
Gayatri bangun sekitar tengah malam. Suasana di sana sangat sepi. Dia mengintip dari balik celah yang ada di ruangan itu, hanya prajurit yang bergantian jaga yang sibuk mengatur barisan di luar kamarnya.
Susu dingin dan kudapan tersedia di meja yang tak jauh dari ranjangnya. Di sampingnya ada tungku dan kendi. Bara api tungku itu belum sepenuhnya padam. Gayatri menyalakan bara api itu dengan pelepah kelapa kering sebagai umpan api. Kayu-kayu bakar di susunya untuk menghangatkan susu yang ada di kendi.
Pintu kamar Gayatri diketuk halus, tampak Raja Gopal dengan jubah kerajaan lengkap datang mengunjunginya setelah ada laporan asap muncul dari kamarnya.
“Aku meminta pelayanku menyiapkan makan malam untukmu. Ini sudah pergantian hari, makanlah agar tenagamu pulih dan kau bisa membuat keputusan”
Gayatri mengangguk.
“Saksenya, anak kecil itu sudah dewasa. Selama ini dia tak menunjukan ketertarikan terhadap wanita. Kami, aku, istriku, dan ibunya Sonarika mencari gadis-gadis cantik di seluruh negeri untuk dijodohkan dengannya namun dia menolak. Saksenya orang pertama yang mengabarkan kami keputusanmu meninggalkan Siddarth, dia tampak senang. Sebagai seorang ayah, aku melihat ini sebagai pertanda baik. Tapi aku juga tak bisa memaksa, jika wanita yang diinginkannya menolak mendampinginya” ujar Gopal.
“Mengapa dia sangat senang dengan perpisahan kami? Apa sebegitu inginya dia menghancurkan Astapura?” tanya Gayatri
“Tanyakan sendiri pada Saksenya, dia akan menjawab semua keraguanmu” ujar Gopal memilih tak ikut campur terlalu jauh.
“Bisakah aku bertemu dengannya pagi ini?” tanya Gopal.
“Aku akan mengirimkan utusan ke sana. Kau tak diizinkan menginjakan kaki di Subala sampai kau membuat keputusan” Gopal memperingati Gayatri.
“Makananmu sudah datang. Makanlah dengan santai” Gopal meninggalkan Gayatri dan beberapa jenis makan pagi yang enak. Kokok ayam pertama berbunyi saat Gayatri selesai makan. Sudah lama rasanya dia tak menikmati makanannya tanpa takut terhadap penilaian orang lain.
Gayatri menghabiskan waktu menunggu kedatangan Saksenya yang diundur hingga siang. Sampai siang tiba tak tampak wajah lelaki itu. Gayatri berkeliling istana Indrajaya sendirian, di kepalanya banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Saksenya. Sampai malam tiba tak tampak batang hidung pria itu. Raja Gopal membawa berita baru bahwa Saksenya sedang sibuk di Subala, jika Gayatri menentukan pilihan untuk menolak tawaran Saksenya maka dia boleh menulis surat dan pergi dari tempat itu.
“Bukankah ini konyol. Bagaimana mungkin dia meninggalkan seorang wanita tanpa penjelasan?” umpat Gayatri tak habis pikir dengan sikap Saksenya.
__ADS_1
“Dia yang membawaku ke sini dan meninggalkan begitu saja. Benar-benar lelaki kurang ajar” Gayatri menyalahkan Saksenya.
Pagi menjelang Gayatri kehilangan kesabarannya terhadap sikap Saksenya. Dia pamit pada pada istri Raja karena Raja Gopal sedang tak ada di tempat. Dia memacu kudanya menuju Subala berdasarkan peta yang digambar asal-asalan oleh istri Raja.
Gayatri tiba di gerbang kota Subala, prajurit yang melihat kedatangannya segera membukakan pintu. Perjalanannya menuju istana pun tanpa halangan. Kota kecil itu tampak ramai dan maju, Gayatri tak melihat ada orang yang begitu miskin seperti yang ada di jalan-jalan Astapura. Subala lebih bersih dari bayangannya.
“Tunggu sebentar tuan putri” Gayatri dihadang penjaga gerbang istana.
Penjaga itu baru saja menyebutnya tuan putri, dari mana dia tahu kalau Gayatri adalah putri raja sedangkan penampilannya tidak megah dan Gayatri yakin prajurit ini tidak berada di Astapura saat kedatangannya.
