
“Siddarth aku telah mengampunimu. Hari ini aku telah melihat keadilan atas diriku. Lanjutkan hidupmu, akan kupastikan kejadian ini akan menjadi pertama dan terakhir dalam keturunan kita” ujar Gayatri
Pengampunan Gayatri disambut baik seluruh istana. Mendung di langit Astapura perlahan memudar seiring dengan kobaran api yang mulai meredup. Abu bayi itu di tempatkan pada kendi emas dan dilarungkan di sungai Gangga.
“Rupika, Gunjana, dan semuanya aku akan meninggalkan istana. Jagalah diri kalian baik-baik. Semoga di masa depan atau di kehidupan selanjutnya kita bisa berjumpa dalam keadaan yang lebih baik” ujar Gayatri memeluk mereka.
“Aku ikut dengan anda Nyonya” ujar Rupika memohon.
“Aku memutuskan hubungan sebagai tuan dan pelayan hari ini. Kita adalah sama” ujar Gayatri.
“Nyonya aku telah berjanji menyerahkan seluruh hidupku pada anda, tolong terimalah baktiku” ujar Rupika.
“Aku telah menghapusnya semua barusan. Hiduplah dengan tenang” Gayatri mengelus pipi Rupika menenangkan gadis muda itu.
Gayatri meninggalkan istana menunggang kuda yang dihadiahkan Siddarth.
Lewat gerbang istana sebuah kuda lain ikut mengejarnya menyamakan langkah dengan Gayatri. Gayatri bermaksud menghentikan kudanya namun lelaki di sampingnya mengisyaratkan agar mengikutinya menuju tempat pertemuan pertama mereka, sungai Yamuna.
Saksenya membantu Gayatri turun dari kudanya, siang itu air Sungai Yamuna sangat sejuk membasahi kakinya.
“Jika kau tak punya tujuan pergilah bersamaku” tawar Saksenya.
“Aku telah berjanji akan mengabdikan diri di kuil Durga Maa” ujar Gayatri menikmati riak air yang membasahi tungkai dan kakinya.
“Berapa lama, setahun, dua tahun aku akan menunggunya”
__ADS_1
“Kenapa kau harus menunggu, takdir kita berbeda. Kau Raja Suballa, rakyatmu menunggumu”
“Kau tidak akan bisa mengabdikan diri di kuil itu”
“Kenapa tidak, doaku telah terjawab”
“Masih ada dendam yang belum terbalas” Saksenya menatap Gayatri serius.
Wajah Gayatri kebingungan, berusaha mengingat dendam mana yang belum terbalaskan. Wajah penuh tanya Gayatri membuat Saksenya tersenyum. Dengan nada yang tenang dia berujar :
“Menikahlah denganku, jadilah Ratuku dan aku akan membantumu merebut kembali Dwipajaya”
Gayatri menatap Saksenya, lelaki di hadapanku tak bergeming.
“Pikirkan sekali lagi. Kau adalah putri Raja. Jika kau pulang ke Nusantara sekarang maka akan kupastikan tidak ada satu putra raja yang akan menikahimu karena kerajaan kalian telah hancur. Satu-satunya cara adalah menjadi permaisuriku dan aku akan membantumu merebut Dwipajaya”
Kalimat Saksenya membuat Gayatri teringat pada peristiwa terbunuhnya keluarga kerajaan Dwipajaya.
Bansheer, penjahat itu pasti sedang bersukacita. Keadaan Astapura yang tengah porak-poranda akan menjadi berita bagus untuk melepaskan diri dari kekuasaan Astapura. Tawaran Saksenya masuk akal.
“Apa yang kau inginkan dariku” tanya Gayatri, dia yakin lelaki licik seperti Saksenya pasti punya rencana lain dibalik itu.
“Keturunan” ujar Saksenya mantap.
Wajah Gayatri mengeras. Bagaimana mungkin dia bisa memberi lelaki ini keturunan sedangkan kandungannya bermasalah. Dua tahun dia memakan makanan yang telah dicampur racun pencegah kehamilan, rahimnya mungkin saja sudah membusuk.
__ADS_1
“Lebih baik kau cari perempuan lain yang akan melahirkan keturunan bagi Suballa”
“Kau khawatir dengan gosip mandul itu?” tebak Saksenya sambil tersenyum licik.
“Rahimmu tidak bermasalah. Ramuan itu hanya mematikan ****** yang masuk ke rahim dan tidak membuat rahim rusak. Itulah sebabnya kau dikatakan mandul. Ramuan itu tidak diberikan setiap hari melainkan satu minggu dihitung dari kunjungan Siddarth ke tempatmu” ujar Saksenya ceria.
“Dari mana kau tahu informasi ini” Gayatri menyipitkan matanya melihat reaksi Saksenya.
“Karena aku yang menyarankan sekaligus memberi ramuan itu pada Siddarth”
“Kau..” Gayatri menonjok wajah Saksenya namun pergelangan tangannya segera ditangkap Saksenya. Saksenya menariknya mendekat, satu tangannya memeluk pinggang Gayatri erat. Menatap wajah Gayatri dari jarak yang sangat dekat, wajah marah Gayatri menjadi hiburan tersendiri baginya.
“Aku akan membunuhmu” kecam Gayatri, gemeretak giginya terdengar di telinga Saksenya.
“Silahkan lakukan itu setelah kau merebut Dwipajaya” balas Saksenya berbisik sambil meniup telinga Gayatri. Membuat Gayatri semakin naik pitam.
“Lepaskan aku. Aku akan meminta pada Dewa agar menghukummu” teriak Gayatri membuat Saksenya melepaskan kedua tangannya.
“Rupanya kau sudah jadi anak kesayangan Dewa sekarang” ejek Saksenya
Gayatri memacu kudanya meninggalkan Saksenya yang terus mengikutinya dari kejauhan.
...----------------...
__ADS_1