
“Berapa kerajaan lagi yang belum kita kuasai?” tanya Siddarth pada Bansheer. Bansheer tiba beberapa hari yang lalu. Dia dan Siddarth melupakan sejenak masalah tanaman dan beralih ke perluasan kekuasaan Astapura.
“Delapan kerajaan lagi” ujar Bansheer Sambil menghitung nama-nama kerajaan yang ada di dalam peta.
“Sebaiknya kita taklukan kerajaan ini berdasarkan urutan kerajaan terdekat” ujar Bansheer yang melihat Siddarth menandai Indrajaya sebagai kerajaan yang pertama yang harus mereka takhlukan.
Indrajaya berada di urutan terakhir berdasarkan jarak dan waktu tempuh dari Astapura. Usulan Bansheer masuk akal. Mereka harus menduduki kerajaan terdekat guna menambah prajurit dalam pasukan perang.
“Ayahku telah menyerahkan angkatan perang seutuhnya ke tanganku”
“Persiapkan logistik, peralatan, dan akomodasi menuju kerajaan pertama. Kita tidak punya banyak waktu bersantai” ujar Siddarth mencoret tanda pada Kerajaan Indrajaya dan menggantinya dengan kerajaan pertama, Kerajaan Bhavani.
“Beberapa hari lagi akan ada pesta di kerajaan Bhavani, kita akan menyusup ke sana” ujar Siddarth.
Mukesh Raja Kerajaan Bhavani adalah Raja yang gemar berpesta pora dan mengundang wanita-wanita cantik untuk menari di hadapannya. Hampir setiap hari Mukesh membuat pesta dan mengadakan pertunjukan hanya untuk kesenangannya semata.
__ADS_1
Bagi Siddarth menghadapi Mukesh bukanlah hal yang sulit. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk berperang, cukup membuat mereka mabuk dan kerajaan itu akan tunduk pada Astapura.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Siddarth mengirim Rishi agar bergabung bersama para penari milik kerajaan Bhavani.
Selama pesta berlangsung Rishi mengendap-endap menuju tempayan berisi anggur dan makanan yang akan dihidangkan untuk Raja dan tamu. Rishi mencampur sedikit demi sedikit obat tidur pada makanan dan minuman tersebut.
Rishi mempersembahkan tarian dan berusaha menarik perhatian Raja dan para tamu.
Selesai membawakan tariannya, Raja Mukesh meminta Rishi duduk di pangkuannya dan menyuapinya makan dan minum. Raja Mukesh tidak curiga dengan penampilan Rishi. Rishi berdandan dua kali lebih baik dari biasanya hingga orang-orang tidak mengenalinya kecuali Siddarth dan Bansheer.
Dua teguk, empat teguk, Mukesh merasa kepalanya mulai berat dan pandangannya sudah tidak fokus. Rasa kantuk yang teramat sangat membuat Mukesh merebahkan diri di tempat duduknya.
Musik perlahan-lahan berhenti berdendang. Satu persatu tamu yang hadir mulai merebahkan diri. Penari yang disuguhi makan dan minum pun mulai tertidur pulas.
Setelah semuanya tidur Siddarth dan para prajurit keluar dari persembuanyiannya.
__ADS_1
“Bunuh semua anggota kerajaan, jangan sisahkan satu orang pun dan jangan tunjukan belas kasih kepada wanita maupun anak-anak. Mereka bisa menjadi ancaman kita di masa depan” bisik Siddarth pada orang-orang yang ikut bersamanya.
Mereka berpencar mengelilingi istana dan memeriksa ruangan-ruangan tersembunyi. Semua selir, istri, beserta anak-anak Mukesh dibantai hingga tak tersisa termasuk orang-orang kepercayan Mukesh.
“Bunuh juga para menterinya!” ujar Siddarth.
Mereka masuk ke rumah-rumah yang sebelumnya sudah mereka tandai sebagai rumah menteri dan membunuh semua yang ada di di rumah itu.
“Bakar istanaya!” ujar Bansheer pada prajurit yang masih berada di istana.
Kebakaran istana membuat penduduk yang menyadarinya lari bersembunyi di hutan sedangkan sisanya dikumpulkan Siddarth di pelataran istana.
“Mulai saat ini Bhavani resmi ada di bawah kerajaan Astapura dan kalian wajib tunduk kepada perintah Raja Sri Narendra. Jika kalian ingin hidup lebih lama, maka jadilah rakyat yang patuh” ujar Siddarth mengabaikan isak tanggis warga yang ketakutan.
“Bereskan tempat ini dan lapor pada raja. Perintahkan kelompok prajurit yang lain untuk menyusulku ke kerajaan kedua” ujar Siddarth pada Bansheer.
__ADS_1
...----------------...