Dvesa

Dvesa
Kabut di Langit Dwipajaya


__ADS_3

Bansheer memacu kereta kudanya menuju istana. Mempertontonkan mayat yang ditariknya pada kereta itu. Darah dan potongan daging memenuhi sepanjang jalan menuju isatana. 


Sesampainya di istana, mereka mengepung istana itu. Paramitha yang mendengar aba-aba di luar gerbang istana menghentikan langkahnya.


Dia menajamkan pendengarannya sesaat. 


"Teruslah mengitari api suci" ujar Paramitha.


Paramitha memberi aba-aba pada pengawal istana. Mereka mulai menumpuk jerami, dedaunan kering, tirai, dan semua kain yang ada di istana itu di pelataran tempat api suci di buat.


"deng, deng, deng" tiga kali bunyi gong.


"Robohkan gerbang istananya!" teriak Piyush pada prajurit yang beramai-ramai menghancurkan pintu kayu itu dengan sebuah batang pohon besar.


Mpu Wiyasa yang mendengar bunyi gong, lalu memutar sebuah tuas besi mirip kemudi nahkoda di balik pintu batu perpustakaan rahasia Dwipajaya. Dengan susah payah akhirnya dia berhasil melepaskan salah satu senjata Dwipajaya. Tanah di di keliling gerbang istana tiba-tiba ambruk dan menjatuhkan para prajurit yang berusaha membuka pintu tersebut. Beberapa prajurit tertimpa batang pohon itu dan mati.


"Panjat tembok istana!" perintah Banseer.


Dia meninggalkan kereta kudanya dan bergerak mencari celah, memanjat tembok tersebut. Di atas tembok tersebut Bansheer bertarung dengan sisa pengawal kerajaan.

__ADS_1


Dari kejauhan tampak banyak orang berjejer. Bansheer berlari menuju tempat itu melihat apa yang sedang terjadi di halaman istana.


Bansheer mempercepat langkahnya. Api suci dan tumpukan jerami batin Bansheer melihat benda - benda yang ada di halaman itu.


Paramitha menyadari kehadiran Bansheer dari balik sari yang tertutup di kepalanya. Dia segera menuangkan bahan bakar ke atas jerami itu. 


"Semoga Dewa menerima kita" ujar Paramitha pada para wanita.


"Saatnya sudah tiba"


"Tidak!" teriak Bansheer saat Paramitha menyulut jerami yang ada di dekatnya dengan obor berisi api suci.


Api merambat dengan cepat dan mulai berkobar.


Paramitha, Swastika bersama para wanita berjalan menuju api tersebut dengan senyum dan kilatan bahagia di mata mereka. 


"Tidak, tidak, padamkan api itu!" teriak Bansheer lagi.


Namun langkah mereka semakin dekat ke api dan menyatu dalam kobaran api.

__ADS_1


Bansheer mendekat ke arah api tersebut berusaha menyelamatkan salah seorang wanita muda yang bergabung menuju kobaran api namun terlambat. Hanya robekan sari gadis itu yang tersisa di tangan Bansheer.


Bansheer terduduk lemas menatap tubuh-tubuh gosong yang hangus terlalap api. Tidak ada suara isak tangis maupun raungan kesakitan yang Bansheer dengan. Piyush dan prajurit yang tersisa berusaha mencari karung dan air untuk memadamkan api tersebut. Nihil.


Hingga menjelang sore, Bansheer tetap berada di sana menyaksikan api yang belum speenuhnya padam.


"Bereskan kekacauan ini. Pindahkan semua abu mayat itu ke dalam kendi besar dan buang di sunggai gangga bersama mayat yang diikat di kereta" bisik Piyush pada prajurit yang ada di tempat itu.


"Tuan, tenangkan dirimu dan mulailah membangun kerajaan ini" ujar Piyus.


Mpu Wiyasa mendengar bunyi serokan, sapu, dan sekop di pelataran istana. 


"Akhirnya semua sudah selesai" batin Mpu Wiyasa.


Dia mendorong pintu batu jalan keluar satu-satunya dari tempat itu dan menguncinya. Dia menyelesaikan tulisan terakhirnya lalu menggulung perkamen itu, meletakkannya di atas meja dengan stempel kerajaan.


Mpu Wiyasa duduk bersila di tengah ruangan yang cukup nyaman baginya. Dia menutup matanya lalu mulai bertapa.


Sebuah nafas terengah-engah menyisir perbatasan lembah Wilisgiri. Adhiyaksa terus menyisir hingga di ketinggian yang cukup. Dia memandang kabut hitam di langit Dwipajaya. Dadanya sesak, semua keluarganya telah dibantai. Dia mengigit bibinya kuat, menahan amarah dan kesedihan yang bergemuruh di hatinya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2