Dvesa

Dvesa
Perjalanan Laksmi (3)


__ADS_3

Laksmi mengetuk pintu rumahnya sambil memanggil nama ibu dan ayahnya.


Tidak ada jawaban.


Rumah itu tampak kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Beberapa orang yang lewat di depan rumahnya tampak berbisik sambil melihat ke arah Laksmi dengan pandangan merendah.


"byurrr" warga menguyurinya dengan air comberan.


Pakaian Laksmi berlumuran lumpur.


"Pergilah dari sini! kau telah membawa aib dan kesialan bagi desa ini" ujar warga desa, mulai berkumpul di depan rumahnya.


"Ke mana orang tua dan adik-adikku" tanya Laksmi tanpa menghiraukan warga desa yang mengusirnya.


"Hey p***cur! kau dan keluargamu pantas di hukum dewa di neraka" ujar warga desa mulaj bersorak mengeluarkan kata-kata kasar.


Laksmi mencemooh warga desa. Mereka dengan tidak tahu dirinya melempar Laksmi dengan sisa kotoran.

__ADS_1


Dulu desa mereka dijadikan sandera oleh perampok, sebagai gantinya Laksmi yang merupakan kembang desa menyerahkan dirinya untuk dijadikan sandera dan bersedia di jual sebagai budak, asalkan semua warga desa dan keluarganya di bebaskan.


"Kacang lupa kulit" pepatah yang pantas Laksmi katakan kepada warga desa. Tidakkah mereka berpikir untuk siapa Laksmi mengorbankan dirinya kalau bukan karena mereka terlalu miskin untuk membayar tebusan yang diminta para perampok?


Sudahlah! berbicara dengan orang kampung hanya membuang waktunya.


Baguslah jika keluarganya pindah dari sini, Laksmi tidak perlu memikirkan mereka lagi yang harus Laksmi lakukan adalah menepati janjinya pada Gayatri.


Laksmi meninggalkan desa sialan itu, bergegas mencari tumpangan ke Dwipajaya.


Memasuki daerah kerajaan Jayabaya, Laksmi melihat banyak orang berbondong-bondong meneteng peralatan kerja mereka seperti pacul, sekop, ember dan lain-lain.


Ada apa ini? pikir Laksmi melihat orang-orang tersebut. Pergerakan kereta kuda mereka menjadi lebih lambat.


"Sepertinya para buruh sedang mengajukan protes" ujar pengemudi kereta kuda.


"Demi keamanan kita, sebaiknya kita berbalik arah melewati jalan yang lain"


"Tunggu, biar aku turun di sini" ujar Laksmi membayar upah sang pengemudi.

__ADS_1


Pengemudi itu mengingatkan Laksmi bahaya yang akan menimpanya jika memutuskan berhenti di Jayabaya lalu pergi meninggalkan Laksmi.


Laksmi mendekat ke kumpulan orang-orang tersebut. Laksmi mendengar percakapan mereka. Ternyata pekerja-pekerja tersebut berbicara dalam bahasa Hindi, Urdu, Marathi, Assam, dan Tamil.


Laksmi semakin penasaran kenapa banyak pekerja dari Hindustan di Jayabaya sedangkan Jayabaya bukan wilayah subur atau pun penghasil tambang.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Laksmi pada beberapa orang yang ada di hadapannya.


"Kami berbulan-bulan bekerja di tempat ini namun belum diberikan upah. Mereka menjanjikan kami sekantung emas untuk tiap orang" ujar Laki-laki itu menatap sekujur tubuh Laksmi.


"Apa kau juga bekerja di sini?" tanya laki-laki itu melihat saree dan perhiasan yang dikenakan Laksmi yang umum digunakan wanita di Hindustan.


"Iya, tapi aku bekerja di daerah yang jauh dari tempat ini. Aku hendak ke pelabuhan Dwipajaya" ujar Laksmi.


"Memangnya apa yang kalian kerjakan? aku belum lama datang dari Hindustan" ujar Laksmi bertanya lebih lanjut.


"Kami mengerjakan lahan kering ini untuk ditanami palawija hasilnya akan di kirim ke Astapura" ujar laki-laki itu.


Laksmi mengangguk paham. Rumor yang dia dengar di Odissa bahwa Astapura sedang dalam masa sulit ternyata bukan isu semata.

__ADS_1


Laksmi segera menjauhi kerumunan itu saat melihat sosok yang di kenalnya berdiri di hadapan para pekerja.


...----------------...


__ADS_2