
Nakula mendatangi Saksenya yang sibuk berlatih memanah sendirian di ruang memanah kerajaan.
Melihat Nakula datang, Saksenya menghentikan aktifitasnya sebentar. Mereka berdua duduk bersila di lantai ruangan itu.
"Paman tidak tahu ini kabar buruk atau baik. Klan Tengri, dipimpin oleh Hagai Khan sedang dalam proses mengatur hubungan dagang" ujar Nakula.
Tengri dan Hagai Khan batin Saksenya. Nama itu tampak tidak asing bagi Saksenya.
Nakula menceritakan secara singkat tentang klan Tengri dan Hagai Khan yang dia ketahui. Saksenya menyimak dengan Saksama.
"Di satu sisi mengatur hubungan dagang akan memperlancar arus dagang agar lebih terorganisir, di sisi lain setiap pedagang punya kepentingannya masing-masing tidak harus berpatok pada arus perdagangan"
Nakula tampak khawatir. Dia membayangkan cerita-cerita sadis yang dia dengar tentang Hagai Khan.
Saksenya menangkap kekhawatiran di wajah ayah angkatnya itu. Tidak biasanya Nakula gelisah seperti itu. Ayah angkatnya selalu tenang dalam segala situasi.
"Ada lagi yang paman ketahui?" tanya Saksenya.
"Pembantaian" ujar Nakula singkat.
Bukankah itu hal yang wajar untuk menyebarkan pengaruh? lagi pula Nepal bukan kerajaan yang kaya. Barang yang mereka perdagangkan cuma sutra. Tentu tidak akan menarik bagi Hagai Khan.
__ADS_1
"Siddarth belum seberapa, keluarga Khan dari Tengri terkenal sebagai pembantai ulung secara turun-temurun. Mereka tidak mengenal belas kasih dan pengampunan" ujar Nakula menatap lurus mata Saksenya.
Bulu kuduk Saksenya merinding. Kalau benar Hagai Khan sekuat itu, maka dia tidak peduli siapa yang ada di hadapannya akan langsung dihabisinya.
Saksenya selalu berdoa agar suatu saat Siddarth di panggang di dasar neraka karena sikap serakah dan kebiasaan membunuhnya, namun di luar sana ada yang lebih kejam dibanding Siddarth. Doa Saksenya sekarang berubah, semoga Dewa memusnahkan manusia-manusia iblis itu.
"Mereka akan berlayar menuju Nusantara" ujar Nakula lagi.
Saksenya membulatkan matanya mendengar nama Nusantara. Dia mulai menerka-nerka pelabuhan pertama yang akan ditaklukan klan Tengri.
"Paman, sebaiknya aku segera kembali ke Astapura dan menyampaikan kabar ini" ujar Saksenya.
Nakula mempersiapkan keberangkatan kedua orang itu.
"Bagaimana dengan paman?" tanya Saksenya khawatir.
"Jangan pikirkan aku. Ini takdir yang harus aku hadapi. Cepatlah kalian pergi, dan bersiaplah" ujar Nakula. Dia yakin akan ada pembantaian besar melebihi perang Bharatayudha.
Sonarika dan putranya pamit.
"Ada apa?" tanya Sonarika penasaran dengan percakapan putranya dan Nakula.
__ADS_1
Saksenya menceritakan sebagian kisah klan Tengri.
"Ibu jangan khawatir, segelah bertemu Raja Sri Narendra, aku akan menemui Raja Gopal dan membujuknya agar tidak membuat keributan" ujar Saksenya menangkan ibunya yang khawatir dengan konflik kerajaan di Hindustan.
"Dosa apa yang telah kami lakukan hingga cobaan ini datang bertubi-tubi?" ujar Sonarika terisak pada putranya.
"Ibu tenanglah, bukan saatnya memikirkan dosa di masa lalu. Sebaiknya kita pikirkan agar Hagai Khan tidak memasuki daratan Hindustan" Saksenya memeluk ibunya meyakinkan wanita itu bahwa mereka bisa melewati semua itu dengan baik.
"Bagaimana kalau aku mengantarkan ibu ke Khasmir sebelum menuju Astapura?" usul Saksenya.
"Apakah ibumu sekarang telah menjadi beban?" tanya Sonarika. Wajah sendunya berubah menjadi galak.
"Bukan seperti itu ibu, alangkah baiknya ibu tinggal di sana dan tenangkan pikiran ibu" ujar Saksenya tersenyum melihat raut ibunya.
"Aku akan ke Khasmir setelah memastikan putraku menemui Sri Narendra dan Gopal. Dua orang itu benar-benar! Dulu mereka sangat akrab entah apa yang dipikirkan Sri Narendra hingga ingin merebut wilayah Indrajaya" umpat Sonarika.
"Akrab?" tanya Saksenya curiga.
Sonarika menghela nafas.
"Dengarkan baik-baik, ini akan jadi kisah yang panjang" ujar Sonarika sebelum memulai ceritanya.
__ADS_1
...----------------...