Dvesa

Dvesa
Tiga Pria


__ADS_3

Pada waktu itu tersebutlah tiga orang pria gagah perkasa di daratan Hindustan. Mereka adalah Sri Narendra pewaris tunggal Astapura, Saurabh pangeran dari kerajaan Suballa, dan Gopal pangeran Indrajaya.


Ketiga pria ini suka berburu, memanah, dan berkuda. Mereka berlomba-lomba menjadi yang terkuat.


Waktu terus berlalu. Ketiga pria itu akhirnya menikah dan memiliki keturunan. Satu-persatu diangkat menjadi raja di kerajaannya dan mulai memerintah.


Suatu hari kabar duka menghampiri Sri Narendra. Ayahandanya wafat di usia 93 tahun. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan agar Sri Narendra menguasai Hindustan dan menjadi pemimpin atas bangsa ini.


Sri Narendra tak kuasa menolak. Meskipun hati kecilnya menolak namun perintah tetaplah perintah. Sri Narendra bersumpah di atas abu ayahnya seluruh keturunanya akan berusaha sekuat tenaga memenuhi permintaan ayahnya.


Satu persatu kerajaan di tanah itu dikuasainya. Sri Narendra tidak lagi mengenal sahabat, kerabat dan keluarga yang ada di hadapannya adalah kematian dan kekuasaan. Siapa yang lemah, dialah yang harus tunduk, siapa menentang dialah yang harus mati.


Gopal yang mengetahui kekejaman yang dilakukan Sri Narendra menolak dengan tegas permintaan Sri Narendra untuk bergabung bersama Astapura. Bagi Gopal Sri Narendra yang telah dianggapnya sebagai seorang kakak kini hanyalah iblis kejam yang haus akan darah dan kekuasaan.


Saurabh sangat sedih mendengar tabiat Sri Narendra yang telah berubah. Dia berusaha membujuk Gopal agar lebih sabar menghadapi Sri Narendra namun Gopal menolak. Gopal memutuskan tali persaudaraannya dengan Sri Narendra.

__ADS_1


Saurabh menguatkan hatinya menemui Sri Narendra. Saurabh melakukan segala cara agar Sri Narendra menghentikan niatnya namun Sri Narendra menolak.


Saurabh pulang dengan tangan hampa. Sri Narendra menolak jalan damau yang Saurabh tawarkan.


Tibalah saat di mana kerajaan Suballa harus menghadapi keganasan Astapura. Gopal datang menolong Saurabh namun sia-sia. Ditengah peperangan, Saurabh melindungi Gopal yang kepalanya berusaha di tebas oleh Sri Narendra.


Tubuh Saurabh jatuh dari kuda dan terbentur keras di tanah. Bunyi tulang remuk berhasil mengalihkan perhatian semua mahluk yang ada di medan perang itu.


Gopal menguncang-guncangkan tubuh Saurabh yang telah kaku. Darahnya tumpah membasahi tangan dan baju Gopal.


Sri Narendra terkejut melihat tubuh Saurabh yang digenangi darah. Dia memerintahkan pasukannya agar mundur meninggalkan medan perang.


Sejak saat itu Sri Narendra menghentikan sementara perluasaan daerah Astapura.


Saksenya menatap tubuh ayahnya dalam upacara kematian. Tubuh itu dilahap api diatas tumpukan kayu yang di bakar. Semua orang berpakaian putih menghadiri upacara itu. Di sampingnya Saksenya melihat *Sonarika memukul dadanya berualang kali memohon pada Dewa agar mengembalikan suaminya, sebagai gantinya dirinyalah yang diambil.

__ADS_1


Bisu, tidak ada jawaban. Suara Sonarika beradu dengan doa untuk ayahnya. Seluruh Suballa berduka.


Gopal yang membaw obor pertama hanya menatap kobaran api yang semakin besar. Bau tubuh hangus meliputi seluruh daerah itu.


Saksenya tidak mengerti, mengapa harus ayahnya yang menjadi korban? bahkan setelah kematian ayahnya peperangan terus berjalan seolah pengorbanan ayahnya di medan perang tidak ada artinya.


Hari itu, lekat dalam ingatannya mata kelabu ayahnya yang terbuka. Saksenya mendekat, membisikan kata selamat jalan lalu menutup mata ayahnya dengan telapak tangannya*.


"Ayah, ayah, ayah!" teriak Saksenya.


"Ada apa? tanya Sonarika pada Saksenya.


Putranya terbangun dari tidurnya. Cerita tiga pria ibunya mengigatkan Saksenya pada kematian ayahnya.


Saksenya membenamkan wajah pada kedua telapak tangannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2