
Kedua pelayan Paramitha mengumpulkan seluruh wanita yang di istana dengan cepat. Mereka menghentikan semua aktivitas dan segera menuju ruangan yang diinstruksikan.
"Paramitha, semua wanita telah berkumpul" ujar Swastika pada Pramitha yang nampak berpikir keras.
"Semuanya, terima kasih kalian telah hadir di sini" ujar Paramitha sambil menatap puluhan wanita di hadapannya.
Paramitha mulai menceritakan keadaan tiga jaya dan firasat buruk tentang bahaya yang akan menimpa Dwipajaya.
"Kita adalah pemilik sah tanah ini. Saat para lelaki berjuang, para wanita pun tidak boleh menyerah begitu saja. Apa gunanya melarikan diri ke negeri orang? kita tidak ada bedanya dengan pecundang dan musuh" Paramitha berusaha menggiring pemahaman para wanita agar setuju dan mendukung pendapatnya.
"Waspadalah, kita tidak tahu kapan bahaya menghampiri kita" ujar Paramitha mengakhiri pidato singkatnya.
Setelah semua orang bubar, hanya tersisa Swastika di tempat itu.
"Kami ada di pihakmu" ujar istri kedua Daneswara itu sambil mengelus pundak Paramitha.
Paramitha kembali ke kamarnya dia menengok suaminya sedang berdiskusi bersama para patih. Paramitha tidak ingin lagi mendengar apa yang mereka perbincangkan dia segera menuju ruang makan.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Raja Daneswara belum juga menampakan wajahnya di meja makan. Atmadewa datang membawa kabar bahwa ayahnya tidak bisa makan malam bersama. Mereka makan dalam diam. Paramitha tidak berselera menghabiskan makanan yang ada di hadapannya. Dia pamit meninggalkan semua yang ada di meja makan.
__ADS_1
Paramitha menuju kamarnya. Dia membasuh wajahnya, mengganti pakaian, mengurai rambutnya lalu berbaring di atas tempat tidur. Berjam-jam dia menunggu suaminya kembali. Hingga lewat tengah malam Daneswara berbaring di sampingnya.
Paramitha yang sengaja membelakangi suaminya bisa bernafas lega. Dia memejamkan matanya lebih rapat, dia berharap kegundahan di hatinya segera berlalu.
Sementara itu di luar benteng istana, Bansheer telah bergabung bersama pasukan tiga jaya. Sedangkan Piyush bersama pasukannya telah menyusup ke benteng kota sebelum gerbang ditutup.
Piyush mulai beraksi. Dia mengenakan seragam prajurit Dwipajaya dan mulai memenggal kepala penjaga benteng satu persatu sedangkan anak buahnya telah jauh menyusup hingga ke gerbang istana.
"Hey apa yang kau lakukan!" hardik salah seorang penjaga yang melihat Piyush menggorok leher prajurit.
"Penyusup!" teriak prajurit itu sebelum akhirnya dipenggal Piyush.
"Deng,deng,deng" gong alun-alun dipukul sebanyak tiga kali pertanda bahaya musuh.
"ciutt" sebuah kembang api dilesatkan ke udara oleh salah satu prajurit tiga jaya, pertanda penyamaran telah terbongkar.
"Bansheer mempercepat pasukannya mendekat ke gerbang kota.
Bunyi gong yang berdentang membangunkan rakyat Dwipajaya yang tidak menyangka bahaya muncul di saat mereka tidak siap. Seisi kota kocar kacir. Para Patih mengambil peralatan perang mereka dan berusaha menghalau musuh memasuki istana.
__ADS_1
Paramitha mengguncangkan tubuh suaminya yang tengah tertidur pulas. Daneswara menatap Paramitha setengah emosi karena dibangunkan paksa.
"Ada penyusup, gong baru saja dibunyikan" ujar Paramitha gemetar.
Daneswara segera bangun lalu mengambil pedang miliknya, tidak lupa dia menyarungkan keris ke ikat pinggangnya.
"Pergilah melalui jalan rahasia. Selamatkan rakyat sebanyak yang kau bisa, aku yakin putri dan anak mantu kita bersedia membantu" ujar Daneswara pada Paramitha yang berurai air mata.
"Tidak perlu menungguku, aku mungkin tidak kembali"
Kata terakhir Daneswara membuat Paramitha semakin gundah gulana namun dia segera sadar akan pertemuan mereka sore tadi.
Paramitha berlari sambil berteriak agar para gadis berkumpul di ruang kesenian. Derap langkah kaki memenuhi lorong-lorong istana.
"Baginda, Mahesa telah menghalau musuh mendekat ke istana. Mereka musuh dari tiga jaya" ujar Patih Wirasana.
"Tutup semua gerbang istana teriak Patih Daneswara pada prajurit istana. Mereka menutup gerbang setelah Patih Wirasana dan Raja Daneswara melajukan kudanya meninggalkan istana.
Raja Daneswara mulai mengangkat pedangnya membunuh musuh yang ada di hadapannya. Putranya Atmadewa memandu pasukan tombak, dan Patih Drona memandu pasukan pemanah.
__ADS_1
...----------------...