Dvesa

Dvesa
Waktunya Hampir Tiba


__ADS_3

Iringan dan musik menyambut kedatangan tamu dari berbagai negara dan kerajaan yang diundang. Tampak Saksenya, Raja Aryan, dan Raja Gopal berada di barisan depan. Ketiganya mengenakan baju kerajaan lengkap dengan mahkota disusul iringan yang membawa hadiah.


Jhanvi tersenyum gembira, dia berada di sisi Raja menatap penuh haru pada ayahnya yang tampak gagah, menunggangi kuda coklat kesayangannya. Mereka turun dari kuda lalu mendekat kearah keluarga kerajaan Astapura. Saatnya pengalungan bunga menyambut kedatangan para tamu istana.


“Wah siapa itu?” bisik rakyat yang tengah berkumpul menyaksikan pengalungan bunga itu. Semua orang menoleh pada barisan terakhir dari pengalungan bunga.


Jhanvi POV


“Apa???” raut keheranan tidak bisa Jhanvi sembunyikan dari wajah cantiknya.


Gayatri berdiri di barisan terakhir keluarga kerajaan, sedang mengalungkan bunga. Aura Gayatri memberikan energi positif, dia tampak anggun. Baju yang Jhanvi berikan dan riasa yang Jhanvi minta pada pelayan membuat Gayatri tampak sederhana dan anggun di waktu bersamaan.


“Bagaimana mungkin gaun salah tempat itu terlihat cantik?” umpat Jhanvi.


“Hm biar saja dandanan konyol itu, dia tidak akan bisa merebut Siddarth dan posisiku saat ini” Jhanvi melihat Siddarth meminta dukungan pada suaminya.


“Apa????” kali ini hati Jhanvi berontak.


Wajah Siddarth berbinar. Berbeda dari kemarin malam saat ini Jhanvi merasa Siddarth seperti bujang muda yang tampak jatuh cinta. Perasaan Jhanvi mulai tak karuan, hari ini dia seharusnya menjadi perhatian seluruh negeri mengapa Gayatri yang berhasil mencuri perhatian semua orang? bahkan Raja Aryan ayahnya ikut memuji kecantikan Gayatri.


“Tidak bisa dibiarkan. Sebentar lagi semua orang akan menyaksikan betapa rendahnya ****** itu”


Semua undangan telah duduk di tempat yang dipersilahkan sebelum penobatan dimulai, mereka akan disuguhi kudapan Astapura sambil mendengarkan musik dan tari-tarian.


“Sungguh sebuah kebangaan para raja, bangsawan, dan tamu undangan bisa hadir di tempat ini. Hari ini adalah hari yang kami tunggu dan akan tercatat dalam sejarah Hindustan, penobatan raja dan ratu baru Astapura sekaligus perayaan delapan bulan calon penerus Astapura” ujar Raja Saksenya yang menjadi pemandu acara. Riuh rendah suara rakyat memenuhi pelataran istana.


“Sebagai pembuka acara hari ini, kita akan menyaksikan persembahan lagu dan tarian dari kebangaan Negri Nusantara putri Gayatri” ujar Saksenya, dia menatap Gayatri seolah meyakinkan bahwa Gayatri bisa melakukan permintaan di luar skenario penobatan.

__ADS_1


Gayatri bangun, yang lainnya tampak cemas. Gayatri membisikan sesuatu di telinga seorang pemain musik. Sebelum kakinya menyentuh ukiran lantai yang ada di tengah pelataran, dia memandang Jhanvi dengan pandangan menantang, menyulut emosi Jhanvi.


“Sebelum hamba mempersembahkan tarian, izinkan hamba mengucapkan sepatah kata untuk calon raja dan ratu. Semoga Dewa melimpahkan berkat dan karmanya bagi pasangan ini, dan semoga semua mahluk berbahagia” ujar Gayatri tersenyum anggun.


Gayatri menjentikan jarinya, memberi instruksi pada pemusik. Alunan musik pertama diikuti suara merdu Gayatri.


‘woow’ respons semua orang yang mendengar suara Gayatri.


Gayatri menyanyikan lagu hikayat sepasang kekasih yang bercerita dua orang yang berjanji akan terus bersama sampai mati. Suatu ketika putri juragan jatuh cinta pada sang pria, dia mengambil sang pria. Pria berjanji dia akan datang menjemput kekasihnya namun janji tinggalah janji. Sang pria diberi kekayaan dan kekuasaan, kekasih miskin yang percaya menunggunya. Sampai mati pria itu tak pernah datang padanya.


Semua hadirin bertepuk tangan, ada beberapa yang menangis dan terharu dengan lagu dan tarian yang dibawakan Gayatri. Meina memuji Gayatri, penampilannya sungguh menggetarkan hati semua orang.


Jhanvi merasa tersindir dengan lagu itu. Wajahnya merah padam, sedangkan Siddharth tampak sedih dengan nyanyian itu. Dia mempertanyakan isi hatinya, mencoba mencari kenangan indah antara dirinya dan Gayatri sambil mengingat janji yang pernah diucapkan.


