
Gayatri memeluk Jhanvi yang sedang berjuang, dielusnya punggung Jhanvi yang tampak lemah. Tak lama berselang erangan panjang Jhanvi memekakan telinga. Gayatri mundur, mempersilahkan wanita-wanita penolong persalinan berjaga di sisi ranjang. Semua orang dalam ruangan itu dipersilahkan menunggu di luar ruangan kecuali Siddarth.
Tangis bayi memecah ketegangan malam itu. Tepat pukul 03.00 dini hari bayi laki-laki itu lahir. Penolong persalinan mengambil bayi laki-laki itu lalu memandikannya. Setelah itu bayi lelaki yang belum diberi nama itu diserahkan pada Jhanvi untuk disusui.
Tangis Jhanvi dan Siddarth pecah. Kedua orang itu kembali tersedu. Dua keluarga besarnya ikut masuk lalu kembali tersedu. Gayatri penasaran dengan tangis mereka yang tak kunjung berhenti.
Gayatri masuk, di ranjang semua orang menatapnya iba. Gayatri melihat bayi mungil itu dalam gendongan Jhanvi. Dia memiliki tahi lalat besar tepat di dahinya, kulitnya menghitam. Jhanvi menggeser tangannya yang menutupi bokong bayi yang sedang menyusui itu. Terkejutlah Gayatri. Bayi itu tak memiliki lubang ***** seperti manusia pada umumnya.
Dvesa, Dvesa…
Karma datang karena sifat tamak manusia
Pujian tulus orang yang tersakiti akan menemui ujungnya. Hari dimana bumi menjadi gelap, bencana datang silih berganti menghapus kesombongan dan ketamakan.
__ADS_1
Suara itu bergema di dalam diri Gayatri.
Gayatri melihat sosok Dewi Durga dalam bayi malang itu. Dewi sedang menari, gerakan kaki dan tangannya menghancurkan kesombongan. Tari-tariannya mendatangkan karma. Sesuai permohonan Gayatri, karma yang paling menyakitkan telah datang pada kedua orang yang paling dibencinya kala itu.
Karma itu tak memiliki celah di mana semua kotoran akan dibuang. Kotoran itu akan bertumpuk dan semakin menumpuk membusuk dalam dirinya lalu rusak dan hancur.
Gayatri gemetar. Matanya merah menahan tangis. Dia tak menyangka karma ini menyakitkan. Buah cinta mereka harus menanggung beban itu.
"Lihatlah putra kami" ujar Siddarth. Rasa malu sudah hilang saat dia mengatakan itu. Seluruh dunia tahu dia juga dalang utama dari kekacauan itu.
Wajah bersalah kedua orang itu menyentuh Gayatri. Dia tak sanggup berdiri lebih lama. Seluruh tubuhnya gemetar. Rasa marah, sakit, hati, dan juga dendam telah menyentuh sisi terdalam nuraninya.
Gayatri berdiri tegak lalu berkata :
__ADS_1
"Dewi telah menjawab doaku, dunia telah mengetahui perbuatanmu. Jangan pernah meremehkan dendam dan air mata orang lain, jangan pernah membuat orang lain merasakan itu. Hari ini kalian telah melihat kekuatan Dewi dalam doa dan baktiku, selanjutnya jangan ada yang bernasib sama seperti kedua orang ini. Sesungguhnya orang bersungguh-sungguh dalam amarahnya akan mendatangkan murka dan bencana" ujar Gayatri nafasnya menderu mengeluarkan semua unek-unek yang dipendamnya.
"Anak itu, bayi yang malang tak berdosa itu harus menyimpan kebusukan kedua orang tuanya. Mohon ampun tidaklah cukup, kalian harus berhati-hati terhadap tindakan dan ucapan kalian. Kalian tidak pernah tahu kapan karma itu akan datang" suara lantang Gayatri membangunkan bulu roman orang-orang yang mendengarnya.
Delapan jam kemudian bayi mungil itu dikremasi dalam api suci, orang dalamnya telah membusuk dan mengeluarkan bau yang menyengat. Kedua orang tuanya tertunduk kaku tak menyangka pembalasan itu sungguh pilu. Permintaan maaf mereka di kaki Gayatri diampuni oleh Gayatri.
Gayatri mengatakan dia akan meninggalkan kerajaan itu dan melepas statusnya sebagai istri sekaligus selir raja.
"Gayatri, aku berdosa terhadap ayah dan ibumu. Sepanjang hidup rasa bersalah ini tak akan hilang. Maafkan aku untuk semua janji dan kesalahan yang telah aku ingkari dan lakukan. Hari ini akan aku ingat sepanjang hidupku" ujar Siddarth.
Dia memeluk Gayatri erat. Gayatri membalas pelukan itu sebagai seorang sahabat yang memaafkan kesalahannya. Beban di dada Gayatri perlahan terlepas. Ikatan yang membelenggunya selama ini perlahan mulai terurai. Lubang di dadanya mulai tertutup. Seluruh emosinya luruh, hilang entah kemana.
...----------------...
__ADS_1