
Saksenya sigap menarik Gayatri mundur saat debu hampir mengenai wajahnya. Sembari mengibaskan tangannya Saksenya membiarkan mereka berhenti sejenak sampai debu yang beterbangan perlahan berkurang.
Gayatri memperhatikan ruangan itu, dia segera menuju ke dalam. Rombongan berjalan cepat di belakang Gayatri.
Saksenya melihat rak-rak buku, perkamen, peta-peta dan tulisan-tulisan kuno. Dalam hati Sakasenya memuji kecerdasan istrinya.
Inti dari Dwipajaya bukanlah singgasana raja atau aula kebesaran, tetapi ilmu pengetahuan. Ini pasti perpustakaan milik keluarga raja, rahasia tentang Dwipajaya ada di sini termasuk rahasia raksasa merah.
Saksenya merasa bersalah telah menuduh Gayatri yang bukan-bukan.
"Paman ..!" panggil Gayatri.
Saksenya menyusul ke ruangan tempat Gayatri berada. Tampak seorang lelaki tengah memejamkan mata, dengan posisi menyangga bumi.
"Paman, Paman …," isak Gayatri mengguncang tubuh kaku itu.
Saksenya menarik Gayatri ke pelukannya. Tubuh Gayatri gemetar. Saksenya mengelus rambut dan punggungnya.
"Ini Pamanku, Mpu Wiyasa. Cendekiawan kepercayaan raja. Keturunan Mpu Wiyasa di masa lalu telah bersumpah berada di pihak raja karena menyelamatkan padepokan miliknya saat perluasan wilayah," kata Gayatri lirih.
"Para cendekiawan di Dwipajaya pantang mengacungkan senjata. Mereka melawan penjajah dengan pengetahuan," ujar Gayatri lagi.
__ADS_1
Gayatri menatap wajah Mpu Wiyasa. Pengetahuannya tentang ilmu kanuragan terbatas. Tetapi sejarah mengatakan hanya Mahadewa lah yang mampu menyangga bumi. Jika ada pengikutnya yang berbuat demikian, maka mereka telah meninggalkan segala kefanaan.
Sampai mati, Mpu Wiyasa tetap mengabdikan diri bagi kehormatan Dwipajaya. Gayatri kembali bersumpah bahwa Bansheer tidak akan pernah lepas dari genggamannya.
"Tempat ini memiliki lorong lain menuju ruang utama kerajaan. Cari Bansheer, ada yag harus aku pastikan disini," kata Gayatri pada Saksenya.
"Bagaimana denganmu," balas Saksenya khawatir.
Gayatri mengulurkan tangannya menyentuh pipi Saksenya.
"Jangan khawatirkan. Aku mengenal tempat ini lebih baik dari siapapun, bukankah selama ini aku terus berlatih pedang," ujar Gayatri lembut.
Perasaan Saksenya menghangat.
Gayatri menggenggam tangan Saksenya dan meletakan tangan itu di atas kepalanya.
"Aku berjanji kali ini tidak akan pergi lagi," bisik Gayatri.
"Sekarang pergilah. Sebelah barat istana ini ada jalan menuju pelabuhan. Tunggu aku di dekat pohon ketapang di luar tembok istana," kata Gayatri.
Saksenya bergegas menyusul yang lain, mencari tahu keberadaan Bansheer. Sudah lama, pria brengsek itu ingin dihajarnya sampai mampus.
__ADS_1
Saksenya menatap arsitektur ruangan itu. Tempat di mana istrinya menghabiskan masa kecil. Langit-langit bangunan di Nusantara jauh lebih rendah dibandingkan di Hindustan. Mereka memiliki benda yang disebut dengan pintu. Jika rakyat Suballa menerjemahkan pintu sebagai sesuatu yang tertutup, entah menggunakan kain atau kertas yang penting tertutup sementara di Dwipajaya, tertutup dimaknai tanpa celah. Itulah mengapa Gayatri meminta dibuatkan pintu dan gagangnya.
Entah mengapa, Saksenya merasa istana raja terasa sepi. Dia tidak menemukan dayang atau pengurus istana.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rupanya kau yang menyusup," hardik Ankush sambil mendorong salah satu prajurit Suballa yang terluka.
Sementara itu prajurit Suballa yang lain mendekat menolong prajurit yang terluka itu. Saksenya membisikan sesuatu pada prajurit tersebut dan mereka segera menyingkir dari tempat itu.
Saksenya memamerkan senyum sinisnya.
"Apa Bansheer sepengecut itu, sampai mengirimkan pesuruhnya?," sinis Saksenya.
Ankush tidak mempedulikan ejekan Saksenya. Saat ini Saksenya adalah suami Gayatri, putri dari Raja yang telah Bansheer bunuh.
"Saksenya Raja Suballa, harusnya kau menikmati bulan madumu dan beranak cuculah di Suballa. Tetapi hari ini kau muncul di sini, maka terimalah kematianmu dengan lapang dada," Ankush menyeringai.
"Dengar Ankush, kebodohanlah yang akan membawamu ke neraka. Bahkan sampai di neraka nanti Dewa akan menambahkan dosa-dosa Bansheer sebagai utang dosamu. Kau dan Bansheer harus dipanggang di neraka tingkat delapan belas. Sebelum dipanggang, kau harus menerima hukumanmu," suara Saksenya menggelegar.
"Sringg..," bunyi besi beradu. Saksenya mengeluarkan sarung dari pedangnya. Perkelahian Saksenya dan Ankush tak terelakan.
...----------------...
__ADS_1