Dvesa

Dvesa
Tiga Jaya


__ADS_3

"Ada apa memanggil kami kemari?" tanya Jayamangkala. Pria tinggi besar itu masuk ke ruangan khusus yang telah dipersiapkan Jayaswara.


Raut wajah Jayamangala tampak was-was. Dia memperhatikan sekitar ruangan. Ruangan itu tidak terlalu besar. Terdapat satu meja dan tiga bufet kecil sebagai tempat duduk. Dekat pintu ruangan terdapat meja kecil, peralatan menulis, dan berbagai jenis seruling di panjang di sana.


Tidak lama kemudia Jayakarsa masuk ke ruangan itu dan duduk bergabung bersama mereka.


"Kita bertiga sudah berkumpul di sini. Ada baiknya aku katakan sebuah berita yang aku dapat dari Bansheer" ujar Jayaswara berbisik, sambil mencondongkan tubuhnya ke tengah meja.


Jayamangkala sanksi dengan berita dari Bansheer, yang dimaksud Jayaswara. Kenapa kakaknya ini senang sekali bergaul dengan Bansheer yang menurut Jayamangkala tampak mencurigakan.


"Katakan apa yang kakak dengar" pinta Jayakarsa.


Jayamangkala mengerutkan dahi melihat betapa tertariknya Jayakarsa dengan berita itu.


"Hagai Khan akan datang memporak-porandakan Nusantara" ujar Jayaswara.


Jayamangkala memicingkan matanya. Dia sudah tahu berita ini dan menyimpannya rapat-rapat. Kedua saudara di hadapannya adalah tipe pria yang mudah panik entah bagaimana caranya mereka memimpin rakyatnya.


"Omong kosong apa yang kau katakan?" tanya Jayamangkala.


"Kak, jangan memulai pertengkaran" Jayakarsa mencegah perdebatan kedua kakaknya.

__ADS_1


"Hey dengar! karena kita adalah saudara maka kukatakan rahasia ini pada kalian. Hindustan sedang mempersiapkan angkatan perangnya. Tujuan Hagai adalah menguasai perdagangan" ujar Jayaswara dengan nada tinggi.


"Lanjutkan" ujar Jayamangkala melunak.


"Itu saja informasi yang ingin aku bagikan. Selebihnya mari kita pikirkan jalan keluar untuk kerajaan kita" Jayaswara menyudahi informasinya.


Jayakarsa tampak sedih. Dia baru berusia 38 tahun sedangkan kedua kakaknya berusia 40 dan 39 tahun. Betapa menyedihkan jika mereka mati di usia muda. 


"Hentikan drama itu" hardik Jayamangkala, melihat raut melankolis adiknya. Jayamangkala dapat menebak, Jayakarsa pasti sedang memikirkan sesuatu yang dramatis.


"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan" tanya Jayakarsa.


"Tenangkan dirimu dan perbanyaklah bergaul dengan kerajaan lain" ujar Jayamangkala.


"Sebetulnya aku tahu berita ini dari kerajaan Singaparna minggu lalu. Hanya saja Gajayana belum menentukan keputusan. Sejauh ini mereka hanya memata-matai pergerakan Hagai Khan" ujar Jayamangkala tenang.


"Kenapa kau baru memberitahu sekarang!" tanya Jayaswara murka.


"Apa kau ingin semua tanah ini rata dengan mayat?" 


"Jaga perkataanmu Jayaswara! karena sifat pengecutmu aku menunda memberikan kabar ini" ujar Jayamangkala marah.

__ADS_1


"Tuan makanannya sudah siap" ujar pelayan di depan pintu sekaligus menghentikan pertengkaran mereka.


"Masuk" perintah Jayaswara.


Pelayan itu masuk membawakan makanan kesukaan ketiga kakak beradik itu. Pelayan meninggalkan mereka setelah yakin semua makanan telah ditata dengan benar.


"Makanlah. Aku menyiapkan makanan kesukaan kalian" ujar Jayaswara membuang muka.


Jayamangkala juga tak kalah judesnya. Dia langsung memakan makanannya tanpa menegur tuan rumah. Mereka bertiga makan dalam diam.


"Jayakarsa bilang pada kakakmu makanan ini rasanya tidak enak" ujar Jayamangkala sambil terus memakan makanan itu.


Jayakarsa memandang kedua kakaknya. Tingkah mereka seperti anak kecil yang saling berebut mainan.


"Jayakarsa bilang pada kakakmu habiskan makanannya. Komentarnya tidak dibutuhkan di sini" balas Jayaswara.


Jayakarsa cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Hubungan kedua kakaknya terkenal kurang harmonis. Tapi Jayakarsa tahu darah lebih kental dari air, mereka tetap saling menjaga dengan caranya masing-masing.


"Aku akan kabari nanti jika Singaparna punya informasi baru. Terima kasih atas makanannya. Sampai ketemu lagi" ujar Jayamangkala pamit tanpa melihat kedua saudaranya.


"Baiklah, hati-hati" ujar Jayaswara dan Jayakarsa bersamaan.

__ADS_1


...----------------...


 


__ADS_2