
Waktu malam tiba. Raja Daneswara naik ke ranjang. Dia melihat Paramitha belum tertidur.
"Apa yang kau pikirkan" tanya Daneswara.
"Aku mendengar percakapanmu dengan para Patih" ujar Paramitha melirik Daneswara.
"Aku tidak mau pergi dari Dwipajaya" ujar Paramitha kesal.
"Wanita dan anak-anak adalah prioritas kami. Selamatkan diri dan bangun kehidupan kalian"
"Kehidupan apa? dimana?" Paramitha bangkit dari tidurnya menatap Daneswara.
"Ini adalah rumah kami. Apa kau pikir menyelamatkan diri akan membebaskan kami dari ancaman menjadi budak?" mata Paramitha mulai basah.
"Kami hanya akan jadi pendatang di negeri orang. Budak di negeri orang"
Daneswara memalingkan wajah, menolak melihat raut marah istrinya.
"Keputusan ini belum final. Belum ada berita pasti kami sedang memikirkan jalan terbaik" ujar Daneswara turun dari ranjang meninggalkan Paramitha yang kini tersedu-sedu.
*****
__ADS_1
Hari-hari berlalu dengan cepat. Gayatri harap-harap cemas menunggu berita dari Nusantara dan reaksi Siddarth saat mendengarnya.
Selama itu pula Gayatri memperbaiki hubungannya dengan Siddarth. Dia mulai mengurangi sifat keras kepalanya dan mengikuti permainan Siddarth.
Siddarth banyak menghabiskan waktu di bangsal wanita sembari mengajari Gayatri berlatih. Mereka melewati hari-hari berdua meskipun Gayatri tahu, Jhanvi memandangnya sinis setiap Siddarth bersamanya.
Jhanvi tidak bisa melakukan apa yang dia mau. Siddarth dan Gayatri dijaga banyak pelayan. Maski kemampuan Gayatri bukan ancaman, dalam hati kecil Jhanvi ada perasaan tidak senang. Gayatri bisa terlibat dalam urusan mereka di medan perang.
Jhanvi merasa kepalanya pusing dan seluruh badannya lemas. Emosinya tidak stabil dan mudah kelelahan.
"Nyonya anda baik-baik saja?" tanya Rishi.
"Tidak, bisa kau panggilkan tabib, mungkin saja penyakit maag ku kambuh karena banyak pikiran" jawab Jhanvi.
Tak lama berselang tabib datang. Dia memeriksa nadi Jhanvi beberapa kali seolah tidak yakin. Tabib meminta Jhanvi membuka mulut, mata dan menunjukan bagian lehernya, bagian kaki dan bagian perut.
Tabib berbisik pada salah satu asisten wanitanya. Lalu dia meminta Rishi memanggil Siddarth kemari. Sembari dilakukan pemeriksaan fisik semua orang dalam ruangan itu harus keluar hanya wanita yang dibiarkan membantu di kamar itu. Setelah selesai asisten tersebut berbisik kepada tabib.
Siddarth muncul di saat yang tepat, dengan wajah panik. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Gayatri karena selama satu minggu ini dia terus bersama Gayatri.
"Tuan saya ingin menyampaikan kabar bahagia. Istri anda hamil, usia kandungannya memasuki minggu ke dua" ujar tabib.
__ADS_1
Siddarth melonggo antara terkejut dan senang.
Jhanvi yang mendengar sangat senang. Dia tidak berhenti tersenyum.
"Tunggu disini sebentar, aku ingin berbicara dengan tabib" ujar Siddarth menutupi Jhanvi dengan selimut.
"Bukankah obat yang kau berikan harusnya manjur?" tanya Siddarth.
"Tuan, obat itu telah terbukti khasiatnya namun mungkin saja terjadi kelalaian dalam pengawasan dan pemberian obat" ujar tabib tenang.
"Baiklah. Anda boleh kembali" ujar Siddarth.
"sstt, sttt, sttt" panggil Rishi pada Rupali dan Gunjana yang sibuk memintal benang.
Rishi melempar sebuah kerikil kecil untuk mengalihkan perhatian mereka.
"Kemarilah" ujar Rishi tanpa suara pada Rupika saat pandangan mata mereka bertemu.
Gunjana dan Rupika mendekat ke arah pohon-pohon mangga dan jambu yang tumbuh di dekat tempat mereka memintal.
Rishi menceritakan kejadian yang baru saja terjadi. Seketika wajah Gunjana pucat pasi.
__ADS_1
Rupika hampir pingsan mendengar berita yang tak terduga itu. Rishi segera pergi sebelum ketahuan sedangkan mereka berdua berpura-pura membereskan peralatan memintal dengan tenang lalu membawanya ke benteng bangsal wanita tempat Gayatri berada.
...----------------...