Dvesa

Dvesa
Pelayan Bangsal Wanita


__ADS_3

“Apa yang terjadi” tanya para pelayan di dapur bangsal wanita saat Rupika dan Gunjana muncul dengan tergesa-gesa.


“Karena kebodohan wanita ini, aku menumpahkan isi teko ke saree Tuan Puteri” ujar Rupika menunjuk wajah Gunjana.


“Apa yang sudah kau lakukan pada Nyonya baru di rumah ini?” tanya Sanjana, kepala pelayan bangsal wanita.


Gunjana menceritakan apa yang terjadi di kamar Gayatri. Semua pelayan menyimak cerita Gunjana dengan serius.


“Aku tidak habis pikir mengapa Tuan Siddarth yang begitu populer menikahi wanita dari negeri entah berantah. Padahal Hindustan tidak kekurangan wanita cantik yang siap melayaninya” ujar Gunjana di akhir ceritanya.


“Aku dengar ini hanya perkawinan politik, tidak ada yang istimewa” ujar Sanjana sinis.


Pelayan yang lain setuju dengan pendapat Sanjana.


“Kenapa kalian mengurusi hal yang bukan urusan kalian, Tuan Puteri juga tidak menyangka akan dijadikan menantu istana Astapura, beliau bahkan tidur larut malam setelah upacara pernikahannya” ujar Rupika.


“Hey Rupika, kau ada di pihak mana? Tidakkah  kau ingat seperti apa Puteri Utari saat baru datang. Hampir setiap hari menanggis, menolak makanan yang dihidangkan para pelayan. Suaminya sampai memohon pada Raja agar disediakan bahan makanan dan juru masak dari Nusantara. Bukankah itu berlebihan?” ujar Gunjana tidak mau kalah.


“Ya benar. Waktu itu aku masih menjadi wakil para pelayan sebelum Anjali pindah ke istana. Tingkah puteri itu benar-benar memuakan. Bahkan hal kecil saja, harus ditemani suaminya. Jika semua wanita di Hindustan seperti itu, maka para lelaki akan

__ADS_1


pensiun menjadi suami” ujar Sanjana di sambut gelak tawa pelayan yang lain.


“Sudah. Lebih baik kau siapkan makan untuk nyonya rumah ini sebelum juru masak dari Nusantara mengantikan tugasmu” sindir Sanjana pada Rupika.


Mereka mengakhiri perdebatan tersebut dan mulai melakukan tugas mereka masing-masing.


Rupika selesai memasak sarapan, dia dan Gunjana membawa makanan tersebut ke kamar Gayatri.


Gayatri duduk di tempat tidur memandang mehendi yang terukir indah di kedua kaki dan tangannya.


“Tuan puteri ini makan pagi anda” ujar Rupali meletakan makanan di hadapan Gayatri.


“Gunjana, ku dengar kau adalah pelayan Puteri Utari selama di bangsal ini” tanya Gayatri sambil menyendokan makanannya.


“Benar Tuan Puteri” jawab Gunjan sambil memperhatikan gerak-gerik Gayatri.


“Pasti sangat merepotkan karena harus memasak makanan Nusantara. Kalian tidak perlu melakukan itu padaku, aku akan makan apapun yang disediakan dan akan belajar memasak untuk suamiku”


Gunjana tertunduk mendengar kata-kata Gayatri sedangkan Rupika sangat bersemangat dengan rencana Gayatri untuk belajar memasak.

__ADS_1


“Anda bisa menggunakan dapur bangsal wanita, saya akan membantu anda” ujar Rupika.


“Bagaimana kalau Gunjana juga ikut membantu, apa kau bersedia?” tanya Gayatri sambil menatap wajah Gunjana.


“Saya bersedia Tuan Puteri” ujar Gunjana dalam hati Gunjana mengumpat karena akan menambah pekerjaanya menjadi melayani dan mengajari masak.


Setelah makan Gayatri meminta Rupika membereskan sisa makanan dan membawa peralatan makannya, sedangkan Gunjana tinggal bersamanya.


“Lanjutkan ceritamu tentang seratus hari Siddarth di tempat para penari” ujar Gayatri


sambil meminta Gunjana mengipasinya dengan kipas yang terbuat dari bulu merak, hadiah dari mertuanya.


“Entah apa yang tuan Siddarth lakukan di sana, tetapi dari gosip yang beredar di antara para pelayan, penari-penari bilang tuan Siddarth tidak akan berhenti hingga fajar. Setiap Tuan Siddarth berkunjung seorang penari akan menemaninya di ruangan khusus”. Ujar Gunjana takut-takut.


“Aku penasaran apa yang dilakukan Siddarth di sana” batin Gayatri dengan gestur angkuh


Gayatri meluruskan pandangannya memikirkan apa yang dia lakukan setelah mendengar ucapan pelayannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2