Hidup Kelam Faysa

Hidup Kelam Faysa
bab 56


__ADS_3

Dengan langkah tertatih, Faysa berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Faysa menatap wajahnya dicermin yang terkena ****** ***** mantan suaminya itu.


Faysa menyalakan shower dan mulai membasahi tubuhnya dengan guyuran air. Beberapa bagian tubuhnya terasa perih saat terkena air akibat luka gigitan Gathan saat menciumi tubuhnya dengan kasar.


Setelah selesai Faysa membereskan ranjang pasien yang terlihat berantakan.


" Auww," jerit Faysa pelan saat daerah intinya terasa nyeri.


Faysa pun duduk perlahan sambil menatap kosong kearah luar jendela.


Ibu, hidupku benar-benar hancur. Andai saja kedua anakku masih hidup pasti merekalah yang akan jadi penyemangat hidupku saat ini bu. Semoga saja setelah ini, aku bisa hidup bahagia dan lepas dari bayang-bayang Kak Gathan. Aku nggak tahu apakah aku mencintai atau membencinya.


Ceklek


Lamuanan Faysa langsung buyar ketika Alan dan dua orang petugas sipir datang menemuinya.


" Nona Faysa, apa anda sudah siap?" tanya Alan.


" Iya Tuan, saya sudah siap." Faysa pun berdiri sambil membawa tas besarnya.


" Biar saya bawakan Nona," ucap Alan sambil merebut tas yang dibawa Faysa.


Faysa pun tersenyum lalu melanjutkan langkahnya. Alan yang berjalan dibelakang Faysa pun merasa heran karena melihat cara berjalan Faysa yang tidak biasa.


Alan mensejajarkan langkahnya lalu menghentikan langkah Faysa.


" Apa Nona Faysa sakit? Sepertinya anda tidak baik-baik saja."


" Sa...saya baik- baik saja Tuan Alan. Mungkin ini efek dari melahirkan kemarin," jawab Faysa gugup.

__ADS_1


" Kalau begitu Nona tunggu disini sebentar, saya akan mengambil kursi roda dulu."


" Tidak usah Tuan, saya bisa jalan kok." Cegah Faysa.


" Sebaiknya Nona tunggu disini dulu sebentar. Saya akan mengambil kursi roda demi kebaikan Nona."


Alan pun memanggil suster untuk membawakan kursi roda untuk Faysa. Tak lama, seorang suster pun datang dengan membawa kursi roda.


" Silahkan Nona."


" Terima kasih Tuan Alan," ucap Faysa lalu duduk dikursi roda.


" Itu sudah bagian dari tugas saya Nona."


Alan pun mendorong kursi roda Faysa hingga diparkiran.


Alan menaiki mobilnya bersama Faysa sedangkan dua orang petugas sipir mengikuti dari belakang.


" Hallo, ada apa ya Pak?"


Seseorang diseberang telfon pun memberikan jawaban yang mampu membuat Alan terkejut hingga ia mengerem mobilnya secara mendadak.


Cittt...


Dukkk


Faysa memegangi keningnya yang terbentur dashboard hingga sedikit lecet.


" Maafkan kan saya Nona," ucap Alan yang merasa bersalah.

__ADS_1


Alan pun buru- buru mengambil tisu untuk mengelap darah didahi Faysa.


"Ini Nona, sekali lagi maafkan saya. Saya tidak sengaja."


" Tidak apa Tuan. Memang apa yang terjadi hingga membuat Tuan kaget?"


Alan hanya diam karna merasa tak sanggup memberitahukan berita yang baru saja diterimanya.


" Tidak perlu dijawab Tuan. Maaf kalau saya ingin sok tahu," ucap Faysa karna melihat Alan hanya diam.


" Sebelumnya saya minta maaf kalau apa yang saya sampaikan ini akan membuat Nona Faysa sedih."


" Katakan saja Tuan, saya sudah terbiasa dengan kesedihan."


" Baiklah Nona, baru saja saya mendapat kabar kalau Ibu Nona baru saja meninggal."


Duarrrr


Faysa begitu terkejut mendengar hal yang disampaikan Alan.


" I...ibu saya meninggal Tuan?"


Alan menganggukkan kepalanya untuk menyakinkan Faysa.


" Hiks...hiks...hiks." Faysa menangis tersedu- sedu karna tak sanggup kehilangan orang yang paling dicintai dalam hidupnya itu.


Perlahan Alan menjalankan mobilnya kembali menuju rumah Faysa. Begitu sampai disana, rumah Faysa sudah dipasang tenda dan begitu banyak tetangga yang berkerumun di rumah Faysa.


Faysa langsung turun dari mobil dan berlari menuju pintu masuk. Sesekali ia menyeka air matanya yang berjatuhan dipipi. Bahkan ia tak mempedulikan rasa sakit didaerah intinya karena berlari.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2