Hidup Kelam Faysa

Hidup Kelam Faysa
bab 43


__ADS_3

" Apa kamu bilang Lan? Faysa hamil?" teriak Gathan terkejut mendengar berita kehamilan Faysa.


" Iya Tuan muda, maaf kalau saya terlambat mengetahuinya karna pekerjaan saya yang terlalu banyak akhir- akhir ini."


" Lalu sudah berapa bulan usia kandungannya Faysa?"


" Sudah lima bulan Tuan muda."


" Ya ampun Lan, bagaimana bisa informasi sepenting ini kamu bisa kecolongan. Ini menyangkut calon bayiku Lan!"


" Sekali lagi saya minta maaf Tuan. Saya berjanji akan menjaga nona Faysa dari jauh."


" Kirimkan dokter kandungan terbaik untuk Faysa Lan dan berikan semua yang Faysa butuhkan. Aku tidak ingin anakku kekurangan sesuatu apapun selama dia masih diperut."


" Iya Tuan muda, akan saya laksanakan perintah anda."


Gathan menutup telfonnya dengan wajah gusar. Dia tak menyangka keinginannya untuk membuat Faysa hamil tercapai juga. Pikiran Gathan kini menjadi tak tenang membayangkan anaknya yang berada dirahim Faysa harus berada dilingkungan penjara.


Gathan segera meraih ponselnya kembali lalu menelfon Raka.


" Halo bos, apa ada yang bisa saya bantu?"


" Siapkan tiket kepulanganku ke Indonesia. Aku akan pulang sekarang juga."


" Tapi bos...?"


" Jangan membantah atau kuturunkan posisimu sekarang menjadi OB!"


Gathan segera mematikan telfonnya lalu mengambil tas besarnya. Dia memasukkan beberapa baju dan keperluan pribadinya kedalam tas.


Tiga puluh menit kemudian, Gathan sudah mendapatkan tiketnya. Dia segera menuju bandara dengan diantar sopir.


Gathan sudah sampai di apartemen yang dulu dipakainya saat bersama Faysa. Dia sengaja tidak pulang ke rumah karna tak ingin diketahuinya keluargannya.

__ADS_1


Gathan kembali menghubungi Alan dan memintanya untuk segera membawa Faysa ke apartemennya.


****


Faysa merasa kaget saat Alan menjemputnya untuk menemui Gathan.


" Maksud Tuan Alan, Kak Gathan sudah pulang kesini dan ingin bertemu dengan saya?"


" Benar nona Faysa, sebaiknya anda bersiap dan saya akan menunggu di tempat biasa.


Faysa tersenyum tipis sambil mengusap perut dengan kedua tangannya.


" Sayang, bunda punya kabar baik buat kalian. Hari ini ayah ingin bertemu dengan kalian. Kalian juga senang kan bertemu dengan ayah?" ucap Faysa sambil memandangi perutnya.


Setelah bersiap, akhirnya Faysa diantar Alan menuju apartemen.


" Apa ada yang ingin anda beli nona?"


Tak terasa mereka sudah sampai. Alan membuka pintu lalu mempersilahkan Faysa duduk. Alan juga menyajikan jus mangga dan camilan biskuit untuk Faysa.


" Silahkan diminum nona. Tuan muda sedang mandi jadi nona bisa menunggunya disini ."


" Terima kasih tuan Alan."


" Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Alan lalu pergi keluar.


Faysa meminum jus mangga yang ada dihadapannya sampai habis. Faysa begitu menikmatinya sampai ia tak sadar jika dirinya tengah dipandangi seseorang.


" Loe haus banget yah?" ucap Gathan sambil bersandar dipintu.


Faysa menolehkan kepalanya dan mendapati Gathan tengah menatap dirinya.


" Kak Gathan," panggil Faysa dengan lirih.

__ADS_1


Gathan yang hanya menggunakan handuk yang melilit dipingganggnya pun berjalan mendekati Faysa. Faysa tanpa sadar pun berdiri dan memamerkan perutnya yang sudah terlihat buncit.


" Loe hamil?" tanya Gathan sambil mengusap perut Faysa.


Ada getaran aneh yang Gathan rasakan saat dia menyentuh perut Faysa. Sebuah kehangatan dan perasaan gembira pun menyelimuti hati Gathan.


" Iya Kak, saya pikir Kakak tidak mau bertemu dengan saya lagi.Mereka pasti senang karna Kakak menyentuhnya."


" Gue pengen nengok anak gue sekarang juga," ucap Gathan tanpa basa- basi.


" Nggak bisa Kak, mereka kan belum lahir."


Tanpa berkata lagi, Gathan menarik Faysa dan memeluk pinggangnya. Mereka saling berpandangan hingga tangan Gathan telah berhasil melepaskan daster Faysa.


" Kak, apa yang Kakak lakukan?" ucap Faysa kaget karna kini dirinya telah telanjang dan hanya menyisakan **********.


Gathan segera menyambar bibir Faysa tanpa berniat menjawab pertanyaan Faysa. Faysa yang juga merasakan rindu pada Suaminya itu pun hanya bisa memasrahkan dirinya.


Entah bagaimana, kini Faysa sudah terlentang diatas sofa besar dengan Gathan yang berada diatasnya. Faysa hanya bisa merintih saat Gathan mulai menikmati kedua dadanya bergantian.


" Fay, gue mau masukin. Gue udah nggak tahan?" ucap Gathan dengan parau.


" Pelan- pelan ya Kak biar anak kita nggak keguncang," ucap Faysa sambil membelai pipi Gathan.


Gathan mulai memasukkan miliknya yang sudah cukup lama berpuasa itu. Walaupun sudah beberapa kali berhubungan badan dengan Faysa tapi tetap saja milik Faysa itu terasa sempit.


Gathan mulai menggerakkan pinggangnya naik turun.


" Kak....aahhh," desah Faysa agak tertahan.


Gathan tersenyum melihat Wajah bergairah Faysa lalu kembali menenggelamkan wajahnya dileher jenjang Faysa.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2