Dvesa

Dvesa
Kesepakatan


__ADS_3

Janu dan Neema membawa Gayatri mengelilingi istana Subala. Istana ini tidak sebesar istana Astapura yang butuh waktu seharian penuh untuk melihat seluruh istana. Subala jauh lebih rapi, tak banyak lahan kosong, arsitekturnya dibuat dengan sangat teliti tak ada ukiran yang tak memiliki makna, keluarga ini luar biasa pikir Gayatri.


Menjelang sore, Gayatri berkunjung ke kediaman Sonarika, ibu Saksenya. Ibu mertuanya sedang menjahit di ruangan semi outdoor dikelilingi kolam ikan, air terjun kecil, dan tanaman hijau.


“Salam Ibu” Gayatri memberi salam pada mertuanya.


“Duduklah” ujar Sonarika.


“Aku sedang menjahit baju-baju Saksenya. Sudah sebesar ini belum ada yang mengurusnya” ujar Sonarika tersenyum membayangkan Saksenya yang masih merengek padanya.


“daripada membeli baju yang baru, lebih baik memakai yang ada dulu. Aku punya banyak jenis kain yang cocok untuk pakaian yang robek lagipula ini tak akan terlihat” ujar Sonarika menunjukan hasil jahitannya.


Sempurna pikir Gayatri. Jahitan Sonarika sangat rapi dan tak terlihat seperti bekas tambalan. Gayatri mengambil baju lain yang ada di hadapannya, memeriksa bagian yang robek lalu mulai menjahitnya. Mereka berdua larut dalam kesibukan menjahit.


“Sudah selesai’ gumam Gayatri melipat baju terakhir yang dijahitnya.


“Maafkan aku ibu” ujar Gayatri cepat. Dia keasyikan menjahit sampai tak menyadari berjam-jam telah lewat dan dia mengabaikan mertua yang menatapnya takjub.

__ADS_1


“Kau menikmati waktumu” Sonarika tersenyum lembut.


“Syukurlah kau jadi menantuku. Selama ini aku pikir menikahi orang biasa pun tak apa, mereka jauh lebih menghormati hal-hal kecil yang diberikan pada mereka dibanding menikahi bangsawan yang cenderung hidup dalam kemewahan”


“Saya selalu ditinggal sendirian tak ada yang bisa saya lakukan selain menjahit atau menyulam” ujar Gayatri entah mengapa dia merasa Sonarika memahami perasaanya.


“Kau boleh melakukan apapun sesuai kata hatimu di sini. Tidak ada yang akan mencegahmu. Jika kau butuh bantuan, pastikan kau memberitahuku atau Saksenya” Sonarika menggenggam tangan Gayatri meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Gayatri mengangguk membalas genggaman Sonarika. Semoga saja kali ini pilihannya tidak salah.


****


“Katakan apa yang ingin kau sampaikan” ujar Saksenya matanya memandang bulan.


“Aku tidak keberatan dengan tawaran yang kau ajukan. Kau menolongku menyingkirkan Bansheer dan aku akan memberimu keturunan Subala. Aku tidak memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semua hal baik selalu ada ujiannya” ujar Gayatri.


“Tapi aku minta keringanan” ujar Gayatri.

__ADS_1


Saksenya mengalihkan tatapannya ke wajah cantik Gayatri. Wajah itu semakin bercahaya diterpa sinar bulan.


“Katakan” ujar Saksenya.


“Beri aku waktu. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan diriku. Sampai saat ini aku belum memiliki bayangan menjadi orangtua. Aku butuh mental yang kuat untuk mendidik anak-anakku nanti” pinta Gayatri.


Perasaan Saksenya lega. Dia tak pernah berharap lebih, melahirkan penerus tanpa memiliki hati Gayatri mungkin jalan terbaik baginya sekalipun luluh hatinya terluka. Gayatri memikirkan posisinya mendidik anak-anak mereka sudah cukup baginya, suatu saat nanti jika Gayatri meluluskan niatnya mengabdi di kuil, dia akan bilang pada Gayatri dia bahagia memiliki Gayatri.


“Aku setuju, tak perlu terburu-buru. Jangan pikirkan pandangan dan perkataan orang lain, mereka tidak pernah berada di posisi kita” ujar Saksenya.


Gayatri tersenyum. Senyum yang belum pernah Saksenya lihat sebelumnya. Saksenya mendekat bermaksud memeluk Gayatri. Gayatri yang masih memiliki sikap defensif refleks mundur. Saksenya tertawa, terlalu cepat bagi Gayatri sedekat itu dengan saksenya. Dia butuh waktu mempelajari manusia bersama Saksenya, wajahnya sedikit murung.


“Apa itu saja yang ingin kau katakan?” tanya Saksenya sebelum menghilang dari pandangan Gayatri, wajahnya sedikit merah menahan malu karena sikap terburu-burunya.


“Kapan rencana menghancurkan Bansheer dimulai” tanya Gayatri.


“Aku sedang mempersiapkan armada. Jumlah kam sedikit, kamu butuh dukungan dari kerajaan lain. Apa kau ingin datang bersamaku, mengunjungi raja-raja yang akan membantu kita?” tanya Saksenya.

__ADS_1


“Akan aku pikirkan. Kita menikah tanpa mengundang kerabat mencegah agar berita pernikahan tidak tersebar di luar Subala bahkan Raja Gopal pun tak diundang mereka. Setelah ini pekerjaan besar mereka adalah mengunjungi kerabat dan raja-raja yang berhubungan baik dengan kerajaan Subala.


...----------------...


__ADS_2