Dvesa

Dvesa
Berita Buruk


__ADS_3

"Apa katamu?" ujar Siddarth pada seorang utusan yang dikirim dari Astapura. Siddarth mencengkram kerah baju sang pembawa berita yang tampak pasrah dengan perlakuan Siddarth.


Siddarth dan Bansheer yang sedang dalam perjalanan menuju kerajaan ketiga segera putar balik ke istana.


Siddarth memacu kudanya dua kali lipat agar cepat sampai ke istana.


"Apa yang kau lakukan pada Laksmi!" tanya Siddarth di hadapan wajah istrinya.


Mata Siddarth memanas dan tampak merah.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" tanya Gayatri balik bertanya.


"Laksmi kabur Odissa itu pasti karena perbuatanmu" ujar Siddarth menghakimi Gayatri.


"Apa menurutmu aku bisa menghamili Laksmi?" tanya Gayatri dingin.


"Hamil? hahahaha jelas sekali kau berbohong makanan yang ku pesankan khusus untuk semua penari di Odissa tidak akan membuat mereka hamil! bentak Siddarth pada Gayatri dan membangunkan seisi bangsal istana.


Para penghuni bangsal istana diam-diam menguping keributan tersebut.


"Katakan apa yang sudah kau lakukan pada Laksmi!" ujar Siddarth mencengkram kedu lengan Gayatri meminta istrinya untuk jujur.


"Tuan tolong hentikan!" ujar Rishi menerobos masuk.

__ADS_1


"Laksmi pergi atas kemauannya sendiri. Aku dan tabib terlambat menyadari bahwa Laksmi hamil. Semua makanan yang anda berikan ada di dalam lemari pakaiannya dan dibungkus rapi pada sebuah kantong" ujar Rishi menyerahkan kantong yang dijahit dari kain bekas.


Bau kantong itu sangat menyengat. Siddarth memberanikan diri melihag isi kantong itu yang telah dipenuhi jamur dan ulat.


"Singkirkan benda ini dari hadapanku!"


Rishi mengambil kembali kantong itu.


Siddarth terduduk lemas, membayangkan wajah ketakutan Laksmi.


"Maafkan aku" ujar Siddarth menyadari Gayatri masih berdiri di sana.


"Tidak perlu katakan itu. Jika kau datang lagi ke bangsal wanita, sebaiknya panggil aku terlebih dahulu sebelum masuk"


Berulang kali Gayatri mengigatkan dirinya untuk tegar. Dia tidak akan kalah dengan penari yang statusnya tidak sederajat dengannya.


Saat ini posisinya aman sebagai nyonya rumah. Tidak ada lagi alasan Siddarth mengunjungi penari Odissa.


"Laksmi menolongku luput dari hutan kematian" ujar Siddarth menyadarkan Gayatri.


"Saat itu kami berdua hampir mati. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada Laksmi memapahku ke luar hutan kematian dengan selamat"


"Laksmi awalnya budak dari Nusantara yang di jual ke Hindustan. Dia melarikan diri ke hutan kematian" ujar Siddarth mengingat pertemuan awalnya dengan Laksmi.

__ADS_1


Sekarang jelaslah bagi Gayatri kenapa Siddarth lebih memperhatikan Laksmi. Laksmi ibarat separuh hidup Siddarth. Siddarth berutang nyawa pada gadis itu.


Jika Laksmi bukan seorang budak, dan Siddarth tidak terikat aturan istana mungkin saat ini mereka akan jadi sepasang suami istri yang serasi.


Membayangkan keduanya menikah membuat dada Gayatri naik turun menahan perih. Gayatri mengerjap-ngerjapkan matanya menyadarkan dirinya bahwa saat ini hanya dirinyalah yang ada di samping Siddarth.


"Aku berangkat" pamit Siddarth dengan wajah lesunya.


Gayatri mengekori Siddarth. Bansheer telah siap dengan kudanya.


"Aku akan kembali dengan selamat" ujar Siddarth berusaha tersenyum pada Gayatri.


"Hati-hati" ujat Gayatri nyaris tak terdengar.


Langkah kaki kuda meninggalkan istana.


"Tuan puteri semua berjalan sesuai rencana" bisik Rupika pada Gayatri.


Gayatri mengeluarkan smirk terbaiknya.


"Jaga rahasia ini, jangan sampai ada yang tahu" ujar Gayatri.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2