Dvesa

Dvesa
Kuil Dewi Durga


__ADS_3

Gayatri dan Gunjana melewati perjalanan selama satu minggu menuju kuil 1000 tangga yang dikatakan anak kecil di pasar. Gayatri tak menghiraukan pendapat Gunjana yang mengatakan bahwa bisa saja anak kecil itu berbohong, lagi pula di pasar banyak penipu yang memanfaatkan keadaan.


"Nyonya, kita bisa dirampok. Mungkin saja komplotannya telah menunggu di jalan yang akan kita lalui" ujar Gunjana berusaha menghentikan langkahnya.


"Aku tidak peduli! aku telah mati sejak Siddarth menikahiku" ujar Gayatri geram.


"Pergilah jika kau takut kehilangan nyawamu" usir Gayatri.


Gunjana mengikuti langkah Gayatri. Setelah melalui empat hari perjalanan yang melelahkan tibalah mereka di kuil yang dimaksud anak kecil itu.


Seribu tangganya menjulang dan tampak curam. Sepanjang mata memanjang, tampak mayat wanita tua dan muda bergelimpangan di tangga kuil. Sejenak Gayatri termenung memikirkan nasibnya akan sama dengan mayat-mayat itu.


"Aku telah bersumpah demi darah orang tuaku, dan pengabdianku sebagai seorang istri. Hari ini aku akan melaksanakan sumpah ku, tak ada satu setan dua binatang yang bisa menghalangiku. Sumpah Ku harus terlaksana dendamku harus terbalaskan" teriak Gayatri sebelum melangkah.

__ADS_1


Satu persatu anak tangga dinaiki Gayatri, disusul Gunjana yang membawa kendi air di kepalanya. Gunjana terengah-engah mengikuti langkah Gayatri. Tanpa berpaling sedikitpun Gayatri menapaki satu persatu anak tangga. Panas dan hujan tidak di pedulikan Gayatri. Makanan dan air telah habis. Pergerakan mereka semakin lambat, sudah lewat dari dua hari dua malam mereka menaiki anak tangga. Gayatri mulai memakan sedikit demi sedikit ujung sarinya sekedar mengisi perutnya yang kosong, pandangannya mulai kabur, kepalanya terasa sakit, dunia seolah berputar dalam pandangannya. Gayatri merangkak, dengan sisa tenaga yang ada. 


Jika ini akhir dari perjalananku maka biarlah Dewi menuntunku 


Batin Gayatri sebelum memejamkan matanya.


Konon pada zaman dahulu hiduplah seorang raja yang suka berfoya-foya. Rakyatnya sengsara dan melarat sedang rajanya sibuk mengadakan pesta di istana. Suatu waktu raja berniat mengundang Dewi Parvati, pasangan Mahadewa ke istana dalam sebuah perjamuan khusus. Selama satu bulan raja memuja Dewi Parvati dan berbuat kebaikan. Dewi Parvati yang penuh welas asih datang menghadiri undangan itu. Ketika Dewi tiba, takjublah raja. Kecantikan Dewi membuat raja terpukau, muncullah niat buruknya untuk memperistri sang Dewi. Murkalah Dewi Parvati lalu berubah wujud menjadi Mahakali, bentuk lain dari Dewi Parvati yang melambangkan kematian. Mahakali menghancurkan pesta itu, amarahnya mengakibatkan bencana alam di mana-mana. Mahakali mengutuk raja dan keturunannya.


Raja yang takut memohon ampun pada Mahakali. Setelah mahakali meninggalkan tempat itu raja segera menemui kaum Brahmana meminta petuah mereka. Raja bertobat, mengadakan persembahan dan mendirikan kuil Dewi Durga sebagai permohonan maaf dan pembebasan jiwa yang tak bersalah. Siapapun yang meminta pertolongan Dewi Durga akan dikabulkan jika mereka bertekad melewati rintangan 1000 anak tangga.


"Dewi aku telah ada di hadapanmu. Beribu-ribu mil telah ku tempuh hanya untuk bertemu denganmu. Dewi, anda adalah harapan terakhirku membalaskan dendamku keluargaku" isak tangis Gayatri memenuhi ruangan itu. Semua lonceng di kuil berdentang usai Gayatri mengucapkan kata-katanya.


Dengan posisi menyanggah bumi Gayatri melakukan semedinya sambil mendaraskan mantra pemujaan.

__ADS_1


"Gayatri"


Sebuah suara memanggil Gayatri.


Gayatri tersadar dari pemujaannya. Tampak di hadapannya seorang wanita, seluruh badannya hitam. Matanya merah, lehernya mengenakan kalung tengkorak, kedelapan tangannya  memegang berbagai jenis senjata dan trisula, rambut hitamnya terurai bau abu jenazah meme


"Mahakali" ujar Gayatri takjub.


Tersungkurlah Gayatri di hadapan kaki Mahakali yang adalah Dewi Durga. 


"Ketahuilah saat kesabaran seorang wanita melebihi batasnya maka tidak ada yang sanggup menghalanginya" 


Perlahan Mahakali hilang dari hadapannya. 

__ADS_1


"Nyonya!" teriak Gunjana melihat Gayatri pingsan.


"Kita harus kembali ke istana" ujar Gayatri sambil menggenggam tangan Gunjana.


__ADS_2