
Bansheer membagi pekerjanya dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok berisi lima orang. Kelima kelompok itu ditempatkan di antara dua dua hektar tanah. Mereka diperintahkan untuk menggali kolam yang Bansheer maksud. Bansheer membuat target bahwa sebelum fajar menyingsing sebuah kolam besar harus sudah di selesaikan. Selama kolam itu belum selesai, para pekerja tidak akan mendapat jatah makan dan istirahat.
“Jangan ikut campur” Raja Daneswara mencegah Patih Mahesa yang hendak menegur Bansheer, karena perlakukan Bansheer yang menurutnya kurang
manusiawi.
“Inilah sebabnya aku katakan bahwa penduduk Dwipajaya tidak dapat membantu, karena aku khawatir penduduk kita akan menjadi korban kerja paksa” ujar Raja Daneswara pada Patih Mahesa sambil memantau Bansheer dan kawanannya.
“Sebaiknya kita kembali ke Dwipajaya” ujar Raja Daneswara. Dia dan Patih Mahesa segera meninggalkan Jayabaya.
Fajar hampir menyingsing, kolam yang digali belum memenuhi target yang Bansheer tetapkan.
“Terus bekerja, sampai kolam ini selesai!” perintah Bansheer.
Bansheer duduk di kursi dan meja yang disiapkan di tanah terbuka itu. Di sisi kiri dan kananya terdapat obor, dan di atas menjanya lentera meneranggi catatan-catatan selama perjalanan ke Dwipajaya. Bansheer harus meleporkan secara lengkap perjalanan dan pekerjaannya kepada Raja dan juga kepada Siddarth.
__ADS_1
Bansheer meninggalkan catatanya sebentar dan mengambil sebuah gulungan yang di berikan Patih Mahesa padanya. Dibentangkannya gulungan tersebut di atas meja dan mulai memeriksa detailnya. Gulungan itu berisi peta lokasi Jiwang.
Bansheer mengangkat lentera meneliti peta yang di gambar di atas daun lontar tersebut.
Sebelah utara berbatasan dengan kerajaan Jayabaya, Timur berbatasan dengan kerajaan Jayamangkala, Selatan berbatasan dengan kerajaan Jayakarsa dan Barat berbatasan dengan Wilisgiri.
Bansheer membaca keterangan yang ditulis di bagian bawah peta tersebut. Kerajaan Jayabaya di pecah oleh ayah Jayaswara, menjadi kerajaan-kerajaan kecil di timur dan selatan sehingga saudara-saudaranya,
mendapat hak yang sama untuk memerintah kerajaan. Bansheer juga mendengar rumor tentang Raksasa di lembah Wilisgiri.
Sebagian lahan telah digunakan untuk membangun kolam, lahan untuk menanam telah berkurang. Sebagai ganti lahan yang telah berkurang harusnya Raja Daneswara memberi lahan tambahan sehingga genap 10 hektar untuk ditanami palawija batin Bansheer merasa isi surat tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di lahan tersebut.
Sebaiknya aku menunda rencanaku untuk memperluas lahan. Aku tidak tahu apa saja kekuatan yang mendiami lembah tersebut.
“Tuan para pekerja mulai kelelahan” lapor prajurit yang berperan sebagai mandor yang mengawasi para pekerja.
__ADS_1
“Beri mereka air dan sedikit roti!” perintah Bansheer.
Bansheer mengalihkan pandangannya dari peta ke kolam yang letaknya beberapa meter di hadapannya. Kolam-kolam ini mungkin akan selesai setengah hari lagi jika kecepatan para pekerja di tambah.
“Hey kalian!”teriak Bansheer pada prajurit Dwipajaya yang membantu mengamankan para pekerja.
“Simpan tombak dan perisai kalian, bantu para pekerja mengali kolam!” perintah Bansheer.
Prajurit Dwipajaya berpandangan sebentar, jumlah mereka satu pasukan yang berisi dua belas prajurit. Perintah Bansheer di luar kesepakatan dengan Raja Daneswara namun kepala prajurit meminta anggotanya untuk mengikuti perintah Bansheer.
Sesuai dugaan Bansheer, prajurit Dwipajaya yang ikut membantu menambah kecepatan pengalian dua kali lipat belum genap setengah hari, kelima kolam dengan ukuran lebar dan dalam yang sama telah berhasil di bangun.
“Isi kolam itu dengan terpal sebagai alasnya, dan susun keliling kolam dengan batu, agar alasnya tidak berpindah!” ujar Bansheer.
“Sekarang isi kolam itu dengan air!”
__ADS_1
Dihadapan Bansheer telah berderet empat gerobak yang di dalamnya berisi lima sampai tujuh tempayan air. Gerobak itu ditarik oleh seekor kuda dan dikemudikan oleh prajurit Dwipajaya yang bertugas sebagai penunjuk jalan.
...----------------...