Dvesa

Dvesa
Awal Karma


__ADS_3

“Apa yang terjadi tuan tampak tidak berjalan sesuai rencana” bisik Piyush


“Narendra mengetahui kebohonganku. Dia menggenalku lebih baik dibanding Siddarth” ujar Bansheer sambil mengusap dagunya.


Wajah Bansheer tampak gusar. Memberontak bukanlah ide yang baik untuk saat ini. Narendra telah melihat seluruh lahan dan laporan keuangan. Setiap bulan dia akan menggirimkan orangnya untuk memeriksa. Kesempatan Bansheer untuk memberontak semakin tipis, pergerakannya mulai terbatas.


Tidak ada gunanya menguasai Jiwang dan Tiga Jaya jika dia tetap ada dibawah kaki Astapura, batin Bansheer.


“Akan aku pikirkan lagi cara yang lain. Tetap tarik sebagaian hasil penjualan. kumpulkan dan pastikan utusan Astapura tidak akan menemukannya” perintah Bansheer.


                                                                                           *****


Bulan demi bulan berlalu Bansheer belum juga menemukan cara yang tepat untuk membangun kerajaannya sendiri. Bansheer menangkap kecurigaan Narendra, Siddarth pun tidak menunjukan batang hidungnya dalam masalah ini.


Sementara itu di Astapura telah terjadi rapat keluarga kerajaan, Sri Narendra ingin Siddarth segera mengambil alih tahta sebagai Raja sedangkan dirinya akan menjadi penasihat pribadi sekaligus mengawasi menteri dan koleganya yang lain di belakang Siddarth.


Siddarth sadar betul, cepat atau lambat dirinya akan dijadikan tameng Astapura namun tawaran menjadi penguasa begitu menggoda. Dia mulai menimbang-nimbang posisisnya yang semakin kuat dan akan mengadakan lebih banyak lagi perang dibawah pimpinannya.


“Aku tidak setuju” tentang Lakshita sambil membetulkan tudungnya yang terlihat melorot dari kepalanya.

__ADS_1


“Istriku apa yang kau ragukan?” tanya Sri Narendra tenang.


“Gayatri belum memiliki keturunan, bagaimana mungkin Siddarth naik tanpa permaisuri”


Sesuai adat dan kebiasaan yang berlaku di Astapura, seorang pangeran yang akan diangkat menjadi raja harus memiliki keturunan dari istri sahnya.


“Menantuku tenangkan dirimu” ujar Ibu Suri pada Lakshita.


“Meskipun Gayatri belum memiliki keturunan, kita bisa menyandingkan Siddarth bersama Jhanvi atau setelah Jhanvi melahirkan, anaknya akan menjadi anak Siddarth dan Gayatri agar takhtanya tetap aman” ujar Ibu Suri memberi saran.


Lakshita menatap mertuanya tidak percaya.


“Aku akan bicarakan hal ini dengan Gayatri” ujar Siddarth memecah keheningan. Tidak ada yang bisa menghentikan langkah Siddarth saat pria itu keluar ruang pertemuan dan menuju bangsal wanita.


“Aku ingin bicara berdua denganmu” ujar Siddarth pada Gayatri yang sedang menyulam bersama dayang-dayangnya. Tampak hari mulai sore dan udara di ruangan itu mulai hangat.


“Katakan. Tidak ada yang perlu disembunyikan disini” ujar Gayatri.


“Ayah akan menyerahkan tahtanya padaku. Namun dengan syarat aku harus memiliki keturunan. Hanya wanita yang akan melahirkan anakkulah yang akan diangkat sebagai permaisuri”

__ADS_1


Rupika dan Gunjana saling melirik.


“Ayah mertua masih sangat sehat, belum waktunya beliau turun tahta dan kita masih punya banyak waktu untuk memiliki keturunan”


Siddarth tertawa sinis mendengar ucapan Gayatri.


“Aku memimpikan tahta ini sejak lama. Lagipula kita telah lama bersama namun belum juga memiliki keturunan. Ada Jhanvi yang bisa menggantikan posisimu.”


Gayatri telah menduga kata-kata ini akan dilontarkan Siddarth, namun sekali lagi hatinya teriris mendengar ucapan itu.


“Kau tidak pernah menanyakan apapun padaku bahkan lupa akan janjimu pada ayahku saat kau melamarku. Meskipun ini hanyalah pernikahan politik, kau….”


“Kau harusnya sadar, sikapmulah yang melukai dirimu sendiri” ujar Siddarth sebelum Gayatri menyelesaikan kalimatnya.


“Jika kau berani melakukan itu, maka ingatlah karma dari semua ucapan dan janjimu pada keluargaku terutama ayahku akan mendatangkan bencana bagi hidupmu!” teriak Gayatri.


“Berteriaklah sesuka hatimu, karena sesungguhnya permaisuri tidak pernah berteriak pada rajanya. Hanya Mahadewa yang tahu mengapa aku mengambil jalan ini” cemooh Siddarth meninggalkan Gayatri yang mulai terisak.


Malam itu air matanya membasah jubah dan rambutnya. Gayatri murka matanya melotot dan memerah. Urat-urat wajahnya nampak jelas, dia bersumpah cepat atau lambat karma akan datang pada Siddarth dan siapapun yang ikut membantunya.

__ADS_1


__ADS_2