
Saksenya tak mampu berkata-kata saat Anjali bersimpuh di kakinya. Gadis itu memohon ampun saat memberitahukan Gayatri menghilang.
Saksenya mengepalkan tinjunya kesal. Kenapa Gayatri begitu keras kepala, apa yang ada di otaknya sampai dia begitu terburu-buru.
Saksenya tak ingin menghabiskan waktu di tempat itu, dipacunya kuda mengikuti nalurinya. Anjali pun turut serta, sedangkan sebagian pasukan membawa kereta kuda ke desa terdekat.
Rombongan mereka terbagi. Saksenya, Anjali beserta 2 prajuritnya mencari Gayatri sedangkan sisanya menuju desa.
Sementara itu, Raksasa Merah mulai mengobrak-abrik seisi Wilisgiri. Kaki dan Gada raksasanya menggetarkan bumi serta isinya. Raksasa itu mengamuk, menyumpahi Bansheer dan segala keturunannya.
Niskala seketika berubah kelabu. Semua orang berbondong-bondong meninggalkan Dwipajaya.
Ankush yang khawatir melihat Bansheer, lelaki itu dengan angkuhnya mengasah belati, menyiapkan busur, dan panah yang telah dilumuri racun katak.
"Tuan, tinggalkan tempat ini," pinta Ankush.
Bansheer menatap Ankush jijik, baginya Ankush tak lebih dari pengecut.
__ADS_1
"Bertahun-tahun aku hanya menjadi anjing bagi peperangan di tanah Hindustan. Hanya demi Narendra dan turunannya," kata Bansheer.
"Tahta ini sudah lama kurindukan. Jika Astapura dan seisinya tidak mengizinkan turunan sudra ini menjadi pemimpin. Maka tanah bangsa lainlah yang akan dipimpin," ujar Bansheer.
"Tuan, hanya orang bodoh yang membiarkan dirinya menemui ajal padahal dia tahu lawannya lebih kuat. Raksasa itu bukan tandingan kita, jika tuan tetap bersikeras tahta ini akan jatuh ke tangan orang lain," tegas Ankush.
Bugh! Bansheer menendang perut Ankush hingga pria bertubuh gempal itu mundur beberapa langkah.
"Pergilah! aku tidak mau melihat wajah pengecutmu!," hardik Bansheer.
Ankush menyingkir dari hadapan Bansheer. Dia melihat sekeliling istana, prajurit sedang berjaga. Ankush mengambil kuda peliharaannya dan menyingkir ke dataran tinggi.
Perasaannya menjadi tak karuan, bau anyir darah dan memori kematian keluarganya berputar di kepalanya. Entah mengapa Gayatri seolah merasakan tiap detik kematian itu.
Gayatri tersadar, tampat dimana dirinya berada… wilayah perbatasan Wilisgiri dan desa. Perlahan bumi tempatnya berdiri mulai bergetar.
Gayatri tersadar, mantra yang dipasang di perbatasan hutan itu telah runtuh. Patih Mahesa dan Guru Drona telah meninggal. Barrier itu tentu tak berfungsi. Terlebih lagi, Raksasa merah tak mampu membedakan kawan dan lawan. Dia akan menghancurkan segala yang menghalanginya.
__ADS_1
Gayatri baru akan memacu kudanya, saat sebuah panah ditembakkan kuda yang ditungganginya kaget. Gayatri kesulitan mengendalikan tali kekangnya.
Saksenya san rombongan mendekat ke arah Gayatri. Belum pernah Gayatri lihat wajah murka Saksenya. Rahang lelaki itu mengeras, seolah ada sesuatu yang ditahan.
"Jangan halangi aku," ujar Gayatri membela diri.
Gayatri menolak tatapan menusuk Saksenya.
"Tidak ada yang menghalangimu. Jangan bersikap keras kepala, pastikan dirimu aman sebelum menghancurkan lawan," gertak Saksenya.
"Tuan, hentikan perdebatan ini. Waktu kita tidak banyak," kata Anjali khawatir.
Mereka berlima dengan cepat bergerak ke arah kerajaan Dwipajaya. Sepanjang jalan Gayatri mendengar amukan dan lolongan anjing. Amukan itu terdengar seperti gajah yang berontak.
Saksenya melihat wajah cemas Gayatri. Dia ingin sekali menenangkan wanita itu tetapi berusaha menahan diri. Saksenya telah berjanji membantu Gayatri merebut Dwipajaya, yang bisa dia lakukan adalah terus berada di samping gadis itu dan memastikan keselamatannya.
Teringat akan pesan ibunya untuk membawa Gayatri selamat kembali ke kerajaan Subala.
__ADS_1
"Ibu kami akan kembali dalam keadaan selamat," janji Saksenya.
...----------------...