Dvesa

Dvesa
Ramalan Kelahiran Jhanvi


__ADS_3

“Tabib lakukan sesuatu, menantuku bisa kehilangan nyawa kalau begini terus” ujar ayah Siddarth.


Tabib saling berpandangan. Mereka memberi kode pada tetua tabib istana agar membisikan sesuatu kepada raja.


“Ampun baginda, di kampung hamba apabila ada yang sakit melahirkan tandanya ada kesalahan kepada orang tua, keluarga, kerabat dekat atau orang yang berhubungan dengan ratu yang belum dimaafkan” ujar tabib.


Mendengar itu tersungkurlah Siddarth di bawah kaki istrinya sambil memohon maaf dan memaafkan segala kesalahan Jhanvi. Jhanvi dengan sisa tenaga yang ada meminta maaf pada mertua dan ayah kandungnya.


“Anakku, tidak ada kesalahanmu yang tidak kumaafkan. Semua, sejak lahir hingga sekarang ayah tak menyimpan dendam padamu” ujar Raja Aryan menatap sendu putrinya.


Berita itu cepat tersiar di kalangan istana.


“Mengapa dia meminta maaf pada keluarga istana, bukankah semua orang tahu siapa yang paling berhak atas permintaan maaf Ratu Jhanvi?” ujar Sanjana berbisik di antara para pelayan.


“Lihatlah siapa yang bersalah sekarang” sahut Gunjana.


“Kalian berdua hentikan! Kalianlah yang membuat posisi putri Gayatri semakin sulit. Tidak ingatkah kalian perlakuan kurang ajar kalian pada putri lalu kenapa sekarang berpura-pura mendukungnya?” hardik Rupika kesal.


Para pelayan diam seribu bahasa. Rupika yang terkenal penakut berani bersuara membela tuannya. Matanya menatap nyalang, rahangnya terkatup erat, dia gemetar kepalan tangannya semakin erat. Kukunya menghujam telapak tangannya hingga berdarah, meluapkan amarah yang selama ini ditahannya.


“Aku telah minta maaf pada semua orang, mengapa masih terasa sakit” tanya Jhanvi pada tabib. Wajah memelasnya hampir menyerah. Disampingnya Siddarth terus mengusap punggung tangannya sambil menenangkan Jhanvi yang dipenuhi amarah.


“Anda melupakan sesuatu Ratu” Rishi mengalihkan perhatian dalam ruangan itu.


“Aku tak tahu apa ini dosa besar atau bukan, anda datang ke sini sebagai selir dan menggantikan posisi ratu yang sebenarnya” ujar Rishi.


“Lalu apa masalahnya? Seluruh negri tahu, putri Gayatri mandul. Mengapa aku harus minta maaf? Teriak Jhanvi merasa harga dirinya tercoreng.


“Lancang kau Rishi, tidak ada yang menyuruhmu berbicara. Sekali lagi kau bersuara maka akan ku persembahkan lidahmu kepada Dewa Yama” teriak Siddarth.


“Suamiku apakah aku berdosa melahirkan seorang putra? Anak ini adalah tanda cinta kita mengapa ada orang yang iri dengan kehadiran putraku” isak Jhanvi.

__ADS_1


Rishi tidak tahan dengan drama keluarga di depan matanya. Sampai kematian datang menjemput Jhanvi tak tampak mengakui kesalahannya merebut suami orang dengan tahu dan mau. Rishi merasa kehadirannya di samping Jhanvi sudah tidak diperlukan lagi maka dia dengan berani bersuara menyadarkan Jhanvi yang mabuk cinta dan kekuasaan.


Tabib yang menyaksikan pertengkaran itu setuju dengan Rishi. Dia membujuk Jhanvi agar minta maaf dengan tulus pada Gayatri. Setelah rasa sakitnya semakin menjadi-jadi Jhanvi meminta pengawal datang membawa Gayatri ke kamarnya.


Gayatri sedang berkemas di kamarnya, bersiap pergi meninggalkan istana. nya 1000 tangga Durga Maa dia tertarik dengan kuil misterius itu sejak awal.


Aku akan mengabdikan diri di sana.


Dua orang prajurit masuk ke kamarnya memintanya ikut ke tempat di mana Jhanvi berada. Meskipun bimbang, Gayatri tetap mengikuti langkah dua prajurit itu, mengabaikan mata orang-orang yang memandang iba padanya. Sebelum masuk ke istana Gayatri melihat Nandi. Petugas perpustakaan itu memberi hormat padanya.


“Silahkan Nyonya, anda telah ditunggu di dalam” seorang prajurit mempersilahkan Gayatri masuk setelah mengumumkan kedatangannya di pintu tempat bersalin.


Masuklah Gayatri, dia terkejut melihat wajah orang-orang di ruangan itu tampak murung, sedih, khawatir dan lainnya ketakutan. Jhanvi berusaha turun dari ranjang menyambut Gayatri.


“Ratu, jangan paksakan dirimu” cegah Gayatri.


