Dvesa

Dvesa
Pria Asing dan Hagai Khan


__ADS_3

Seorang anak kecil berlari menghampiri ayahnya, di sebuah padang bunga. Gadis kecil itu bersembunyi dibalik jubah ayahnya. Posisi ayahnya yang menghadap matahari terbit langsung berbalik.


“Aku datang menghadap baginda” ujar seorang pria muda sambil berlutut.


Gadis kecil dibalik jubah ayahnya mengintip takut.


Tampak seorang pria, mengenakan mantel bulu domba berwarna abu-abu. Rambut pria itu menjuntai sesekali beterbangan karena semilir angin di padang bunga itu.


“Ada apa?” tanya pria lain yang disebutnya baginda.

__ADS_1


“Tidak ada pergerakan dipelabuhan. Pengintaian telah dihentikan” ujar pria berambut panjang itu masih menekuk satu kakinya. Tidak berani menatap sosok di hadapannya.


“Kau boleh memilih untuk tidak melaporkan. Tidak ada yang akan menahanmu di sini” ujar baginda tersenyum hangat.


Pria berambut panjang itu diizinkan meninggalkan padang bunga yang terletak di bagian lain benua Asia bagian Timur.


Matahari bersinar namun udara di sekitar tempat itu tetap terasa dingin. Orang-orang di tempat itu mengenakan mantel yang terbuat dari bulu dan uap akan keluar dari mulut mereka saat mereka berbicara.


Semua dunia sibuk membicarakan suku mereka yang katanya dapat menaklukan dunia meskipun jumlah mereka sangat sedikit. Mereka tukang jagal yang tidak berperikemanusiaan, mereka dapat menghilang, mampu memisahkan kepala dari tubuh manusia bahkan makan dan minum daging mentah.

__ADS_1


Tetapi satu tahun lalu, seorang pria yang tampak putus asa mencari keberadaan mereka. Saat - saat terakhirnya berada di sana muncul badai salju yang begitu dahsyat dan hujaman anak panah. Dia terluka dan terkulai lemas di atas bongkahan es tersebut.


Saat pria itu terbangun, dia menyadari dirinya berada di sarang tukang jagal yang turunannya diceritakan bagai legenda di daratan Asia. “Aku Hagai Khan” ujar pria itu dengan suara bersahabat dan tersenyum ramah.


Pria asing itu lalu berlutut memohon ampun di kaki Hagai Khan.Hagai lagi-lagi tersenyum. Berita tentang keganasan kaum mereka telah menyebar ke seluruh penjuru dunia namun dia tetap diam tanpa sedikit pun merasa hebat.


“Benarkah pria dihadapannya adalah orang yang tidak segan memakan hati dan meminum darah?” pria asing itu membatin tak percaya.


Hagai memintanya tinggal hingga keadaannya pulih. Satu bulan lagi badai salju ini akan berlalu. Dirinya boleh meninggalkan kaum itu. Satu bulan yang benar-benar mengubah hidup dan pemikirannya. Di tanah itu tidak ada peperangan dan pertumpahan darah. Serigala tidak akan menyalak, jika dirinya tidak diusik. Selama dia tertidur, hidup, dan makan dengan tenang maka, selama itu dia akan berusaha menjaga alam tetap seimbang.

__ADS_1


Selama berada di tempat itu, pria asing itu diajarkan cara bertahan hidup di musim dingin, berburu dan mengawetkan buruan, tanaman beracun yang diolah menjadi makanan, merajut, mengolah bulu domba menjadi pakaian. Sekarang dia mengerti mengapa mereka ditakuti. Kemampuan bertahan hidup mereka bukan hanya omong kosong belaka, mereka belajar dari alam dan dianugerahi ilmu pengetahuan yang luas dari alam.


Saat musim semi tiba, semua orang berkumpul di depan api unggun sambil bercerita tentang sejarah dan budaya kaum mereka. Cerita yang diturunkan dari nenek moyang didongengkan kembali kepada anak-anak dan orang tua di tempat itu. Malam itu berkahir pria asing itu menanggis di balik pelukan para wanita dan anak-anak. Lalu mengapa putri kecil baginda takut padanya? dia masih sangat kecil saat pria asing itu pergi, memorinya belum terbentuk sempurna saat pria asing itu membantu ibunya menidurkan bayi cantik itu. Waktu berlalu begitu cepat dan dia harus menempuh perjalanan yang jauh untuk pulang.


__ADS_2