Dvesa

Dvesa
Tetap di Tempat!


__ADS_3

"Gunjana, kemana tuan putri?" tanya Rupali panik.


Gunjana sedang menjemur pakaian Gayatri yang baru dicuci.


Hari masih pagi, matahari belum menampakan sinarnya. Udara tampak dingin dan berkabut.


Mereka berdua berlari menuju kamar Gayatri. Kosong. Semua linen telah dilipat rapi. Jendela telah di buka dan kelambu diikat pada masing-masing tiang tempat tidur.


Mereka menuju kuil kecil dalam bangsal itu. Tampak dupa yang telah habis terbakar dan persembahan yang masih baru.


Mereka mencari Gayatri hingga ke kuil besar, taman, dapur, dan Odissa namun tak jua menemukan Gayatri.


Mereka menelusuri bangsal wanita dan mendengar suara seperti hentakan kaki. Mereka mengikuti arah suara itu.


Ruang belakang bangsal wanita!


Keduanya berjalan perlahan menuju ruang itu. Mereka menemukan Gayatri di sana.


Gayatri tampak kelelahan dan hampir kehabisan nafas.


"Apa yang terjadi nyonya?" tanya Rupika khawatir.


Gunjana dan Rupika membantu Gayatri melepaskan penutup kepala dan baju perang. Gunjana mengambil pedang yang ada di tangan Gayatri dan meletakan pedang itu agak jauh dari tempat duduk mereka.


 "Sudah lama aku tidak berlatih pedang" ujar Gayatri.

__ADS_1


"Aku hampir mati kepanasan. Baju zirah ini sangat berat" Gayatri menunjuk baju yang baru dilepaskannya.


"Tentu saja nyonya. Berat baju ini 5 kg, untuk prajurit pedang dan tombak. Bajunya lebih ringan dibanding baju prajurit pemanah. Baju ringan ini memudahkan pemakainya bergerak" ujar Gunjana memberi penjelasan.


"Apa ada yang bisa mengajariku menggunakan pedang dengan benar?" tanya Gayatri meminta saran kedua pelayannya.


"Nyonya untuk apa anda melakukan ini. Tidak ada yang akan berani menyentuh anda" ujar Rupika.


"Ada pepatah mengatakan jangan berhenti mengasah taringmu. Taringku sudah tumbuh namun tumpul. Ujungnya tidak bisa dipakai untuk mencabik mangsa, sedangkan taring yang lain dapat mengoyakan mangsa hingga hancur" ujar Gayatri.


Gunjana dan Rupika saling berpandangan.


"Nyonya kami tidak mengerti apa yang anda maksud. Jika anda menginginkan seorang guru anda bisa meminta saran pada tuan Siddarth" ujar Gunjana.


Lagi-lagi harus melalui izin Siddarth. Budaya patriarki yang kuat di Hindustan menjadikan Gayatri tampak dikendalikan bagai boneka.


Siddarth sedang bermain catur dengan Jhanvi saat Gayatri datang ke Odissa.


"Aku ingin bicara denganmu" ujar Gayatri.


"Katakan" jawab Siddarth sambil menjalankan bidak catur.


Gayatri menatap wajah Siddarth lalu melirik Jhanvi. Jhanvi paham maksud Gayatri. Dia bangun dari tempat duduknya.


"Tetaplah di situ" perintah Siddarth.

__ADS_1


"Aku ingin bicara berdua denganmu" protes Gayatri.


"Duduklah Jhanvi, tidak ada yang perlu dirahasiakan antara suami istri" ujar Siddarth tegas.


Raut Gayatri berubah. Kedua alisnya bertaut dalam.


"Aku ingin seorang guru yang bisa mengajariku menggunakan pedang dan memanah" 


"Jhanvi yang akan mengajarimu. Dia adalah guru sekaligus ahli pedang dan memanah"


Jhanvi berdiri mematung mendengar ucapan Siddarth.


"Tidak. Kalian berdua butuh banyak waktu untuk memikirkan perang. Aku tidak ingin mengganggu kalian". sindir Gayatri.


"Terserah apa katamu. Pilihanmu hanya dua. Diajari Jhanvi atau tidak sama sekali" 


Gayatri menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan. Membiarkan emosinya menguap seiring hembusan nafasnya.


"Aku kira aku akan dapat saran yang bagus. Kedatanganku ke tempat ini sungguh sia-sia. Permisi" Gayatri pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Jhanvi.


"Tetap di tempat!" ujar Sidarth.


Gayatri menghentikan langkahnya.


"Jhanvi" sambung Siddarth.

__ADS_1


Gayatri menggigit bibirnya kuat, menahan amarah baru yang muncul dalam dadanya.


...----------------...


__ADS_2