
Sang surya mulai menampakan cahayanya. Siddarth dan rombongannya menuju kerajaan Pancalu. Seluruh negeri menyebut Pancalu sebagai negeri 1000 teka-teki. Kerajaan ini juga menyimpan pusaka dan manuskrip Bharatayudha.
Kerajaan Pancalu di pimpin oleh seorang cendekiawan, Mahaguru Satiswairaj. Satiswairaj menolak sebutan raja, baginya selama dunia masih dipenuhi ketidakadilan tidak ada seoran pun yang pantas menyebut diri mereka raja.
Kerajaan Pancalu terletak di tepi hutan. Sebelum memasuki kerajaan itu, setiap.orang wajib melewati gerbang yin dan yang yang di susun sedemikian rupa oleh para cendekiawan di zaman itu untuk mencegah pencurian pusaka dan sejarah Baratayudha.
"Ting,ting,ting" bunyi lonceng menyadarkan Satiswairaj yang sedang melantunkan doa untuk Dewi Saraswati, Dewi ilmu pengetauan yang di puja oleh Satiswairaj.
"Sial!" umpat Siddarth saat kakinya tidak sengaja terantuk sebuah tali senar halus yang dipasang di balik dedaunan dan rumput-rumput hutan itu.
Bansheer menenangkan Siddarth dan meminta Tuannya untuk kembali fokus mencari jalan menuju hutan yin dan yang membinggungkan mereka.
Sementara itu di aula berdoanya, Satiswairaj terus melantunkan mantra untuk Dewi Saraswati tanpa sedikitpun membuka matanya atau beranjak dari tempat duduknya.
"Hari ini sudah tiba" batin Satiswairaj peluh memenuhi dahi dan jubahnya. Tangannya gemetar.
"Brukkkk!!!" pintu aula doa itu ditendang secara paksa.
__ADS_1
Siddarth menarik pedangnya. Mencari sosok Mahaguru yang menurut cerita dapat berpindah dimensi dalam meditasinya.
Setelaj mengeledah ruangan demi ruangan di tempat itu sampailah mereka pada pintu batu yang sedikit terbuka.
Bansheer memerintahkan rombongannya mendorong pintu tersebut hingga terbuka.
Betapa terkejutnya mereka mendapati ruangan itu telah terbakar.
"Cepat padamkan apinya!" perintah Siddarth panik sementara dirinya menerobos masuk diantara kobaran api.
Ruangan itu dipenuhi kertas dan kitab-kitab yang membuat api cepat menjalar. Siddarth berlari menuju patung Dewi Saraswati yang ada di tengah ruangan itu.
Tubuh Satiswairaj telah ikut terbakar bersama kobaran api dalam posisi semedi.
Siddarth berusaha mencegah api tersebut membakar habis tubuh Satiswairaj namun rak buku yang rapuh jatuh menimpa punggungnya.
"Arggh" ujar Siddarth saat api menghanguskan sebagian kulit punggungnya.
__ADS_1
Seorang dari antara rombongannya menyingkirkan api yang membakar sebagian jubahnya dan menarik Siddarth meninggalkan ruangan itu. Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil menjauh dari kobaran api.
Siddarth menatap Pancalu yang telah kosong. Seseorang pasti telah memberitahuakan kedatangan mereka hingga Satiswairaj memerintahkan penduduk Pancalu untuk meninggalkan daerah ini.
Siddarth berusaha berpikir logis di tengah rasa perih punggungnya.
"Tuan sebaiknya kita kembali ke kerajaan" ujar Bansheer tanpa perlu menjelaskan panjang lebar mengapa mereka menunda penyerangan ke kerajaan ketiga.
Luka yang Siddarth derita cukup dalam, jika tidak diobati dengan baik akan merugikan Siddarth dan Astapura.
Siddarth menuruti perintah Bansheer, namun menolak saat Bansheer menawarkan agar menunggang kuda yang sama dengan dirinya.
"Sekalipun aku kehilangan sebelah tanganku, aku akan tetap menunggang kudaku sendiri" ujaf Siddarth tegas.
Siddarth membasuh lukanya dengan air minum dari kendi yang di simpan di pelana kudanya.
Dia mengenakan jubah tambahan untuk menutupi bagian terbuka di punggungnya. Setelah itu mereka bergerak meninggalkan kerajaan Pancalu setelah menancapkan bendera Astapura di beberapa tempat di Pancalu, bertanda bahwa Pancalu telah dikuasi Astapura.
__ADS_1
Kerajaan selanjutnya akan jauh lebih berat dari kerajaan yang mereka hadapi sekarang. Mereka harus menyusun rencana agar tidak gegabah.
...----------------...