Dvesa

Dvesa
Hadiah untuk Gayatri


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Jhanvi sembari menyingkirkan peralatan menyulamnya.


"Ini pertama kalinya aku berkunjung ke bangsal wanita" ujar Jhanvi tersenyum sambil memandang ke sekelilingnya.


Gayatri memandang Jhanvi. Menilai wajah dan tingkah laku Jhanvi. 


"Aku tidak bermaksud bertingkah tidak sopan pada anda. Aku dan Siddarth, itu terjadi begitu saja"


Jhanvi mengakui sosok Siddarth lama kelamaan membuatnya goyah. Dia tahu Siddarth telah memiliki istri namun dia tak sanggup bila harus berpisah dari Siddarth.


"Dewa membuka jalan bagi kami. Siddarth melanggar adat Madhyaprasta, dia harus bertanggung jawab" ujar Jhanvi.


Gayatri mengangkat sebelah alisnya saat Jhanvi mengatakan dewa membuka jalan bagi mereka.


Apa Jhanvi pikir ini zaman putra pandu? tidak perlu pembenaran untuk wanita yang merebut suami orang lain. Siddarth pun tidak mungkin menolak jika bukan Jhanvi yang memulai.


"Karena saya Siddarth harus membagi hati dan pikirannya. Putri Gayatri saya tidak akan melangkahi posisi anda" ujar Jhanvi berusaha meyakinkan Gayatri.


"Aku harap kau pegang kata-katamu.Hari ini dewa melihat kau sendiri yang datang dan berjanji. Jika kau dan Siddarth melanggar janji kalian maka kalian akan terima karmanya" ujar Gayatri angkuh.

__ADS_1


Gayatri menatap lurus mata Jhanvi. Jhanvi tampak gelisah. Selama hidupnya dia berhasil memenangkan hati semua orang namun Gayatri berbeda. Gayatri tidak mudah ditipu, teliti, dan penuh waspada.


Jhanvi belum pernah menemui wanita yang memiliki sikap seperti Gayatri. Pandangan dan ucapan Gayatri membuatnya serasa ingin berlindung di balik punggung Siddarth.


Ada apa ini? dia mempelajari semua jenis ilmu pertahanan diri namun kenapa nyalinya mendadak ciut saat berhadapan dengan wanita yang bahkan tidak dapat mengayunkan pedang.


Gayatri merasakan ketidaknyamanan Jhanvi. Dia sedang memperingati Jhanvi dengan cara yang paling halus. Jika Jhanvi macam-macam maka saat itulah dia akan berhadapan dengan Singa lapar.


Ini pertemuan kedua ketiga mereka. Gayatri membaca tindak tanduk Jhanvi. Terlihat jelas bahwa Jhanvi gadis yang selalu memenangkan persaingan antara wanita. Dia pasti berpikir, seisi dunia tertuju padanya dan semua keinginannya harus tercapai. 


Cihh, tidak semudah itu. Hanya karena aku tidak pandai berperang bukan berarti aku telah kalah. Tanpa sadar Gayatri mencibir Jhanvi.


"Ini pedang, hadiah untuk anda. Anda bisa memakainya saat latihan nanti" 


Jhanvi menyerahkan pedang. Sarung pedang itu bertahtakan permata cantik. 


Gayatri mengeluarkan pedang dari sarungnya. Pedang itu terbuat dari tembaga ringan, ujungnya tumpul dan lentur. Dia menggerakkan pedang itu, bunyi pedang itu berisik seperti bunyi plastik yang diremas.


"Jangan salah paham putri. Pedang ini cocok untuk pemula, tidak akan melukai anda dan juga ringan. Kalau anda telah mahir, anda bisa menggunakan pedang sungguhan" ujar Jhanvi cepat sebelum Gayatri mengeluarkan pendapatnya.

__ADS_1


"Terima kasih" jawab Gayatri singkat.


Jhanvi mengangguk antusias.


"Mulai besok kami akan tinggal di luar benteng istana. Saya harap anda tidak terlalu membenci saya karena waktu yang kami habiskan…." 


"Aku mengerti" ujar Gayatri dingin. 


"Nikmati waktu kalian"


"Ah ba-baiklah" 


Gayatri mengantar Jhanvi berkeliling bangsal istana. Memperkenalkan ruang-ruang yang ada di sana kecuali kamar tidurnya.


"Aku bilang pada Siddarth jika kau butuh pelayan, salah satu dari pelayanku akan melayanimu namun Siddarth menolak. Dia bilang penari di Odissa bersedia melayanimu" ujar Gayatri.


"Kau seorang putri, sepanjang hidupmu pasti kau dibantu oleh pengawal-pengawalmu. Lagi pula di luar benteng ini kau akan melewati hari-hari bersama para pria. Kau mungkin akan kerepotan mengurus kebutuhan wanitamu" tawar Gayatri.


"Tidak perlu putri aku bisa mengurusnya sendiri" tolak Jhanvi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2