Dvesa

Dvesa
Segeralah Masuk!


__ADS_3

"Mulai saat ini aku yang akan memerintah di tanah tiga Jaya" teriak Bansheer di tengah pelataran istana Jayabaya, tempat dimana Jayaswara di bakar.


Bansheer mengumpulkan rakyat secara paksa demi menunjukan surat yang ditandatangani Jayakarsa. Sekarang dirinya telah sah menjadi Raja atas tiga Jaya.


"Siapapun yang memberontak akan berhadapan dengan panglimaku" ujar Bansheer menunjuk Piyush.


"Hidup Raja Bansheer!" teriak Piyush.


Rakyat dipaksa mengakui Bansheer sebagai raja. Pandita tidak bisa berbuat apapun. Menteri yang menjabar sebelumnya telah dibunuh bersama keluarganya. Rasa takut memenuhi pikiran warga desa.


Bansheer memindahkan barang-barangnya ke istana Jayabaya. Dia membakar semua gambar leluhur Jayabaya menggantinya dengan lukisan terbaik miliknya. Dia juga menolak usul Piyush untuk mengganti nama Jayabaya. Biar saja nama ini tetap ada. Biar semua orang tahu kematian tiga Jaya yang mengenaskan. Kalau mereka berulah, maka mereka akan bernasib sama dengan tiga Jaya.


Bansheer melakukan upacara penobatan dihadiri semua menteri baru yang dipilihnya dari prajurit dan pejabat lokal yang takut padanya. 


Berita ini akan cepat menyebar ke Astapura, aku harus mempersiapkan tahta dan armadaku sekarang batin Bansheer menelisik tahtanya.


"Piyush, tambah parah pekerja di Jiwang. Atur sedemikian rupa agar prosesnya lebih cepat, lakukan apapun sebelum orang dari Astapura datang" perintah Bansheer.


Sementara itu Daneswara segera mengirim surat pada Gayatri, memberitakan apa yang sedang terjadi di Jayabaya. 


Daneswara meminta Laksmi membawa surat itu ke pelabuhan tempat dimana jalan rahasia menuju Hindustan berada.

__ADS_1


Laksmi menyamar agar kehadirannya tidak dicurigai oleh orang-orang yang dikenalnya. Dia menjalankan perintah Daneswara dengan cepat lalu kembali sebelum tengah hari.


"Apa ini?" tanya Saksenya saat penjaga jalan rahasia membawa surat itu ke hadapannya.


"Laksmi menitipkan surat dari Raja Daneswara pada Gayatri" 


"Biar aku yang membawanya" 


Saksenya melihat surat yang distempel rapi. Jika dia membukanya maka Gayatri akan tahu. Terpaksa Saksenya menemui Gayatri dan membujuknya untuk membagikan isi surat itu.


Saksenya memacu kudanya sendirian menuju Astapura. Dia tiba dua hari kemudian di belakang bangsal wanita. Saksenya melihat ada celah dan beberapa wanita keluar masuk di sana.


"hup, Saksenya menangkap seorang pelayan yang berusaha masuk.


Pelayan itu mengangguk dan segera pergi meninggalkan Saksenya. Saksenya bersembunyi di balik semak. Hari semakin gelap, nyamuk-nyamuk beterbangan di sekitarnya bunyinya begitu berisik.


"Siapa kau, tanya Gunjana" pada Saksenya yang sedang mengusir nyamuk di sekitarnya.


"Saksenya" ujarnya membuka kain yang menutupi hidung dan mulutnya.


"Raja Suballa maafkan kelancangan hamba"

__ADS_1


"Jangan lakukan itu, di mana Gayatri" tanya Saksenya.


"Ada di kamarnya" jawab Gunjana takut.


"Bisakah kau panggilkan dia kemari, ada hal penting yang ingin kusampaikan" 


"Baiklah" ujar Gunjana segera berlalu.


Gunjana menemui Gayatri dan mengabarkan kedatangan Saksenya.


"Tuan Siddarth sedang berada di istana bersama raja" bisik Rupika.


"Ambil baju Rishi, suruh Saksenya memakainya. bawa dia kemari" 


Gunjana menuju Odissa melalui pintu dapurnya. Dia menuju tempat baju-baju wanita itu di jemur jika masih lembab. Gunjana mengambil baju yang dikenalnya sebagai baju Rishi lalu pergi sebelum para penari memergokinya.


"Tuan, pakailah ini. Nyonya meminta anda menemuinya di kamar" 


Saksenya mengganti bajunya dengan cepat, mereka berdua berusaha tampil tenang sambil pura-pura bergosip menuju bangsal wanita. Saksenya cukup pandai dalam berakting dan memperagakan gerak-gerik Rishi.


"Tuan putri mereka sampai" 

__ADS_1


"Segeralah masuk!"


...----------------...


__ADS_2