Jhanvi kembali berbaring. Wajah pucatnya berhiaskan peluh sebesar biji jagung, rambutnya tergerai berantakan, seluruh tubuhnya tampak lemah.


Gayatri mendekat ke ranjang, Siddarth yang berusaha menghalangi jalannya dicegah oleh tabib dan ayahnya. Siddarth memberi jalan, Gayatri tak mau beradu pandang dengannya Jhanvi yang tampak lemah terlihat sangat kasihan.


“Ampuni aku karena melakukan semua ini. Sikap dengki dan sombong ku telah mengantarkanku pada gerbang kematian” ujar Jhanvi.


Satu jam yang lalu Jhanvi menolak memohon ampun pada Gayatri namun dia merenungi semua kesalahan yang telah dia perbuat pada Gayatri, dia mengakui semua kesalahan yang awalnya digunakan sebagai dalih untuk merebut Siddarth.


Pertemuan pertama dirinya dan Siddarth mengantarkan memori dimana Siddarth mengatakan bahwa dia adalah pria beristri dan akhirnya rela menumbalkan posisi istrinya demi kehormatan putri tunggal Kerajaan Bhavari.


“Aku telah mengambil semuanya darimu, tapi setiap malam aku tak dapat tidur. Pikiranku tak tenang. Semua orang memujimu di belakangku, membandingkan keberadaan kita membuat ambisiku menjadi Ratu Astapura semakin menggebu” Jhanvi berusaha tetap menatap mata indah Gayatri.


Gayatri menatap Jhanvi lama dalam diam.


“Jhanvi, aku pun merasakan hal yang sama. Kemarahan, kecemburuan, dan emosi. Kau berhasil membuat Siddarth yang sedingin es itu meleleh dengan sikapmu. Hal yang tak ada pada diriku kau miliki, kau dan Siddarth saling melengkapi” ujar Gayatri tenang.

__ADS_1


“Tapi semuanya terlambat, kemarahanku lebih besar dari belas kasih. Aku mengutukmu dan Siddarth di hari pengusiran. Aku tidak pernah mendoakan kebaikan untuk kalian, semua yang aku sebut di atas nama kalian adalah karma dan balas dendam” Gayatri tampak menyesali perbuatannya.


“Sakit hati telah membuatku buta akan kebaikan dan pengampunan, aku telah bersumpah kalian semua akan menerima balasannya. Ampuni aku” Gayatri berlutut sambil menangkupkan kedua tangannya di bawah ranjang Jhanvi.


Air mata Jhanvi semakin deras mengucur. Dia tidak menyangka dampaknya akan sejauh itu. Ternyata Gayatri yang tampak tenang dan luwes menyimpan kesedihannya sendiri dan memohon pada Dewa agar diberi keadilan.


Jhanvi tak bisa menyalahkan sikap Gayatri karena mereka berdua sama. Sama-sama berada dalam lingkaran setan kebencian, amarah, dan dendam.


“Apapun yang akan terjadi nanti, ku mohon maafkan aku” ujar Jhanvi tulus di tengah linangan air matanya. Raja Aryan mengangguk, mendukung niat baik putrinya. Dia tak menampik di masa depan pernikahan putrinya dan Siddarth akan membawa bencana.


“Istriku, ramalan itu akhirnya terwujud” batin Raja Aryan.


Sebelum kelahiran Jhanvi


“Tuan, sudah enam tahun pernikahan anda hari ini bergembiralah istri anda dinyatakan hamil” tabib istana memberitakan kabar baik pada Raja Aryan yang baru saja tiba dari perjalanan berburu.


Tepat satu minggu sebelum kelahiran Jhanvi, Raja aryan dan istrinya mengundang peramal. Dalam kebiasaan Bhavari ramalan peramalan adalah jalan bagi mereka untuk bersiap terhadap segala sesuatu yang akan mereka hadapi di masa depan.


Peramal itu mengucapkan mantra sambil memegang perut Ratu Bhavari.


“Ampuni hamba tuan, penglihatan hamba mungkin saja salah” ujar peramal memohon ampun.


“Katakan apa yang kau lihat, semuanya. Baik buruknya masa depan anakku ada dalam penglihatanmu” ujar Raja Aryan tenang.


“Putri anda akan terlahir menjadi pedang bermata dua. Kelahirannya akan membawa kekuatan sekaligus kemalangan. Anda tidak bisa menghindar” peramal melirik Ratu yang tengah mengelus perutnya.


“Ada satu hal yang akan membawa bencana besar. Kisah cintanya rumit, hitam, dan penuh air mata” ujar peramal mata sang peramal mengeluarkan darah.


Raja Aryan dan istrinya segera minta tabib mengobati peramal namun peramal itu menolak.


“Kekuatannya penuh kebajikan bahkan penglihatanku yang terbatas ini tidak mampu menembus dimensinya, mereka bukan lawan yang sepadan” ujar peramal.

__ADS_1


Tak disangka setelah kehilangan istrinya Raja Aryan harus menghadapi kisah rumit putrinya, kalau saja waktu bisa diputar dia akan mencegah pernikahan itu sebelum terlambat.


...----------------...


__ADS_2