
“Bangun, bangun bersiaplah!” teriak Meina membangunkan penghuni Odisa. Gayatri bangun, dia melihat jam pasir di sampingnya, pukul 03.00 dini hari.
“Nyonya mandilah, silahkan menuju kamar depan” ujar Sanjana membangunkan Gayatri.
Gayatri mandi lalu mengikuti langkah Sanjana, menuju kamar yang dimaksud. Kamar ini, kamar yang dibuatkan khusus untuk Jhanvi saat dia baru tiba di Astapura.
“Nyonya!” Rupika dan Gunjana berlutut di hadapannya.
“Bangunlah, jangan menangis lagi” tegur Gayatri. Setiap pertemuan mereka selalu diisi dengan kesedihan, hari ini Gayatri tidak mengizinkan kesedihan menyelimuti mereka.
“Berbahagialah, hari ini kalian akan mendapat ratu baru” ujar Gayatri sambil duduk di meja rias.
Rupika, Gunjana, dan Sanjana, membantunya merias diri. Awalnya gayatri bingung, dia harusnya bergabung dengan penari yang akan mengisi acara tapi dia lupa dia adalah istri pertama Siddarth hanya rakyat istana yang tahu dia telah ditendang paksa dari anggota keluarga kerajaan sedangkan yang lainnya percaya bahwa gayatri merelakan tahtanya karena dinyatakan mandul alias tak memiliki keturunan.
“Ini baju yang dipilih oleh yang mulia Jhanvi” ujar Sanjana.
Gayatri tertegun, Jhanvi memiliki gelar baru bahkan sebelum dinobatkan dia telah memakai gelar itu mendahului suaminya.
Gaun warna ungu muda berhiaskan berlian tampak cantik, Gayatri menyadari gaun itu tampak tak sesuai dengan tema acara hari ini. Tapi apa daya Gayatri memilih mengikuti arah permainan Jhanvi.
“Apa ini gaya rambut yang dipilih Jhanvi?” tanya Gayatri saat Rupika selesai memintal rambutnya.
__ADS_1
Ketiga orang itu tertunduk, tak berani menjawab pertanyaan Gayatri.
“Tak apa, tentu kalian harus mengikuti arahan yang mulia. Aku paham kalian mempertaruhkan nyawa dan keluarga kalian” bisik Jhanvi.
“Nyonya ....”
“Jangan pernah meminta maaf atas apa yang bukan salahmu Rupika” tahan Gayatri sebelum Rupika menyelesaikan kalimatnya.
Gayatri melihat gaya rambutnya di sisi simetris dengan bagian tengah di belah, ujung rambutnya dipintal dan diikat. Zaman itu, hanya janda dan gadis yang batal dipersunting yang mengenakan penampilan demikian. Bindi merah di keningnya menegaskan bahwa dia wanita bersuami. Wanita mana yang menari menyambut tamu suaminya?
Gayatri berdiri meneliti wajahnya dari ujung rambut hingga kaki. Gaun kembang itu nampak tak menonjolkan bagian pinggang, Gayatri meminta Sanjana meminjam pashmina warna senada milik Meina.
“Pinjamkan saja, kami membutuhkan ini”
Rayuan Sanjana berhasil pasmina yang belum di cuci itu Gayatri lipat memanjang dan diikatkan pada bagian pinggangnya untuk memberikan kesan ramping.
“Anda akan kesusahan bernafas saat menari” komentar Gunjana.
“Bantu aku lepas permatanya” tunjuk Gayatri pada permata besar yang nampak menumpuk di bagian perutnya.
Selera Jhanvi sangat buruk. Permata cantik ini tidak indah sama sekali, hanya menonjolkan kecantikan permata, sedangkan yang memakai gaun itu akan terlihat seperti badut. Kalau itu tujuannya maka Jhanvi menggali kuburnya sendiri.
__ADS_1
“Ambilkan beberapa tusuk sate dan karet gelang” pinta Jhanvi pada Rupika.
Permatanya berhasil dilepas, kini Gayatri melepas ikatan rambut dan pintalannya. Sanjana hanya melongo melihat hasil kerjanya jadi berantakan.
Gayatri menggunting helai rambut bagian samping dan depannya. Menumpuk tusuk sate, lalu menggulungnya di rambut dan mengikatnya kencang dengan karet gelang.
“Rapikan kembali rambutku” ujar Gayatri sambil mengikat tusuk sate yang tersisa.
Ketiga pelayan itu bahu membahu membetulkan baju dan dandananya. Gayatri memoles hasil akhirnya. Kini tampak rambut yang dipotongnya menjadi bergelombang setelah tusuk sate dan karet dilepas. Wajahnya jadi bervolume, riasannya tidak menonjol di bagian mata, melainkan lipstik coklat gelap dan bindi merah darah di wajahnya menarik perhatian. Tulang pipi, dan tulang rahangnya dibuat menonjol, memberikan kesan angkuh dan tegas.
“Ini terlihat hebat” ujar Rupika girang.
“sttt” kecilkan suaramu, Gayatri memperingati Rupika.
“Sampai kapan kalian akan diam dalam kamar itu. Semuanya sudah bersiap di pelataran istana” tegur Meina dari luar bangunan Odisa.
“Kami akan segera berangkat” Rupika menjawab
Mereka berempat keluar dari ruangan itu. Tak ada yang melihat mereka karena semua telah pergi. Mereka ikut berkumpul tanpa seorang pun menyadari kehadiran mereka berempat yang tengah bersiap menyambut hari baru dalam sejarah.
...----------------...
__ADS_1