
Rosan duduk diatas ranjangnya sambil memijat kakinya yang terasa pegal.
" Kenapa Mas kakinya?"
" Tadi nggak sengaja terkilir, tapi nggak parah kok."
" Kenapa Mas nggak ngomong aku! Sini biar aku pijit." Faysa menarik pelan kaki Rosan lalu memijatnya.
" Auww pelan saja sayang, jangan terlalu keras," rintih Rosan.
" Ini pelan Mas, kamu tahan dikit."
Faysa kembali melanjutkan memijat kaki Rosan hingga tanpa sengaja tangannya menyenggol sesuatu diantara kedua paha Rosan.
" Mmaaf Mas, aku tidak sengaja."
" Tidak perlu sungkan sayang, ini kan juga milik kamu. Oh ya aku baru inget bukannya tadi pagi kamu berjanji ingin menciumku."
Faysa tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Rosan mengangkat dagu Faysa dan memperhatikan wajah cantik istrinya.
Perlahan Rosan mendekatkan bibirnya dan ******* bibir manis istrinya. Faysa yang terkejut hanya diam dan membiarkannya karna bagaimana pun Rosan adalah suaminya.
Cukup lama Rosan memainkan bibir istrinya hingga ia melepaskannya untuk memberikan kesempatan pada Faysa untuk menghirup udara.
" Faysa boleh? Aku sudah tidak tahan."
Faysa menganggukkan kepalanya dan Rosan mulai menguasai tubuhnya.
Malam itu dilalui Faysa dan Rosan bermesraan dikamar mereka setelah menikah.
__ADS_1
" Makasih ya sayang, ayo kita tidur pasti kamu capek," ucap Rosan sambil menyeka keringat istrinya.
" Iya Mas, kaki kamu masih sakit?"
" Tidak sayang karna kamu sudah memberikan obat yang luar biasa enak seperti ini," ucap Rosan sambil mengelus milik Faysa yang masih basah.
" Sudah Mas, kita tidur."
****
Gathan membuka kembali matanya yang susah sekali untuk dipejamkan.
" Kenapa rasanya gue nggak tenang? Sakit banget rasanya."
Gathan menoleh kesamping melihat Windy yang memaksa tidur dengannya. Ia bangkit dari ranjangnya lalu meneguk air putih yang ia simpan diatas meja.
" Aku nggak bisa tidur."
" Kenapa? Apa mau kupeluk agar tidur kamu nyenyak?"
" Justru aku tidak bisa tidur karna ada kamu disebelahku. Pindahlah atau kamu akan melihatku terjaga sampai pagi."
" Sayang, kamu bilang mencintaiku tapi kenapa bicaramu ketus begitu?"
" Aku tidak ketus, memang dari dulu aku begini!"
" Kamu bohong! Kamu tidak tertarik padaku!"
" Sudahlah Win, kita bisa bermesraan kalau kita sudah menikah. Kalau perlu aku akan meniduri kamu hingga pagi."
__ADS_1
" Iya sayang, aku hanya ingin kamu bersikap lebih manis padaku. Kalau kamu sudah tidak tahan, aku siap melayani kamu siang. Ahh aku sudah tidak sabar menunggu hari dimana kita bersanding dipelaminan."
" Ya sudah keluarlah, aku ingin tidur!"
" Oke tapi setelah kamu menciumku. Aku ingin bukti cinta dari kamu."
Cup
Dengan cepat Gathan mencium pipi Windy lalu bergegas masuk kamar mandi. Gathan mencuci mulutnya seperti tak rela ada bekas perempuan lain menempel dibibirnya.
Gathan merasa lega ketika keluar ia sudah tak melihat Windy dikamarnya. Sementara Windy dengan senang hati berkeliling di rumah Gathan yang seperti istana.
" Ahh senangnya sebentar lagi aku akan jadi nona dirumah ini. Kamu sangat menjengkelkan Gathan sayang, jangan salahkan aku bila suatu hari nanti aku menyingkirkan kamu dari hidupku kalau kamu terus mengabaikan dan merendahkan aku."
****
Rosan bangun dan melihat istrinya yang masih tertidur dengan tubuh polosnya. Karena tak ingin menganggu kenyamanan istrinya, Rosan pun bangkit untuk membersihkan diri.
Rosan menuju meja makan dan tampak ibunya yang sudah menunggu untuk sarapan bersama.
" Loh Faysa mana, kok kamu turun sendiri nak?"
" Faysa masih tidur Bu, sepertinya dia kecapean."
" Wah ibu jadi semakin tidak sabar menunggu kehadiran cucu dari kamu. Kamu tahu sendiri kalau kakak kamu memilih tinggal dipulau seberang, ibu kan jadi tidak bisa dekat dengan cucu."
" Iya bu, doakan saja supaya Faysa cepat mengandung anak Rosan."
bersambung....
__ADS_1