
Kerajaan kedua telah berhasil di taklukannya. Siddarth kembali ke Astapura untuk menyusun rencana ke kerajaan ketiga. Kerajaan ketiga memiliki Raja yang dan anggota kerajaan yang mahir bertarung, salah satu penyebab Astapura menunda menaklukan kerajaan ini hingga waktu yang tepat.
Siddarth memasuki gerbang istana, dia melihat Gayatri yang langsung meninggalkan benteng istana setelah melihat dirinya datang. Siddarth turun dari kuda lalu menuju istana wanita.
Gayatri tidak ada di kamarnya. Siddarth berkeliling istana wanita namun tidak menemukan istrinya. Pelayan yang ada di bangsal wanita pun tak tahu kemana perginya Gayatri. Setelah mengitari istana wanita, dapur, dan Odissa akhirnya Siddarth menemukan Gayatri di halaman belakang istana wanita.
Gayatri sedang memandang tanaman yang tumbuh di sana dengan wajah sedih.
“Tidak perlu mencariku, urusan kerajaanmu lebih penting” ujar Gayatri saat menyadari Siddarth perlahan-lahan mendekat ke arahnya.
“Jauh sebelum kita menikah, kami telah berperang menaklukan kerjaan-kerajaan kecil. Misi Astapura mempersatukan Hindustan menjadi negeri yang besar” ujar Siddarth kembali menegaskan alasannya berperang.
__ADS_1
“Setelah mempersatukan Hindustan lalu apa? Tidakkah kalian tahu karma yang akan kalian terima setelah menyiksa dan membunuh orang tak bersalah?” tanya Gayatri masih tetap memandang bunga-bunga di taman itu. Matanya mulai perih menahan tanggis.
“Kami berperang dengan restu Mahadewa! Semua berkat yang kami terima datang dari Mahadewa, itulah sebabnya kami tidak pernah kalah dalam perang!” ujar Siddarth berapi-api.
Gayatri memalingkan wajahnya menatap Siddarth, saat mendengar nama Mahadewa di sebut.
“Bagaimana mungkin kau seenaknya menyebut Mahadewa, sedangkan Mahadewa sendiri adalah simbol kedamaian dan welas asih. Karunia apa yang Mahadewa berikan kepada pengikutnya, hingga kalian merasa berhak atas darah dan tanah orang lain!!” Gayatri meninggikan suaranya. Gayatri merasa kepala dan badannya panas. Kedua tanggannya mengepal erat.
Gayatri segera mendorong dada Siddarth menjauh.
Apakah salah seorang istri mengigatkan suaminya? Sepanjang malam Gayatri tidak dapat tidur karena memikirkan suaminya yang ikut berperang, saat suaminya tiba yang dia terima adalah kemarahan Siddarth. Sampai hari ini Gayatri selalu bertanya pada dirinya, untuk apa dia tinggal di Astapura jika selamanya akan jadi burung dalam sangkar emas? Dia tidak memiliki kebebasan, semua yang dia lakukan selalu salah di mata orang-orang istana.
__ADS_1
Sedikit pun Siddarth tidak berpaling ke arahnya, bahkan menanyakan kabarnya pun tidak. Menikah demi hubungan diplomatik? Gayatri merasa tidak ada untungnya untuk Dwipajaya. Kualitas tekstil yang dikirim ke Dwipajaya menurun, sedangkan ayahnya membebaskan pajak bagi kapal-kapal Astapura yang bersandar di pelabuhan Dwipajaya. Apa untungnya untuk kami?
“Aku ke sini untuk menyusun rencana baru sekaligus mengajakmu berjalan-jalan sebentar. Tetapi sepertinya suasanya sedang tidak baik, saat aku kembali dari peperangan ingatkan aku tentang mengajakmu jalan-jalan” ujar Siddarth
Keduanya diam beberapa saat menikmati pemandangan di taman siang itu.
Suasanya sepi, hanya beberapa serangga yang hilir mudik. Setelah merasa Gayatri tidak menanggapi kata-katanya, Siddarth meninggalkan Gayatri sendirian.
Sejak bertemu dengannya, aku belum mengucapkan salam dengan benar. Jika tiba waktunya, aku akan bersungguh-sungguh dengan janjiku pada Raja Daneswara batin Siddarth menginggat janjinya sebelum meninggalkan pelabuhan Dwipajaya.
...----------------...
__ADS_1