.
Apa Siddarth sebahagia itu sampai mempersiapkan hal sedetail ini? bahkan saat pertama menikah dia terlihat tidak peduli dengan urusan semacam ini. Bansheer juga mendengar Gayatri akan mempersembahkan tarian di hari penobatan, penghinaan yang sempurna.
"Apa pendapat anda tuan?" tanya Piyush memancing Siddarth.
"Gayatri tidak akan melakukan apapun. Saat kematian orang tuanya dia tidak bergerak sedikitpun, aku dengar dia melarikan diri dari Karmanagar dan berdoa di kuil. Hanya itu yang bisa wanita itu lakukan. Tidak ada pihak yang membelanya" ujar Bansheer.
"Aku mengenali Gayatri sebagai putri penurut yang cerdas. Mungkin saja dia telah membuat rencana kecil" gumam Bansheer lagi.
"Anda tidak boleh melewatkan kesempatan langkah ini tuan. Anda harus menyaksikan pertunjukan yang menarik di hari penobatan" Piyush bersemangat.
"Kekayaanku disini lebih berharga dibanding duduk menyaksikan drama keluarga yang tak ada habisnya. Aku akan memperkuat posisiku selagi Astapura berbahagia" ujar Bansheer sambil mengelus kursi tahtanya.
Kedua pria itu saling berpandangan lalu terbahak menantikan hari kejatuhan Astapura yang telah mereka rencanakan sejak beberapa bulan lalu.
"Sampai di mana persiapan kita?" tanya Bansheer.
__ADS_1
"Sudah selesai, dapat dipakai kapan saja" Piyush menyungingkan senyum liciknya.
...****************...
"Nyonya istirahatlah" ujar Rupika. Dia memberanikan diri menemui Gayatri. Rupika menyerahkan sebuah belati. Gayatri tampak bingung.
"Ada surat di balik sarung belati itu" ujar Rupika sembari memegang tangan Gayatri. Beberapa detik kemudian Rupika pergi dari hadapannya.
Gayatri masuk ke kamar dan segera membuka belati itu. Surat dari Saksenya. Belati itu adalah belati yang diberikan Rishi pada Laksmi dan Laksmi menyerahkan belati itu Saksenya dia berpesan saat belati itu tiba ke tangan Gayatri maka Laksmi telah berlayar kembali ke Astapura.
Seketika teringatlah Gayatri akan orangtua angkat Siddarth di Tamilnadu. Kalau intuisinya tidak salah, Laksmi pergi menemui kedua orang tua angkat Siddarth. Saat bersama Laksmi orang tua angkatnya berpesan agar Siddarth menikahi Laksmi menjadikannya selir dan harus mengundang mereka untuk memberkati pernikahan itu. Itu bukan permintaan melainkan sumpah. Pernikahan mereka tidak mengundang kedua orang tua itu hingga berakhir diujung tanduk.
"Nyonya bolehkah aku masuk?" sebuah suara memanggilnya.
"Masuklah" ujar Gayatri.
Rishi muncul dari balik tirai dengan tumpukan pakaian berada di tangannya. Tanpa sengaja mata Rishi tertumbuk pada belati yang ada di tangan Gayatri.
__ADS_1
"Nyonya, dari mana anda mendapatkannya?"
"Laksmi" ujar Gayatri.
"Di mana dia nyonya, di mana" Rishi menggoyangkan badan Gayatri meminta penjelasan.
"Tidak tahu" Gayatri mengabaikan wajah panik Rishi.
"Kau adalah ayah anak yang dikandungnya?" tanya Gayatri.
"Demi Dewa, aku bukan ayahnya" ujar Rishi sembari menurunkan celananya.
Gayatri kaget. Dia tidak menyangka Rishi telah disunat habis. Gayatri pernah mendengar kisah semua pelayan lelaki di Odisa dan bangsal wanita tidak memiliki ******** sejak akil baligh pertama, mencegah tidak terjadi pelecehan di kedua tempat itu.
"Apa Siddarth ayahnya" tanya Gayatri panik.
"Bukan!" bantah Rishi.
__ADS_1
"Kalau dia masih hidup anda bisa bertanya langsung padanya" Rishi segera pamit, dia terlalu lama di tempat itu. Sebelum pamit Gayatri mendengar Rishi bergumam dia ada di pihak Gayatri.
...----------------...