
Siddarth menarik tangannya secara paksa dari kepala Jhanvi. Air mata Jhanvi terus menetes membasahi wajahnya.
"Aku ini pria beristri. Tidak seharusnya kau menyimpan perasaan padaku" ujar Siddarth berusaha merendahkan suaranya.
"Dalam adat Madhyaprasta. Laki-laki yang menyentuh puncak kepala wanita lebih dari tiga detik harus menikahi wanita itu. Jika tidak, wanita itu dianggap menjanda seumur hidup" ujar Jhanvi terisak.
Siddarth merutuki hal bodoh yang baru saja terjadi.
"Ada apa ini" tanya Aryan. Dia menyusul mereka ke kolam itu karena laporan pelayan bahwa Jhanvi menangis.
Jhanvi mengadu pada ayahnya, apa yang dilakukan Siddarth. Sedangkan Siddarth seperti pria bodoh. Lidahnya kelu. Siddarth tak mampu menolak saat Aryan dengan tegas mengumumkan pernikahan.
"Kau sudah gila! berapa kali harus kukatakan aku sudah menikah" ujar Siddarth saat Aryan telah meninggalkan mereka.
"Kau telah berjanji padaku. Diam tandanya iya. Tatap mataku. Katakan dengan jujur apa kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku?" tanya Jhanvi dia menatap Siddarth lekat-lekat.
Siddarth tidak bisa membohongi dirinya saat menatap mata Jhanvi. Dia memiliki rasa itu. Rasa yang sama dengan apa yang Jhanvi rasakan.
"Sekarang katakan padaku kau sudah siap menerima penghinaan, penolakan, dan pergunjingan? hanya wanita kuat yang mampu berdiri di sampingku" ujar Siddarth.
__ADS_1
"Aku siap" jawab Jhanvi mantap.
Siddarth memeluk Jhanvi erat. Keduanya berjalan menuju hadapan Aryan.
"Ayah, aku siap dinikahkan dengan Jhanvi" ujar Siddarth berlutut di hadapan Aryan.
Aryan tidak punya pilihan lain selain merestui hubungan mereka. Dia menitipkan Jhanvi pada Siddarth sedangkan Siddarth berjanji akan menjaga Jhanvi seumur hidupnya.
"Kami harus pulang ke Astapura dan melaksanakan upacara pernikahan lagi di sana. Ayah mertua tidak perlu hadir. Aku yang akan mengurusnya di Astapura" ujar Siddarth saat upacara pernikahannya selesai digelar di Madhyaprasta.
Aryan setuju dia melepaskan kepergian Siddarth dan Jhanvi. Jauh di lubuk hatinya dia hanya berharap putrinya menjadi wanita yang kuat dan tidak pantang menyerah karena bagaimanapun posisi putrinya hanya akan menjadi selir kecuali jika istri sah Siddarth meninggal atau Siddarth menceraikannya.
******
"Tuan Siddarth telah tiba" teriak prajurit di gerbang istana.
Kabar pernikahan Siddarth dan Jhanvi telah tersebar ke seluruh Astapura termasuk ke telinga Gayatri.
Gayatri berusaha mengendalikan perasaannya, sampai suaminya sendiri yang datang memberitahukan pernikahan itu padanya.
__ADS_1
"Tuan putri, ibu suri dan ibu mertua telah menunghi anda di pintu bangsal istana" ujar Gunjana memanggil Gayatri yang sedang melamun.
Gayatri membenahi baju dan dandanannya dia ikut bergabung bersama anggota kerajaan. Mereka akan mengadakan upacara penyambutan kedua mempelai.
Ketika Siddarth dan Jhanvi turun dari kuda, Jhanvi diminta untuk menendang beras yang disediakan dalam guci tembaga dan menginjakan kakinya pada holi berwarna merah yang telah dicampur air, sebagai tanda penyambutan sekaligus berkat untuk kehidupan mereka selanjutnya.
Gayatri berusaha menyembunyikan tubuhnya di samping tubuh ibu mertuanya. Dia memperhatikan Jhanvi. Wanita itu memiliki paras yang manis, tampak gagah dan anggun di waktu bersamaan. Yang paling menyakitkan Gayatri adalah senyum Siddarth yang merekah.
Sepanjang mereka menghabiskan waktu bersama Gayatri belum pernah melihat senyum tulus Siddarth
Hari ini….
"Salam ibu ratu, salam ibu mertua" ujar Jhanvi pada kedua orang itu.
"Salam putri Gayatri" ujar Jhanvi pada Gayatri.
Gayatri tersenyum miris, menyambut Jhanvi dan Siddarth yang sibuk memberi salam anggota istana yang lain.
...----------------...
__ADS_1