
Dokter Nisa mengoleskan salep pada setiap luka ditubuh Faysa dengan sangat hati-hati. Dia begitu iba melihat Faysa yang sering mengalami kekerasan fisik sedang tak ada bantuan dan keadilan yang Faysa dapatkan.
Perlahan Faysa membuka matanya lalu berusaha bangun tapi sakit diarea dada dan perutnya membuatnya ambruk lagi.
" Auww..."rintih Faysa yang mengagetkan dokter Nisa.
" Faysa kamu sudah sadar? Kamu baringan saja dulu, jangan memaksakan diri."
Faysa pun menurut dan kembali membaringkan tubuhnya.
" Gimana keadaan kamu Faysa?"
" Saya cuma ngrasa nyeri aja dok."
" Ya sudah kamu istirahat dulu, saya mau chek kesehatan para napi."
Faysa pun hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali memejamkan matanya.
****
Sintia dan Toni hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpa putra mereka. Gathan masih belum bangun dari komanya yang sudah hampir 4 bulan.
Dengan telaten, Sintia selalu mengunjungi Gathan setiap hari dan mengajak Gathan berbicara meski Gathan hanya tertidur.
Ardi dan Vicky juga terkadang menjenguk Gathan karna kini mereka berdua madih sibuk dengan skripsi mereka.
Dikantornya, Toni tengah duduk berhadapan dengan Jimmy dimeja kerjanya.
" Bagaimana kabar gadis napi itu Jim?"
__ADS_1
" Sesuai yang anda harapkan bos. Saya baru saja mendapat kabar dari orang bayaran kita didalam yang mengatakan kalau gadis itu hampir tersiksa setiap hari. Bisa dibilang kalau gadis itu hanya seperti mayat hidup."
" Ya aku sangat suka dengan kinerjamu Jim. Dia harus tahu bahwa dia akan membayar mahal karna sudah berani bermain-main dengan keluarga Alyariz."
" Betul Tuan, lalu bagaimana kondisi tuan muda Gathan?"
" Dia masih koma padahal aku sudah mendatangkan dokter terbaik untuk Gathan," jawab Toni dengan lesu.
" Yang penting kita tetap berusaha untuk kesembuhan tuan muda. Oh ya Tuan, saya hanya mengingatkan tentang kunjungan ke Singapur minggu depan."
" Ya kau atur saja semuanya dan pastikan semua keamanan keluargaku saat kita diluar."
" Tenang saja Tuan, semua sudah saya serahkan pada Alan."
Jimmy pun pamit undur diri setelah pembicaraannya selesai.
****
Para petugas sipir tampak mondar- mandir mengawasi para napi. Faysa dan Asri terlihat sedang membersihkan selokan dari sampah dedaunan yang terlihat menumpuk dan menyumbat jalannya air.
Faysa nampak semangat melakukan pekerjaannya walau tubuhnya kini terlihat lebih kurus dan sedikit layu.
" Udah Fay kita istirahat dulu aja, itu sampahnya juga tinggal dikit," kata Asri sambil mendudukkan dirinya diatas rumput.
" Iya Mbak, aku ambil minuman dulu ya!" teriak Faysa lalu pergi kekantin untuk mengambil air putih dua gelas.
Tak lama Faysa pun kembali dengan membawa dua gelas minuman.
" Ini Mbak minum dulu."
__ADS_1
" Makasih Fay," ucap Asri lalu meneguk minumannya sampai habis.
Faysa mendudukkan dirinya disebelah Asri sambil mengipasi tubuhnya yang terasa gerah.
" Eh Fay kira-kira apa rencana kamu setelah keluar dari sini?"
" Ehmm pengennya sih nerusin kuliah Mbak lalu kerja sesuai jurusan aku. Tapi itu cuma ada dalam khayalan aku aja karna nggak mungkin pihak kampus mau nerima aku lagi. Yah yang penting aku ingin membahagiakan ibuku karna dia cuma satu-satunya yang aku punya."
" Iya Fay, orang seperti kita pasti akan dipandang sebelah mata dimasyarskat. Yang penting kita selalu berusaha yang terbaik dan tidak perlu mendengarkan omongan orang lain."
" Iya Mbak, lagian aku juga masih lama terpenjara disini dan entah sampai kapan Vera dan anak buahnya akan menyiksaku," ucap Faysa dengan sedih.
Asri langsung memeluk Faysa yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Asri membelai punggung Faysa yang mulai bergetar.
" Maafin aku Fay karna sebagai teman aku nggak bisa melindungi kamu dari kejahatan Vera geng."
bersambung.....
Ayo terus dukung cerita ini dengan memberi
@like
@komentar
@vote
@rate bintang 5
@favorit
__ADS_1
@hadiahnya
Terima kasih semuanya.....