Dvesa

Dvesa
Laksmi


__ADS_3

Sebuah suara merdu terdengar dari kuil kecil di dalam bangsal wanita. Tampak Gayatri sedang melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa.


“Aku datang mengunjungi menantuku. Mahadewa memberkatimu” ujar ibu mertua Gayatri setelah Gayatri dan kedua pelayannya melakukan pemujaan.


“Salam ibu” Gayatri mendekat sambil membawa baki pemujaanya.


Lakshita, ibu mertua Gayatri mengenakan Tikka di dahi menantunya, Gayatri hendak menyetuh kaki ibu mertuanya namun segera ditahan oleh Lakshita.


“Aku harap kau betah berada di Astapura, aku tidak bisa sering-sering mengunjungimu. Nikmati hari-harimu, Siddarth akan kembali dua hari lagi” ujar Lakshita.


Gayatri dan ibu mertuanya berbincang-bincang sebentar. Tidak lama kemudian Lakshita pamit dan kembali ke istana.


Sepeninggalan Lakshita, Gayatri dan kedua pelayannya menuju dapur bangsal wanita.


“Ada yang anda butuhkan Tuan Puteri” tanya Sanjana setelah memberikan salam dan memperkenalkan dirinya.


“Aku akan belajar memasak makanan Hindustan, dan menggunakan dapur ini” ujar Gayatri.


“Apa yang Tuan Puteri ini lakukan, bukankah para bangsawan dilarang menyentuh dapur?” bisik salah seorang pelayan.


“Jangan khawatir tangan yang kotor bisa dicuci” ujar Gayatri menanggapi bisik-bisik tersebut.


“Tuan puteri berdasarkan aturan kerajaan, hanya pelayan yang boleh menggunakan dapur. Anda tidak diizinkan memasak di dapur ini” ujar Sanjana.


“Aku juga adalah pelayan yang melayani suamiku. Jika kau tetap tidak mengizinkanku menggunakan dapur ini, maka aku akan menggunakan dapur istana” ujar Gayatri tenang.


Wajah Sanjana pucat pasi. Dia tidak mampu berkata-kata lagi, selain mengizinkan Gayatri menggunakan dapur bangsal wanita.


“Aku ingin coba membuat makanan ringan, apa kalian punya ide?” tanya Gayatri

__ADS_1


“Bagaimana kalau Dokla” saran Rupika.


Gayatri berpikir sejenak, Dokla kue kukus dengan campuran kelapa, yoghurt, dan cabai hijau. Gayatri pernah beberapa kali memakan hidangan vegetarian itu.


“Bagaimana denganmu?” tanya Gayatri pada Gunjana.


“Golgappa” ujar Gunjana singkat.


“Baiklah, kita akan mencoba keduanya” ujar Gayatri.


Mereka bertiga mulai memasak.


Rupika sangat aktif menjelaskan pada Gayatri cara memasak kedua makanan tersebut, sedangkan Gunjana lebih banyak berdiam diri sambil mengikuti instruksi Rupika.


Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya kedua makanan tersebut berhasil mereka buat dengan porsi yang cukup banyak.


“Bantu aku membawanya” ujar Gayatri mengangkat baki berisi Dokla. Rupika membawa baki Golgappa sedangkan Gunjana membawa kendi berisi kuah asam sebagai isian Golgappa.


Kedua pelayan itu terkejut, saat Gayatri mengucapkan salam di tempat yang ditujunya.


Tempat tinggal para penari.


“Silahkan masuk Tuan Puteri” ujar salah seorang penari mengajak Gayatri masuk.


“Biar aku yang membawanya” ujar Gayatri saat penari itu hendak meminta baki yang di bawanya.


Gayatri melangkah masuk ke dalam tempat itu. Gayatri mengagumi interior ruangan itu, yang di desain dengan sangat bagus.


Ruangan utama tempat menari terdiri dari

__ADS_1


pelataran yang di sampingnya berdiri pilar-pilar kokoh. Pada bagian atap


terdapat rentetan kaca di sudut tertentu.


Di sekeliling pelatar terdapat tempat duduk yang nyaman.


“Hari ini aku belajar memasak dibantu ketua pelayanku. Kalian akan jadi yang pertama yang mencoba masakanku” ujar Gayatri meletakan makanan yang di bawanya.


“Terima kasih tuan puteri, ini pertama kalianya ada wanita yang datang berkunjung” ujar penari itu.


“Siapa namamu? tanya Gayatri.


“Namaku Rishi, aku yang bertugas menjaga para penari” ujar Rishi yang ternyata adalah pria yang berdandan layaknya wanita.


“Makanlah” ujar Gayatri ssambil meneliti satu persatu penari yang mengambil makanan tersebut.


Selain interior ruangan tersebut yang bagus, para penari juga pandai merawat diri. Gayatri bisa melihat kulit mulus mereka yang terekspose di balik saree yang mereka kenakan.


Dandanan mereka tidak berlebihan, baju


yang mereka kenakan tidak lebih bagus dari pada yang Gayatri kenakan, tetapi


mengapa rasa rendah diri memenuhi hatinya.


“Yang mana Laksmi” bisik Gayatri pada Gunjana.


Gunjana membisikan ciri-ciri wanita itu, tanpa menunjuknya secara langsung. Sesekali pandangan mata Gunjana melirik Laksmi yang sedang makan.


Mata Gayatri tertuju oada gadis yang mengenakan saree hijau, duduk tersembunyi diantara para penari.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2