Hidup Kelam Faysa

Hidup Kelam Faysa
bab 98


__ADS_3

Faysa langsung terbangun begitu mendengar deruan mobil yang sedang berhenti. Ia bangkit dari sofa untuk membukakan pintu untuk suaminya.


" Mas, pulang sekali malamnya?" tanya Faysa khawatir.


" Aku banyak kerjaan. Kenapa belum tidur?" tanya Rosan sambil berjalan kearah kamarnya.


" Aku nungguin kamu mas apalagi dari tadi pagi kamu tidak menjawab panggilan telfonku. Aku jadi khawatir mas."


" Seperti yang kamu lihat kalau aku baik-baik saja. Dari tadi aku sibuk, lagi pula sekalipun aku angkat paling juga bukan hal yang penting."


" Maaf mas kalau telefon dariku menganggu pekerjaan mas Rosan. Ya sudah aku siapkan air hangat dulu untuk mandi."


" Oh ya besok pagi kamu diminta ibu kerumah buat bantuin acara arisan temen-temennya ibu."


" Iya mas aku akan kesana."


Pagi harinya Faysa sudah bersiap-siap untuk pergi kerumah ibu mertuanya. Faysa dan Rosan sudah berada didalam mobil.


" Mas bagaimana kalau ibu tanya tentang kehamilanku?" tanya Faysa cemas.


" Ya tinggal bilang saja kalau belum, memang kenyataannya seperti itu."


Tak lama mobil yang dikendarai Rosan sudah berada didepan rumah orang tuanya.


Faysa mencium tangan Rosan kemudian turun dari mobil.


" Kamu tidak turun dulu mas?"


" Bilang ke ibu kalau aku ada meeting pagi," jawab Rosan dan segera menjalankan mobilnya.


Faysa masuk kedalam setelah dibukakan pintu oleh seorang pelayan. Ia menuju dapur dan melihat ibu mertuanya sedang menata kue diatas piring.


" Assalamualaikum bu," sapa Faysa lalu mencium tangan ibunya.

__ADS_1


" Rosan mana?"


" Mas Rosan nggak ikut bu karna harus memimpin rapat pagi ini."


" Gimana, sudah ada tanda-tandanya belum?"


" Belum bu, maaf ya bu."


" Jangan minta maaf, ibu hanya kasihan saja pada Rosan karna belum memiliki anak. Kamu tahu sendiri kalau umur Rosan sudah menginjak 35 tahun."


" Iya bu, saya dan mas Rosan akan terus berusaha dan berdoa."


" Ya sudah, tolong kamu susunin kue-kue ini keatas piring. Sebentar lagi temen-temen ibu pada datang."


Faysa segera menata kue dan aneka jajanan lainnya kedalam piring. Setelah selesai, is segera menatanya diatas meja besar yang berada diruang tengah.


Tak lama rekan-rekan arisan ibu mertuanya pun berdatangan. Faysa tak ikut menyambut dan lebih memilih membantu memasak untuk jamuan makan siang untuk para tamu ibunya.


" Non Faysa dipanggil sama nyonya, disuruh kedepan."


Faysa berjalan menuju ruang tengah untuk menghampiri ibunya.


" Ada apa bu?" tanya Faysa yang sudah duduk disebelah Yuli.


" Oh...ibu-ibu semua, perkenalkan ini menantu saya namanya Faysa. Mungkin ibu-ibu semua belum tahu karna dulu resepsinya sederhana jadi tidak mengundang banyak orang."


Salah satu rekan arisan Yuli memperhatikan wanita yang dikenalkan Yuli sebagai menantunya. Dirinya langsung kaget melihat wajah wanita tersebut.


" Jeng Yuli, dia menantu kamu? Kamu yakin? tanyanya tak percaya.


Faysa pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang sedang bertanya pada ibu mertuanya. Faysa pun ikut kaget melihat wajah ibu itu.


" Iya Jeng Ratna, dia mantu saya. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


" Emang jeng Yuli nggak tahu perempuan ini siapa?"


" Tahu, dia dulu karyawan anak saya dikantor."


" Jeng Yuli dia ini mantan napi! Dia adalah tetangga saya saat saya masih tinggal di kampung rawang."


Penjelasan dari Ratna jelas mengagetkan semua orang hingga mereka semua menatap Faysa dengan penuh tanda tanya. Sementara Faysa sendiri badannya gemetar karna takut.


" Jeng Ratna kamu jangan menyebar fitnah ya! Wanita pilihan anak saya itu wanita baik-baik."


" Saya tidak menuduh jeng Yuli, dulu dia dipenjara karena berusaha membunuh teman kuliahnya yang seorang anak konglomerat."


Yuli menatap Faysa yang menundukkan kepalanya.


" Apa benar yang dikatakan jeng Ratna Faysa?"


Faysa hanya diam menunduk sambil menetaskan air mata karna bingung harus bagaimana.


" Faysa jawab pertanyaan ibu, kamu jangan diam saja!"


" Pasti dia takut untuk mengakuinya jeng," sahut Ratna.


Yuli mengangkat dagu Faysa dan menatapnya dalam.


" Jawab pertanyaan ibu Faysa!"


Dengan berat hati, Faysa menganggukkan kepalanya. Sungguh ia tak bermaksud membohongi suami beserta keluarganya. Ia hanya ingin menutup aib dan masa lalunya yang kelam.


Jawaban dari Faysa tentu saja membuat Yuli shok. Seketika jantungnya terasa nyeri dan dirinya mulai ambruk.


" Buk, bangun ibu. Jangan buat kami panik bu."


Dalam keadaan panik, Faysa langsung membawa ibu mertuanya kerumah sakit dengan diantar pak Yoto yang merupakan supir pribadi mertuanya.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2