
Gunjana dan Saksenya segera masuk, tampak Gayatri sedang berdiri menunggu mereka.
"Ada apa?" bisik Gayatri.
"Ada surat penting dari ayahmu"
"Berikan!"
"Hey, bisakah kau memberiku pakaian kering" protes Saksenya.
Gayatri mencari baju milik Siddarth yang ada di lemarinya dan menunggu pria itu selesai mengganti pakaiannya.
"Kamar mandimu cukup luas kita bicarakan di sini saja"
Gayatri dan kedua pelayannya saling berpandangan.
"Aku akan menjaga pintu, dan Rupika akan berjaga di dekat kamar mandi" usul Gunjana.
Tidak masalah, lagipula pembicaraan bersifat rahasia terlalu riskan berbicara di kamar yang hanya ditutupi tirai tebal.
"Aku mempertaruhkan nyawaku membawa surat ini tanpa sepengetahuan suamimu. Sekarang beritahu aku isi suratnya" ujar Saksenya sembari menyerahkan surat itu pada Gayatri.
Mereka berdua duduk di pembatas kolam tempat Gayatri biasa berendam. Gayatri membaca surat yang ditulis ayahnya agar Saksenya bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Wah,wah, wah Bansheer berkhianat adalah berita besar abad ini"
"Bagaimana ini?" tanya Gayatri meminta pendapat Saksenya.
Saksenya memberikan pandangannya tentang posisi Astapura dan pengkhianatan Bansheer. Menurut Saksenya tindakan Bansheer adalah wajar dibandingkan menjadi anjing yang menjilat kaki majikannya.
Gayatri berpikir sejenak. Ucapan Saksenya ada benarnya juga. Bansheer bekerja keras memikirkan uang untuk Astapura yang diterimanya adalah berita pernikahan tuannya yang seharusnya Siddarth gunakan waktunya untuk memikirkan masa depan Astapura. Luar biasa pikir Gayatri.
"Terima kasih telah bersedia datang membawa suratnya"
"Nyonya, Tuan sudah dekat" ujar Rupika panik.
"Tuan jangan masuk dulu. Nyonya sedang mandi." tahan Gunjana di depan pintu.
"Aku suaminya, kenapa harus malu?"
"Aku akan menguji latihan pedangnya" ujar Siddarth menerobos masuk.
Dia mendapati Gayatri sedang menikmati berendam di air hangat.
"Keluarlah, aku tidak ingin diganggu" ujar Gayatri lalu menutup mata, merasakan air hangat yang menyentuh kulitnya.
"Kita belum pernah mandi bersama" ujar Siddarth berusaha melepaskan pakaiannya.
__ADS_1
"cih, apa istri barumu sedang berhalangan maka kau datang ke sini?" ejek Gayatri.
"Aku tidak ingin mengotori airku dengan pasir dan tanah. Pergilah, kau mengganggu waktu bersantaiku" usir Gayatri sukses membuat Siddarth menahan marah lalu meninggalkan tempat itu.
"Bukankah itu terlalu kasar" tanya Saksenya keluar dari dalam air sambil tertawa.
"Harusnya kubiarkan Siddarth masuk lalu membunuhmu!" ujar Gayatri sinis.
"Ganti Pakaianmu dan pergilah lewat ruangan belakang, Gunjana akan menunjukan jalannya"
Saksenya mengganti pakaiannya dengan pakaian Rishi lalu mengikuti Gunjana. Sedangkan Gayatri keluar dari pemandian itu melepas kemben dan celana yang telah basah.
Gayatri membakar surat pemberian ayahnya untuk menghilangkan jejak. Dia satu-satunya di istana itu yang tahu kabar ini, sambil menunggu mata-mata membawa berita ini. Semua ruang di istana ini memiliki telinga kalau ada berita yang datang pelayan di rumah ini pasti akan menyebarkannya. Tidak sia-sia dia tinggal di bangsal istana.
"Bagaimana?" tanya Gayatri saat Gunjana kembali.
"Aman terkendali" bisik Gunjana.
"Apa yang terjadi nyonya, semuanya baik-baik saja?" tanya Gunjana khawatir.
"Ada masalah di nusantara yang sedang dihadapi ayahku. Ayah bilang sasaran pertama Hagai Khan adalah Nusantara" ujar Gayatri.
"Jangan khawatir, Nusantara negeri seribu armada perang. Semuanya akan baik-baik saja" Gayatri menyentuh pundak Gunjana. Gayatri memperhatikan raut gelisah Gunjana yang kembali normal. Rupika tampak tegang, berdiri memperhatikan Gunjana yang terengah.
__ADS_1
"Tenanglah Hindustan pasti mampu mengatasi masalah ini" ujar Gayatri meyakinkan kedua pelayannya.
...----------------...