
Faysa berjalan menuju pantry dengan pandangan kosong. Sungguh ia menyesal dengan apa yang terjadi tadi malam antara dirinya dengan Gathan.
Dia merasa bodoh karna tak bisa menjaga diri dan tak mampu menolak godaan Gathan hingga membuatnya terlena.
" Faysa kamu dipanggil pak Rosan," ucap seorang rekan kerja Faysa.
" Ahh iya, aku akan segera kesana."
Faysa merasa bingung apa yang harus dia katakan jika Rosan menagih jawaban darinya.
Ceklek
" Permisi Pak."
" Duduk disini Faysa," ucap Rosan sambil menepuk kursi disebelahnya.
" Ada yang Bapak perlukan?"
" Jangan formal Faysa disini hanya ada kita berdua. Bagaimana kamu sudah memikirkan jawabannya?"
Faysa menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya keudara.
" Sebelum aku jawab pertanyaan kamu, ada hal yang harus mas ketahui tentang aku."
" Memang apa Faysa? Aku mencintai kamu jadi aku siap dengan segala keadaan kamu."
__ADS_1
" Sebenarnya aku ini sudah janda mas dan saat ini aku sudah punya dua orang anak."
Ucapan Faysa barusan tentu saja membuat Rosan kaget.
" Maksudnya kamu sudah pernah menikah? Lalu kenapa sekarang kamu hidup sendiri?"
Pertanyaan Rosan membuat air mata Faysa langsung keluar dari mata indahnya.
" Jangan nangis Faysa, kamu nggak perlu menceritakannya sekarang kalau kamu nggak sanggup. Aku akan selalu berusaha menjaga kamu dari siapa pun."
" Apa kamu yakin Mas memilih aku?"
" Aku yakin dan aku akan segera mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan orang tuaku karna aku ingin segera meresmikan hubungan kita."
" Maaf Mas kalau untuk hubungan terlalu jauh aku belum siap. Aku ingin kita menjalani hubungan ini pelan-pelan untuk lebih saling mengenal."
****
Di kantornya tampak Gathan dibuat pusing karna ia harus pergi keluar kota beberapa hari untuk meninjau proyek secara langsung.
" Kenapa harus aku langsung yang kesana Lan? Kamu kan bisa mewakiliku," keluh Gathan.
" Maaf Tuan muda, tapi pihak klien menginginkan anda turun secara langsung meninjau lapangan. Ini proyek besar jadi saya harap Tuan muda tidak mengecewakannya.
Bukannya tidak mau, tapi Gathan berat karna hubungannya dengan Faysa yang baru saja menghangat.
__ADS_1
" Baiklah Lan, siapkan keberangkatanku besok. Sekarang keluarlah aku ingin sendiri."
Gathan mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa tak rela jika harus berpisah dengan Faysa walau hanya sebentar. Tapi ini pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan.
Gathan ingat semalam bagaimana Faysa akhirnya pasrah saat ia melakukan penyatuan. Suara ******* Faysa yang pelan mampu membakar gairah Gathan yang sekian lama terkubur.
Besoknya Gathan sudah siap berangkat dengan membawa satu koper kecil berisi pakaiannya.
Gafa dan Dini tampak tak rela dengan kepergian papa mereka kali ini walau sebelumnya Gathan juga sering bepergian untuk urusan pekerjaan.
"Pokoknya kalau udah selesai, papa harus langsung pulang ya ," rengek Dini.
" Iya, papa nggak mungkin ninggalin kalian lama-lama. Gafa selama papa pergi, jaga saudara kembar kamu ini."
" Siap pah, papah hati-hati ya!"
" Iya....Dek, Kakak titip mereka ya jangan ditinggal pacaran melulu!"
" Iya Kak, orang aku juga udah putus."
" Hah cepet banget? Ya udah Kakak berangkat yah."
Gathan pun pergi setelah memeluk kedua anaknya,tak lupa sebuah kecupan dipipi mereka masing- masing.
Dalam perjalanan, Gathan meminta supir untuk melewati kos Faysa. Tapi Gathan tidak mampir, ia hanya memandangnya dari dalam mobil.
__ADS_1
Faysa, aku pergi dulu ya. Maaf aku nggak pamit karna aku takut nggak sanggup pisah jika harus pamit.
bersambung....