Tak lama kemudian pintu gerbang terbuka, tampak Saksenya dan seorang wanita paruh baya beserta jajaran istana menyambut kedatangannya. Gayatri tampak salah tingkah, dia tidak menyangka kedatangannya akan disambut dengan beras di kendi, kalung bunga, dan sindoor.
“Anakku, sentuhlah kendi itu dengan ujung jari kakimu” Gayatri seperti tersihir dia menurut saja apa yang Sonarika, Ibu Saksenya katakan.
Dia menyentuh kendi berisi beras, dan menapakan kakinya di tepung berwarna merah darah. Sampailah dia di hadapan Saksenya karena tujuannya adalah berbicara dengan pria itu. Saksenya tersenyum senang lalu menggariskan sindoor di belahan rambutnya dan Sonarika memberikan bindi merah di dahi Gayatri.
Semua anggota istana mempersilahkan mereka masuk dan meninggalkan Saksenya dan Gayatri di sana.
“Apa yang kau lakukan” kecam Gayatri, matanya mulai berair.
“Raja Gopal pasti meberiku informasi yang salah. Dia bilang telah memperingatimu jangan menginjakan kaki di kerajaan Subala” ujar Saksenya tenang.
“Raja Gopal memang mengatakan itu” balas Gayatri.
“Selamat datang ke Kerajaan Subala, calon permaisuri” sambut Saksenya.
__ADS_1
“Bagaimana bisa ini terjadi?” tanya Gayatri
“Kau seree yang bersulam bulu merak, dan dengan berani menampakan dirimu di sini. Baju yang kau kenakan itu hanya dipakai oleh ibuku dan istriku, kalau kau menginjakan kaki di sini tandanya kau setuju dengan pernikahan kita”
“Putriku kenapa kau berdiri di situ, kemarilah akan ku tunjukan tempat peristirahatan kalian” ajak Sonarika, ibu Saksenya begitu antusias menyambut kedatangan menantunya.
“Ini kamar yang akan kau gunakan selama persiapan upacara pernikahan” ujar sonarika menjelaskan. Kamar itu sangat mewah, bernuansa emas putih, warnanya persis seperti baju besi dan anting yang bersinar yang dikenakan Saksenya. Gayatri lupa, kerajaan ini memiliki tambang emas putih. Itu adalah salah satu penghasilan terbesar di kerajaan ini.
“Nyonya, bisa aku..”
“Jangan memanggilku nyonya. Kau adalah anakku sekarang, panggil aku ibu” Sonarika memperingati Gayatri.
“Aku adalah janda dan rakyat biasa. Sekarang aku hidup sebatang kara. Aku datang ke sini untuk bertanya pada Saksenya ada hal perlu aku ketahui” ujar Gayatri cepat.
“Ya tentu saja. Semua orang menyaksikan Siddarth menghapus bindi di keningmu, dan kau menyebut putraku dengan namanya. Kalian pasti sangat dekat” ujar Sonarika.
"Kau bisa bertanya pada putraku setelah kalian resmi menikah. Sebelum menikah kau tidak diizinkan bertemu calon suamimu. Akan ada upacara pembersihan dan persiapan pernikahan. Istirahatlah, aku akan ke sini saat waktu upacaranya akan tiba” Sonarika menutup pintunya dan penjagaan di ruangan itu semakin diperketat.
Gayatri merasa dia akan gila sebentar lagi. Baru saja dia lepas dari satu masalah sekarang dia harus menghadapi masalah baru. Akhir-akhir ini Gayatri lebih mudah menunjukan amarahnya, dibanding saat dia berada di Astapura. Biar saja semua orang tahu, aku bukanlah menantu yang cocok untuk kerajaan ini.
Sore hari semua pelayan memenuhi kamarnya, bersiap merayakan upacara penyucian. Gayatri dimandikan dan dirias. Dia diarak menuju tempat upacara. Setelah upacara, Gayatri wajib mendengar nasihat dari keluarga kerajaan dan kembali ke kamarnya. Pernikahan akan diadakan besok.
Gayatri tak kuasa menolak semua upacara itu. Dia menyerah, biarkan saja itu semua berlangsung toh tidak ada ruginya menikahi Saksenya dan dia yakin Saksenya jauh lebih menghargainya. Dia harus membicarakan beberapa hal dengan lelaki itu.
__ADS_1
...----------------...