Waktu penobatan tiba. Upacara itu berjalan lancar. Mahkota telah diserahkan dan Siddarth dan Jhanvi telah sah menjadi raja dan ratu baru. Gayatri hanya bisa menahan nafas sambil mempersembahkan tarian dari Odisa. Banyak yang tak menyangka Gayatri mengambil bagian itu, karena tempat itu sangat terlarang bagi anggota kerajaan.


Jhanvi yang mendengar bisik-bisik itu tersenyum sinis. Itulah posisi Gayatri yang sebenarnya. Sekarang langkahnya menjadi pendamping satu-satunya Siddarth telah tercapai, yang harus dia lakukan sekarang adalah menyingkirkan Gayatri karena hati kecilnya mulai ragu dengan sikap Siddarth.


“Tuan, waktu lahirannya telah dekat” bisik tabib.


Siddarth tampak gugup, bayi mereka akan lahir satu bulan lebih cepat dari waktu normal.


Siddarth mengumumkan pesta dihentikan karena waktu melahirkan sudah dekat, tamu undangan memaklumi situasi yang sedang Siddarth hadapi dan memilih meninggalkan tempat pesta membiarkan keluarga kerajaan fokus pada kelahiran sang penerus. Raja Aryan ikut menunggu kelahiran cucunya.


Jhanvi mengerang kesakitan, suaranya terdengar hingga ke Odisa dan bangsal wanita. Penghuni kedua tempat itu berkumpul di koridor, saling berdesak-desakan menunggu berita baik dari ruang istana.


Gayatri ada di antara mereka, menunggu dalam diam. Dia satu-satunya keluarga kerajaan yang tak diizinkan masuk, sedangkan kepala pelayan boleh berada di sana.

__ADS_1


“Nyonya” sapa Meina pada Gayatri.


“Usia saya sudah tak muda lagi. Selama ini saya telah berkeliling dunia mengajarkan tarian pada gadis-gadis muda. Tak disangka takdir mempertemukan kita. Saya tak mengerti kondisi apa yang tengah anda hadapi, tapi tongkat ini dapat menuntun anda menjelajahi negeri manapun yang anda mau” ujar Meina menyerahkan tongkat latihan yang pernah dipakai memukul punggung dan jemarinya.


“Nyonya, saya tak bermaksud merendahkan pekerjaan penari. Saya punya tujuan lain yang harus saya lakukan. Terima kasih untuk ilmu yang anda berikan, saya menaruh hormat atas kesediaan anda menuntun saya” ujar Gayatri formal.


Meina paham maksud Gayatri, Dia tak memaksa, diambilnya kembali tongkat itu lalu pamit dari hadapan Gayatri sambil mendoakan kemudahan untuk segala rencana Gayatri.


Hari menjelang malam erangan Jhanvi belum juga berhenti. Seluruh istana tampak panik, semua tabib  dari penjuru negeri telah berdatangan. Tak ada satupun di antara mereka yang sanggup meredakan nyeri di perut Jhanvi.


“Ibu tolong aku ibu, ini sangat sakit” keluh Jhanvi pada Lakshita mertuanya.


Air ketubannya terus merembes namun kepala bayi belum juga nampak.


“Nyonya, terus tarik nafasmu dan jangan mengerang. Proses persalinan akan semakin sulit jika anda tak mengindahkan instruksi kami” seorang tabib wanita mencoba menenangkan Jhanvi.


“Apa maksudmu? Ini sangat sakit. Kau perawan tua, mana mungkin kau  mengerti sakitnya saat melahirkan” hardik Jhanvi jengkel.


Tabib wanita itu hanya menundukan kepalanya. Sudah bertahun-tahun dia menolong orang yang kesulitan bersalin, tak ada satupun dari mereka yang meremehkan  kemampuannya. Hari ini dia merasa direndahkan, dengan perasaan sedih tabib tua itu pamit dari hadapan raja dan anggota istana.


“Tabib, tolong jangan masukan ke hati ucapan Ratu. Ini pengalaman pertamanya, harap dimaklumi” ujar Laksita.


“Nyonya, simpan upah yang akan anda berikan kepada saya. Sejujurnya saya melihat ada tanda tak baik pada rahim nyonya tapi bisa saja saya salah. Ada banyak tabib hebat di sini, mereka akan membantu proses persalinan. Semoga Dewa bersama anda” pamit sang tabib.


Sepeninggalan tabib itu, Jhanvi terus mengerang. Dia tak mengindahkan instruksi dari tabib lain. Kepalanya hampir pecah karena rasa sakit beruntun, nafasnya mulai tersengal, keringat membanjiri tubuhnya.


“Hey, apa kalian hanya menonton tanpa berbuat sesuatu? Kalau sampai terjadi hal buruk pada istri dan anakku akan kupenggal kepala kalian!” teriak Siddarth menggelegar.

__ADS_1


 


...----------------...


__ADS_2