Dvesa

Dvesa
Menculik Pekerja


__ADS_3

Bansheer mengumpulkan kelompok kecil prajurit berjumlah sembilan orang, yang dia pilih sendiri untuk berangkat ke Karmanagar. Mereka mengenakan baju rakyat biasa dan menyamar agar tidak dikenali sebagai prajurit Astapura. Senja nanti mereka akan berangkat menuju Karmanagar dalam tiga kelompok yang melewati jalan berbeda.


Ada banyak jalan pintas menuju Karmanagar yang biasa dilalui penduduk Astapura. Jalan pintas ini dibuat untuk mempermudah distribusi palawija. Perjalanan memakan waktu kurang


lebih empat jam dari istana.


Sesampainya di Karmanagar, kelompok –kelompok kecil tersebut berkumpul di satu titik yang telah disepakati untuk mengintai pekerja Karmanagar.


“Beberapa waktu ini banyak pekerja yang bersantai-santai karena tidak banyak hal mereka lakukan. Kita harus menunggu waktu makan malam untuk membawa mereka secara sembunyi-sembunyi” Bisik Bansheer pada kelompok prajuritnya.


Sebelum datang ke Karmanagar, Siddarth telah mengirim surat kepada kepala penjaga agar membantu Bansheer mengamankan para pekerja. Kepala penjaga hanya perlu menerima aba-aba dari Bansheer, kapan mereka harus bergerak.


Jumlah seluruh pekerja di Karmanagar adalah seratus orang. Saat hama menyerang, dua puluh lima pekerja


meninggal secara beruntun dalam waktu satu bulan. Yang tersisa sekarang


hanyalah tujuh puluh lima pekerja, masing-masing kelompok berisi dua puluh lima orang yang bekerja bergantian dalam tiga shift.


“Tuan, sudah waktunya makan malam” bisik salah satu prajurit Bansheer yang bertugas sebagai penghubung antara Bansheer dan kepala penjaga.

__ADS_1


“Persiapkan diri kalian” perintah Bansheer.


Mereka menutup kepala dengan baju yang mereka kenakan. Lima prajurit bersiap dengan karung goni sisanya membawa tali dan obat bius.


Mereka mengendap-endap ke arah pekerja yang sedang mencuci muka di pancuran yang ada di dekat tempat peristirahatan lalu membekap hidung mereka dengan obat bius. Beberapa pekereja yang memberontak langsung dipukul hingga pingsan. Setelah


pingsan mereka dikumpulkan menjadi satu, diikat dan dimasukan secara paksa ke


dalam kereta barang yang disewa Bansheer.


Bansheer dan rombongannya kembali ke istana.


Siddarth menunggu mereka di ruang bawah tanah yang menyambungkan pelabuhan dan istana Astapura. Tempat itu adalah jalan rahasia untuk melarikan diri.


“Kumpulkan mereka dalam satu ruangan” ujar Siddarth mengawasi perpindahan pekerja-pekerja tersebut.


Mereka telah berada pada satu ruangan sempit. Karung yang menutupi wajah mereka di buka, tampak Siddarth menatap intens mereka satu-persatu.


Para pekerja sangat ketakutan, mereka tidak berani membalas tatapan Siddarth.

__ADS_1


“Beri mereka makan!” Siddarth memerintahkan prajurit untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan di sudut ruangan.


“Makanlah yang banyak, karena malam nanti kalian akan memulai perjalanan yang panjang”


Para pekerja makan dengan rakus. Mengisi perut mereka sekenyang mungkin. Mereka tidak tahu apa yang sedang Siddarth rencanakan tetapi mereka yakin perjalan panjang mereka pasti akan sangat menyakitkan.


Jam pasir telah menunjukan waktu tengah malam. Siddarth memerintahkan prajurit membawa para pekerja keluar dari ruangan tersebut satu persatu dengan mata tertutup, badan dan tangan terikat. Mereka digiring menuju lorong yang akan menghubungkan mereka ke sisi lain pelabuhan. Di sana kapal kecil akan membawa mereka ke Dwipajaya.


Semua pekerja telah terkumpul dalam kapal kecil itu.


“Tuan kami akan segera berangkat” ujar Bansheer.


“Pastikan kalian membuka ikatan kaki mereka saat di tengah laut. Jika ada yang macam-macam segera bunuh. Jangan sampai rencana kita terendus lawan” ujar Siddarth pada Bansheer.


“Baik Tuan”


Bansheer ikut bersama prajurit dan pekerja. Kapal kecil itu bergerak meninggalkan pelabuhan Astapura.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2