Dvesa

Dvesa
Resah


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Jhanvi berusaha bagun dari tempat tidurnya.


"Tidak ada masalah. Gayatri menyetujuinya" ujar Siddarth sembari mencegah Jhanvi berdiri.


"Rishi akan menyiapkan barang-barangmu. Mirza dan Ambika akan menjadi pelayanmu di istana" 


Jhanvi mengangguk patuh. Hari itu juga mereka diterima di istana. Lakshita dan ibu suri menyambut Jhanvi dengan suka cita. Begitu pula Raja Sri Narendra yang sangat senang. Dia tak henti memuji putri Madhyaprasta itu.


Pengawalan untuk Jhanvi semakin diperketat karena mereka khawatir Jhanvi akan menjadi sasaran musuh yang ingin menjatuhkan Astapura.


"Nak mulai hari ini, kamar dan taman ini adalah milikmu. Jangan meninggalkan tempat ini tanpa seizin anggota kerajaan. Beritahu penjaga jika kau ingin berjalan-jalan di luar" ujar Lakshita.


"Apa aku bisa bertemu putri Gayatri?" tanya Jhanvi. Dia merasa tidak enak belum belum berpamitan pada Gayatri.


"Tidak nak, Gayatri yang akan menemuimu kalau dia berkenan. Aku telah bertemu dengannya dan dia tidak keberatan. Keselamatanmu adalah yang utama, di sini telah tumbuh penerus Astapura" ujar Lakshita menyentuh perut Jhanvi.

__ADS_1


Jhanvi mengabarkan hal ini pada Raja Aryan dan ayahnya senang sekaligus khawatir. Namun dia menguatkan hatinya bahwa Jhanvi baik-baik saja, putrinya cerdik dan tangguh dia pasti bisa menghadapi masalah yang akan menimpanya.


Rishi merapikan bunga yang diberikan oleh kerabat-kerabat kerajaan atas berita kehamilan putri Jhanvi. Dalam hati kecilnya dia sedikit takut namun juga sedih. Harusnya Gayatri yang ada di posisi ini, namun karena kelalaiannya keadaanya menjadi 360 derajat dengan rencana yang telah mereka persiapkan.


"Bagaimana ini" tanya Gunjana pada Rishi yang mengambil barang terakhirnya di Odissa.


Wajah Gunjana bersimbah air mata. Ujung sareenya basah karena terus menyeka matanya.


"Berhentilah menangis, semua terjadi di luar dugaan kita. Kau tahu, Tuan Siddarth tidak jadi menghukumku malah memberiku tempat menjaga putri Jhanvi" bisik Risih setengah mengecam.


"Jangan bertingkah bodoh! aku pun merasa bersalah padanya. Tunggulah hingga kedaannya menjadi lebih baik" Rishi memperingati Gunjana.


Hari itu Gunjana tidak bisa tidur dengan tenang. Dia terjaga sepanjang malam. Dilema antara harus jujur pada Gayatri atau kepalanya akan dipenggal. Dia membenci Gayatri tapi dia tidak menampik Gayatri selalu berlaku adil padanya. Gayatri berusaha tegar menghadapi kehidupannya di istana wanita meski tahu Gunjana masih saja mengejeknya. 


Ungkapan hati Gayatri tadi, menyentuh hatinya. Ada bagian lain dalam dirinya yang terasa sakit. Dia seharusnya tidak mengulangi kesalahannya menyakiti Gayatri.

__ADS_1


"Aku tidak ingin tahu apa yang terjadi padamu, tapi bisakah kau tidur dengan tenang" hardik Rupika.


Gunjana yang sejak tadi bolak-balik mengganti posisi tidur rupanya membangunkan Rupika. Derit ranjang tua tempat mereka tidur menimbulkan bunyi berisik yang sangat mengganggu.


"Dewa menghukumku" bisik Gunjana.


"Kau pantas menerimanya" tegas Rupika.


Air mata Gunjana kembali mengalir. Bukan karena kata-kata Rupika menohok hati namun lebih kepada kebenarannya yang harus Gunjana akui bahwa hukuman itu sangat menyiksa.


"Rupika…" Gunjana berusaha membangunkan Rupika. Jarang antara kedua raja jang mereka membuat Gunjana harus memanggil kawannya itu agar berbalik menatapnya.


"Jangan katakan apapun padaku. Aku tidak ingin terlibat" balas Rupika menolak membalikan badannya.


Gunjana memejamkan matanya mengulang nasihat Rishi. Sedikit lagi, dia harus bertahan hingga keadaanya membaik agar bisa mengatakan yang sebenarnya. Saat ini dia harus mempersiapkan diri untuk hukuman yang akan diterima nanti.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2