
Raja Manggala memeluk Adhiyaksa yang tampak kumal di hadapannya. Bocah itu penuh dengan debu, peluh, dan tangisan yang membanjiri kedua matanya.
Adhiyaksa bersimpuh di hadapan Manggala memohon pertolongannya agar diantar secara diam-diam ke kerajaan di mana kakak pertamanya berada.
Manggala memberi makan dan minum pada Adhiyaksa. Dia dengan sabar mendengar cerita Adhiyaksa tentang penyerangan yang telah membumihanguskan kerajaan mereka.
"Putra Daneswara, aku hanya bisa membantumu pergi ke kerajaan di mana saudarimu berada. Jika kau ingin balas dendam maka lakukan dengan kedua tanganmu" ujar Manggala menolak ikut campur masalah kerajaan Dwipajaya.
Setelah makan dan mandi, Manggala mengizinkan Adhiyaksa menginap.
Manggala duduk merenung. Daneswara, kenapa harus Hindustan? ada banyak putra di kerajaan-kerajaan nusantara yang bisa dijadikan suami bagi anaknya. Manggala juga menyayangkan sikap murah hati Daneswara yang dibalas air tuba oleh pihak yang tidak tahu berterima kasih.
Apapun yang terjadi di Dwipajaya, dia harus menuntaskan janji untuk mengantar putra Daneswara menemui saudari-saudarinya.
keesokan harinya saat subuh menjelang. Adhiyaksa pamit bersama pengawal yang ditugaskan untuk mengantar Adhiyaksa. Mereka menyamar layaknya musafir untuk mengelabui musuh yang bisa datang sewaktu-waktu.
__ADS_1
"Kakanda, tidak kau ingin membantu putra Daneswara? semasa hidupnya Daneswara telah membantu banyak kerajaan?" tanya istri Manggala.
"Karena itu aku membalas kebaikannya dengan mengantarkan putranya Dinda. Jangan pernah berpikir untuk balas dendam untuk membantu orang lain" ujar Manggala membela diri.
"Aku tidak habis pikir apa yang ada di kepalamu Kanda. Putranya satu-satunya pewaris Dwipajaya kenapa kau biarkan orang lain mengambil haknya?" tanya istrinya lagi.
"Hentikan pertengkaran ini Dinda! aku melakukan ini bukan hanya demi kepentingan pribadi semata juga demi rakyatku. Berapa banyak keluarga yang akan hilang jika kita memulai peperangan?"
"Sejak kau menjalin kerjasama dengan Hindustan, Manggala dan seluruh rakyatnya telah mati!" ujar istrinya.
Sementara itu dalam perjalannya Adhiyaksa tak kuasa membendung air matanya. Dia telah kehilangan segalanya dan sekarang terombang-ambing. Dia telah pergi jauh dari tanah kelahirannya bahkan tak sempat melihat mayat dan abu kedua orang tuanya.
Saat ini di dalam perjalanannya menuju kakak keempatnya, Cempaka di Kerajaan Bimasakti. Perjalanan ke kerajaan ini memakan waktu lima hari, namun demi menyembunyikan identitasnya perjalanan ini menjadi tujuh hari.
Mereka menghindari kerumunan orang. Berita kehancuran Dwipajaya telah tersebar ke antero negeri namun tak ada satupun yang mau membantu Dwipajaya.
__ADS_1
Adhiyaksa tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Astapura salah satu pemasok barang dagang terkesar ke Nusantara. Memulai perang sama artinya dengan menghancurkan perekonomian banyak negeri.
Adhiyaksa tidak diizinkan membuka jubahnya dan berbicara dengan sembarang orang. Dia dijaga ketat oleh dua pengawal Manggala. Mereka jarang berbicara, lebih banyak menggunakan bahasa isyarat.
Setelah melewati hutan demi hutan mereka sampai di kerajaan Bimasena. Cempaka dan ketiga saudarinya putri Daneswara dan Paramitha telah berkumpul menunggu kedatangannya. Mereka menanggis sembari memeluk Adhiyaksa erat.
Mereka berempat membawa berita sedih bahwa tidak ada dari mereka yang mau merebut kembali Dwipajaya.
Kakak tertuanya meminta Adhiyaksa memulai hidup baru dan melupakan tragedi itu.
"Hidup manusia berada diantara Samsara dan Baraka. Ada karma yang kita terima karena kesalahan atau kebaikan kita di masa lalu"
"Mata ketiga Dewa melihat semua perbuatan manusia. Biar orang lain yang membalaskan dendamu" ujar ketiga kakaknya menguatkan Adhiyaksa.
...----------------...
__ADS_1