Dvesa

Dvesa
Analisa Jhanvi


__ADS_3

satu hari sebelum keberangkatan Gopal….


Saksenya yang baru tiba dari Nepal datang menemui Gopal. Dia bermaksud menceritakan keadaan Astapura saat ini. 


Gopal melihat kedatangan Saksenya segera meninggalkan pendopo istana lalu menuju tempat kuda yang akan dipakainya menuju pelabuhan berada. Saksenya segera menyusul Gopal.


"Untuk apa kau kemari" ujar Gopal dingin.


"Paman posisiku sangat tidak memungkinkan untuk memberitahu anda. Gerak-gerikku diawasi selama aku dipersiapkan ke Nusantara. Aku mohon mengertilah paman" ujar Saksenya seraya memohon agar Gopal menghiraukannya.


"Simpan saja semua kata-katamu. Aku telah setuju bekerja sama dengan Astapura. Kalau bukan karena rumor Hagai Khan akan datang aku tidak sudi melihat muka keturunan penghianat itu" ujar Gopal murka.


Saksenya menatap Gopal nanar. Tidak ada basa-basi yang keluar dari mulutnya. Setelah cerita ibunya, Saksenya makin menaruh rasa hormat pada Gopal.


Suasana hening di antara mereka cukup membuat Gopal tertegun. Dipandanginya Saksenya yang mematung di sisinya.

__ADS_1


"Istri dan anakku telah berangkat ke Kashmir. Aku mempercayakan Sadewa mengurus mereka".


"Ibuku juga telah berangkat ke Kashmir, mungkin sekarang mereka sedang bersama" ujar Saksenya cepat.


"Nak, di dunia ini tidak ada kedamaian tanpa pertempuran. Buka matamu lebar-lebar. Dunia ini luas tidak ada yang tahu akhirnya seperti apa" ujar Gopal sembari menepuk pundak Saksenya.


"Aku mencintai rakyatku dan tanah leluhurku. Kalah ataupun menang, tidak masalah yang terpenting adalah usaha. Leluhur dan ayahku di atas sana pasti mengerti" ujar Gopal tersenyum menerawang langit.


...*****...


"Kemudian mereka akan menuju Nusantara dan berakhir di Hindustan. Dua bangsa yang saat ini bersaing di bisnis perdagangan" 


"Bagaimana dengan Nepal?" tanya Siddarth. Nepal juga merupakan salah satu raja perdagangan yang konsisten memasarkan komoditi, meskipun secara jumlah komoditi yang dipasarkan kalah jauh dibandingkan Nusantara dan Hindustan.


"Nepal bukan ancaman yang serius bagai Hagai Khan. Nepal menghubungkan jalur perdagangan dua bangsa lagipula jika Hagai berhasil mengusai Hindustan, Nepal mau tidak mau harus menjadi sekutu" ujar Jhanvi memaparkan analisanya tentang Nepal.

__ADS_1


"Dari tadi kalian sibuk membicarakan kedatangan Hagai. Aku ingin tanya satu hal. Apakah kedatangan Hagai ke Hindustan sudah bisa dipastikan? Aku tidak mendengar berita apapun dari Nusantara" ujar Gopal menginterupsi diskusi mereka.


"Ayah, kita perlu mengantisipasi kedatangan mereka. Ada pepatah mengatakan sedia payung sebelum hujan" ujar Jhanvi tak mau kalah.


"Anakku, kau melakukan hal yang tidak perlu. Menghabiskan sumber daya yang kita punya sebelum waktunya. Kau bahkan tidak tahu payung seperti apa yang harus kau pakai. Kalau kau berpikir hanya menjaga agar dirimu tidak basah, bagaimana dengan hujan badai? hujan badai bisa mematahkan payungmu bahkan membunuhmu" ujar Gopal menggebu.


Ketiga orang itu terdiam. 


"Bagaimana kalau kita tunggu kabar dari Nusantara. Jika Hagai bergerak baru kita bergerak. Waktu yang ada kita manfaatkan untuk menambah prajurit, melatih prajurit dan membuat rencana. Pikirkan sebanyak mungkin rencana yang bisa kita pakai" Gopal memberi usul.


Jhanvi menatap Siddarth meminta pendapat suaminya.


"Aku harus melapor pada ayahku sebelum kita meninggalkan tempat ini" ujar siddarth.


"Ya baiklah. Itu urusanmu. Aku akan meninggalkan tempat ini besok pagi. Kirimkan kabar jika sudah ada pergerakan" ujar Gopal.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2